Menjadi Istri Simpanan Pria Dewasa

Menjadi Istri Simpanan Pria Dewasa
BAB. 10 Pergi


__ADS_3

Bab 10. Pergi


Ana, anak keduanya bahkan mulai ikut menangis ketika melihat sang Mami dalam kondisi yang menyedihkan seperti itu.


Di sisi yang lain Bryan kembali menyentuh Maminya dan berharap Maminya menjawab pertanyaannya yang sejak tadi tak mendapat jawaban. Bryan sedikit mengerutkan dahinya, anak laki - laki itu mulai menaruh curiga melihat bahwa sang Mami sedang mencoba mengalihkan pertanyaan.


Berulang kali sang mami menangis sesenggukan walau wajahnya terlihat sangat menyedihkan tetapi di mata anak laki - laki itu, maminya terlihat sedang bersandiwara.


" Mi, apa yang terjadi dengan Kak Queen ? Mami tidak melakukan apa yang pernah Bryan dengar kemarin kan ? " tanya Bryan mulai tak sabar.


" Mami, tolong jawab ! Jangan hanya menangis ! Bryan khawatir Kak Queen knapa - napa. Mi ! "


" Mami, jawab Bryan ! " suara Bryan semakin menuntut sang Mami untuk segera menjawab pertanyaannya. Bahkan tangan anak lelaki itu berulang kali menggoyangkan lengan sang Mami.


Ana yang juga duduk di sebelahnya juga ikut mengguncang bahu sang mami yang masih asyik dengan pikirannya.


" Mi, apa Mami menjual Kak Queen ? " Sebuah pertanyaan keluar dari mulut anak lelakinya.


Ya, beberapa hari lalu, saat pulang dari sekolah, Bryan mendengar Maminya menerima panggilan dari ponselnya. Maminya sedang berbicara dengan seorang pria dan dirinya mendengar dengan jelas harga yang di tawarkan.


Bryan pikir waktu itu, tidak mungkin seorang ibu akan tega dengan anaknya, apalagi Kakaknya, Queenza adalah seorang gadis yang mau bekerja keras. Kakaknya sudah mau membantu Maminya mencari nafkah setelah papinya meninggal, daripada nongkrong dengan teman sebaya di cafe. Dan Bryan sangat menyayangi kakaknya.


Suasana hening sejenak dengan ucapan Bryan yang seakan menggema di ruangan.


Deg.

__ADS_1


Hati Larasati berdegub keras. Bryan anak bungsunya mendengar pembicaraannya kemarin. Dan Ana menanyakan hal yang sama kepadanya secara langsung.


" Mam, dengar Ana kan ? Mengapa Mami tidak jawab pertanyaan Bryan dan Ana ? Apa yang Mami sembunyikan ? Mami tidak menjual Kak Queen kan ? Mami ! " seru Ana sekali lagi dengan suara sedikit lebih keras. Terkesan membentak malah.


Gadis remaja itu menyorot maminya dengan tatapan menuntut, " Mami kalau masih diam, Ana anggap bahwa Mami benar sudah menjual Kak Queen, jadi ... . "


" Oh, tidak ... tidak. Mami gak jual kakakmu, " gumam Larasati cepat ketika pikirannya mengingat sesuatu. Bibirnya berkedut tetapi rasa enggan menjelaskan terlihat dari raut wajahnya yang terus mencoba mengalihkan pertanyaan.


" Tidak mungkin juga memberitahu anak - anak tentang Quennza. Apa tanggapan anak - anak jika mereka tahu apa yang terjadi ? Bisa jadi mereka akan membencinya seumur hidup. Akh, dasar anak - anak, gak tahu apa jika gak punya uang itu sangat menyusahkan. Dan aku tidak mau menjadi mlarat, apapun akan ku lakukan untuk mendapatkan uang. Jika harus dengan anak - anak, it's okey. Bukan masalah bagiku, " pikir Larasati dalam diam.


" Bryan. Ana makanlah terlebih dahulu ! Mami sudah masak kesukaan kalian, setelahnya nanti Mami akan ceritakan kalian tentang sesuatu hal, " Larasati mencoba menawar, membuat pilihan dengan mengalihkan pertanyaan kepada suatu hal yang mungkin akan membuat kedua anaknya lupa meminta jawaban kepadanya.


Ana dan Bryan hanya mengangkat bahunya tak suka, terlihat jelas sang mami enggan memberi tahu apa yang sudah terjadi hingga rumah menjadi berantakan dan sang mami dalam keadaan berantakan dengan mata sembab yang membuat maminya terlihat sangat menyedihkan.


Ana dan Bryan tak juga beranjak dari sisi ranjang hingga tiba - tiba wanita cantik itu langsung melompat dari atas tempat tidur dan segera menarik koper dari atas lemari dan memasukkan barang - barang pentingnya, beberapa perhiasan yang tersisa dalam kotak kayu penyimpanan, kemudian memasukkan tas branded yang beberapa waktu ia beli dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalam lemari.


Bryan dan Ana tampak terkejut dengan kelakuan sang mami.


" Bryan, Ana, cepatlah ! " perintah sang mami dengan panik.


Akhirnya kedua remaja itu beranjak dari duduknya dan melakukan apa yang di perintahkan sang mami dengan cepat. Mereka segera ke kamar masing - masing dan mengemas beberapa pakaian dan beberapa barang yang menurut mereka berharga. Ketiganya segera menarik koper masing - masing dan kemudian segera menuruni tangga untuk berjalan ke arah mobil dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.


" Mi, kita mau kemana ? " tanya Bryan lagi. Sungguh hati anak itu sedang tidak tenang karena sudah sampai sore kakaknya, Queenza belum pulang juga.


" Mi, kita tunggu Kak Queen ya. Mami tidak bermaksud meninggalkannya kan ? " tanya. Bryan lagi.

__ADS_1


Wanita itu menoleh ke arah Bryan dan mengelus kepala Bryan, " Kita pergi sekarang, karena kita mau mencari Kak Queen. Cepat masuk mobil ! Sebelum malam datang, " ujar wanita itu sabar.


" Mami sedang tidak berbohongkan ? Kita pergi untuk mencari Kak Queen kan ? Memang Kak Queen kemana atau di bawa siapa, Mi ? " Bryan bertanya lagi dengan perasaan tak tenang.


" Mi ? " Ana akan ikut bertanya tetapi mata sang mami memotong tajam ke arahnya dan akhirnya Ana mengatupkan bibirnya.


" Ayo, kita cari Kak Queen ! Sebelum Kak Queen pergi jauh, " jawab Larasati mencoba bersabar. Bagaimanakah ia harus bersikap tenang hingga kedua anaknya tidak mencurigainya yang akan pergi jauh meninggalkan kota. Yah mereka harus pergi sejauh mungkin hingga Tuan Arxello tak akan menemukannya.


Larasati mengepalkan tangannya kuat menahan ketakutan yang tiba - tiba menyerangnya.


" Ana, Bryan segera masuk mobil ! "


Kedua anaknya, Bryan dan Ana segera masuk ke kursi penumpang di belakang dan wanita itu, Larasati segera masuk ke dalam mobil. Tetapi wanita itu menghentikan tindakannya dan. " Tunggu mami sebentar, " ucapnya cepat.


Segera dengan cepat wanita itu keluar dari mobilnya dan kembali memasuki rumah untuk mengambil bekal makanan yang tadi sempat ia masak. Pikirnya ia pasti tak akan sempat singgah di restauran untuk sekedar mengisi perut mereka yang kosong.


Setelah menyiapkan bekal makanan, Larasati segera kembali ke mobil dan segera mengemudikan mobilnya menuju luar kota.


Larasati mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, seakan sedang dikejar seseorang. Sampai di terminal perbatasan, nampak wanita itu menghubungi seseorang dan mengajak kedua anaknya untuk berganti mobil.


" Mi, mengapa kita harus bertukar mobil ? " Bryan mencoba mencari tahu tetapi Maminya nampak hanya diam, terap fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan.


" Diamlah dan jangan banyak bertanya ! Kita harus cepat supaya dapat mengejar Kakakmu, " ujar wanita itu cepat sembari memindahkan kembali tiga koper dalam bagasi mobil yang baru.


Ana sedikit mengernyitkan dahi ketika sang Mami menerima amplop coklat dari seorang pria yang tadi membawa mobil lain sebagai pengganti mobil yang biasa mami pakai.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2