
Bab. 3 Kehilangan Semua
Menahan rasa sakit adalah salah satu bagian bertahan dalam hidup. Sakit. Tapi tetap harus bertahan. Karena sejatinya hidup adalah proses bertahan dari krisis.
Tidak ada masalah yang tidak bisa di hadapi. Semua masalah selalu ada jalan keluar sama seperti gembok di ciptakan bersama dengan kunci. Masalah apapun, seberat atau serumit apapun selalu di sertai solusi. Hanya kadang manusia tidak tahu mencari solusi yang pas sehingga mudah menyerah.
Mengapa tidak pergi ke tukang kunci jika tidak menemukan kunci yang pas untuk membuka gembok ? Atau untuk membuat kunci baru jika kunci lama hilang ?
Mengapa tidak bertanya kepada Sang Khalik sang sumber Hikmat untuk minta jalan keluar. Seharusnya manusia selalu membutuhkan Sang Khalik dalam seluruh hidupnya. Bukan hanya ketika bermasalah baru datang mencari Sang Khalik.
( Jeloveus, 10 Juli 2022 )
__ADS_1
🌻🌻🌻
" Kalau kamu gak mau dengan Om Herman dan Om Farhad, paling tidak dengan Om Arxello harus mau. Mami gak mau dengar penolakan kamu, Queen. Tidak ada yang bisa menolong kita Queen. Hutang Papi kamu sangat banyak. Tolong Mami, Queen ! Adik - adikmu gak bisa ujian. Uang makan sudah habis Queen. Queen ! Dengar Mami tidak ? " sentak Sang Mami lagi dengan menendang tulang kering kaki Queen dengan sepatunya.
Wanita setengah baya itu menatap Queenza yang masih meringkuk di lantai dengan tatapan sinis. Wajahnya masih basah dengan air mata. Tangan wanita itu terlihat gemetar menahan segala rasa sesak sekaligus rasa marah dalam hatinya.
Terdengar wanita itu memghela nafas berat. Bahkan helaan itubberkali - kali terdengar menjadi kasar pertanda sang pemilik raga sedang menahan emosi yang sangat membara. Rasa itu seperti rasa sesak yang terhimpit batu besar. Larasati nampak sangat frustasi.
Wanita itu menyalurkan kemarahannya dengan menendang kembali tubuh Queenza dan terakhir menendang tulang keringnya dengan sangat keras.
Queenza hanya mengetatkan rahangnya ketika kakinya terasa ngilu akibat tendangan Sang Mami di tulang keringnya. Gadis cantik itu hanya diam dan tidak juga membuka matanya. Karena ia paham jika mengeluarkan rasa sakit sedikit saja dari bibirnya pasti Maminya akan semakin membabi buta memukulnya. Selama tiga bulan ini Queenza mempelajari sifat Maminya dalam menyakiti tubuhnya. Semakin ia menjerit kesakitan maka Maminya akan semakin sering dan semakin keras memukulnya, seperti orang kesetanan. Tetapi jika dia diam maka hanya sesekali saja pukulan sang Mami ia rasakan.
__ADS_1
Queenza menelan ludahnya dengan susah payah, kerongkongannya terasa kering. Karena menahan suara jeritannya agar tidak menjerit kesakitan.
Queenza mengetatkan rahangnya sekali lagi ketika tubuh sang Mami ambruk di dekatnya. Lalu dirasakannya kuku tajam sang Mami sedikit menusuk kulit lengannya. Perih. Tapi tak seperih hatinya. Dari ujung matanya yang masih terpejam ada noda merah yang mulai terlihat dari kulit lengannya yang terbuka.
" Queen, temui Om Arxello ya. Mami sudah atur jadwal pertemuan kalian. Kamu hanya tinggal temani Om Arxello di club. Hanya semalam Queen. Please sayang ! " pinta Mami Laras sambil membelai rambut panjang Queenza yang terjuntai.
Queenza bergidik. Rasa waspadanya bersiap untuk merasakan rambutnya yang akan ditarik sang Mammi.
" Bagaimana mungkin Maminya yang adalah ibu kandungnya menjualnya pada lelaki tua yang lebih pantas di sebutnya Papi atau malah layak dipanggilnya Kakek, karena usianya yang sudah Aki - aki. Mami gila. Apakah Queenza bukan anak Mami ? Sampai Mami tega melakukan ini padaku ? " batin Queenza. Rahangnya mengetat sempurna menahan segala kesedihan dan rasa perih yang semakin menjalar.
🌻🌻🌻
__ADS_1
bersambung