
Queenza menyapukan matanya ke seluruh ruangan besar tempatnya berada, tampak sepi. Dinding putih dengan furniture mewah yabg terlihat sangat estetik dan tentunya mahal.
Ranjang dengan bed yang lembut dan halus, lemari kaca yang menempel di dinding dengan beberapa guci, patung kecil dan hiasan yang terlihat mahal. sofa santai di dekat jendela dengan desain mewah.
Queenza melihat sekeliling dengan tatapan datar.
Ruangan ini tertutup rapat sepertinya di kunci dari luar, Queenza lalu menghampiri jendela besar, mengamati pemandangan di luar yang gelap dan sepi.
Queenza sekali lagi mencoba mengamati sekeliling dengan tatapan memindai. Ingatannya ia gali untuk kembali mengingat apa yang sudah terjadi padanya.
Bahkan keadaannya di tempat ini pun masih menjadi tanda tanya, bagaimana bisa ia berada di tempat semewah ini sedangkan kemarin ia masih berada di rumahnya bersama sang Mami.
" Mami. Apa kabar Mami ? " bibir pucat Queenza bertanya dengan lirih. Pertanyaan yang hanya ia dengar sendiri dan tentu tak juga ia bisa jawab. Karena Queenza tak tahu apa yang sudah terjadi dengan Maminya.
Queenza masih duduk terdiam, tanpa melakukan apapun. Pikirannya menerawang jauh. Berpikir dan mereka sejenak apa yang sudah terjadi dengannya.
__ADS_1
Apakah Maminya benar sudah menjualnya ? Akh mengapa maminya tega melakukan ini semua ? Queenza tersenyum pahit, ternyata hidupnya sungguh memilukan. Pilu dan sedih itu menjadi remasan di hati yang sangat menyakitkan.
Yah sangat menyakitkan. Queenza tak sanggup berpikir apapun. Memikirkan masa depan pun sudah jauh dari jangkauannya.
Sebenarnya Queenza bukanlah gadis kuat seperti ketika dirinta berhadapan dengan sang mami. Dirinya hanya gadis rapuh yang bersembunyi di dalam cangkang sok kuat yang coba ia buat untuk memperlihatkan betapa kuatnya seorang Queenza.
" Queenza masih SMP Mi, mengapa mami menempatkan Queenza di tempat yang sulit. Ini bukan tempat Queen. Tak seharusnya Queen menanggung ini semua sendiri. Mi, Queen takut, " tanpa sadar air mata gadis remaja itu sudah berhamburan di pipi putihnya.
Wajah cantiknya terlihat pucat, mata sembab dan bibir bengkak karena gadis itu gigiti. Hal ini yang sering ia buat ketika sesak sedang melanda hatinya untuk meredam luka yang terlanjur berdarah - darah.
***
Hatinya masih gundah. Semalaman ia hanya duduk di pinggir jendela dengan memandang gelapnya malam.
Pagi ini pun dengan wajah pucat dan lingkaran gelap di bawah matanya, gadis itu masih duduk di dekat jendela dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Bagaimana ia hidup selanjutnya ? Bagaimana dengan maminya, dua adiknya ? Akh Queenza ingin menjerit frustasi, ingin marah, ingin menangis tapi rasanya air mata yang sudah sejak semalam menganak sungai di pipinya kini terasa kering. Hatinya terasa mati karena beratnya beban hidup.
" Pagi Non, " seorang maid dengan seragam pelayan datang menyapa dan membawa senampan sarapan. Wanita setengah baya itu menaruh nampan yang berisi sarapan ke atas nakas dan menghampiri gadis remaja yang masih tercenung di depan jendela.
Hati wanita itu cukup trenyuh melihat gadis remaja itu. Tatapannya kosong dengan wajah pucat, mata sembab dan bibir bengkak, sungguh kondisi yang tak baik - baik saja.
" Mari, Non, saya bantu membersihkan diri, " ujar sang maid dengan lembut dan hati - hati membawa Queenza ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Queenza keluar masih dituntun sang maid dan duduk di pinggir ranjang. Tubuh ringkihnya disandarkan pada kepala ranjang.
" Saya suapi bubur ya, Non. Nona makan dulu ya ? " Nani berujar lembut, sambil menyuapkan sesendok bubur ke dekat bibir Queenza.
Terlihat gadis itu masih terdiam, nampak melamun tak bergeming. Wajahnya yang sendu terlihat semakin menyedihkan.
Nani mengembalikan sendok bubur kembali ke dalam mangkuknya dan menaruh mangkuk ke atas nakas. Kemudian tangan wanita setengah baya itu menyentuh tangan Queenza, merengkuhnya dan meletakkannya di atas pangkuannya. Memijatnya perlahan dan kembali tersenyum untuk mengajak gadis pucat di depannya berbicara.
__ADS_1
***
bersambung