
Bab. 12
Malam menjelang dini hari di sebuah kota yang tak pernah tidur, suasana malam sangat pekat dan angin yang berhembus cukup kencang menambah udara dingin semakin menusuk kulit dan tulang.
Suasana khas malam dini hari ketika hari setelah hujan deras mengguyur, jelas menampilkan jalanan khas dengan sisa genangan air dimana - mana, jelas memperluhatkan bagwa drainase kota pun juga masih tak cukup mampu menyerap semua sisa tumpahan air dari langit yang bahkan dari sejak siang hari mengguyur hampir seluruh kota.
Di sebuah gedung tinggi dalam ruangan yang tampak temaram, seorang pria masih dengan stelan jas lengkap sedang duduk menopang kaki di kursi kebesarannya.
Wajah itu terlihat datar dengan tatapan kelam dan gelap. Rahang yang kuat dan kokoh tampak sesekali terlihat mengeras, menandakan bahwa sang pemilik sedang berpikir keras.
Pria itu terlihat tenang di balik keremangan ruangan bahkan di antara jari - jari tangannya yang kokoh terselip nikotin. Sesekali pria itu menarik nikotin dengan hisapan dalam dan menghempuskan asapnya ke udara dengan bibir yang terlihat sangat seksi.
" Bagaimana An ? Apakah wanita itu sudah menyerahkan gadis itu ? " sebuah suara berat terdengar dari gelap dan keheningan malam.
Beberapa kali asap nikotin menguap ke udara dengan beberapa kali sesapan yang terdengar berat.
" Sudah, Tuan. Sesuai perintah Anda. " Seorang pria tinggi besar menjawab dan menundukkan tubuhnya dengan hormat. Pria kaku yang menjadi orang kepercayaannya sejak lima tahun lalu.
" Beri sedikit pelajaran kepada wanita itu karena sudah berani bermain - main denganku ! Hanya sayangkan anak - anaknya. " perintahnya lagi.
__ADS_1
" Baik, Tuan. Tetapi menurut laporan orang yang mengikutinya, wanita itu sudah pergi dengan kedua anaknya yang lain. Ana dan Bryan. "
" Hhhmm, cari dan dapatkan dia ! " Perintahnya dengan marah.
***
" Mi, kita mau kemana sih ? " tanya Bryan sambil menguap kelelahan. Tubuhnya terlihat sangat lelah dan mulai tak nyaman berada di dalam mobil karena terlalu lama berada dalam mobil yang entah membawa kemana mereka kini.
" Tenanglah Bry, jangan merengek ! Kita cari Kak Queen ya ! " bujuk seorang wanita masih dengan tangan yang menyetir melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Mi, pelan - pelan ! Ana takut. " cicit Ana dengan wajah khawatir.
" Hhmm, ok Mommy turunkan kecepatan tetapi kalian diamlah dan jangan bertanya terus ! Kalian mau kita celaka karena Mommy tidak bisa konsentrasi menyetir ? " tanya wanita itu dengan frustasi.
Wanita yang masih cantik di usia empat puluh tahun itu menggigit bibirnya menahan rasa panik yang tiba - tiba mendera hatinya. Ada segurat ketakutan yang jelas tergambar di raut wajahnya. Bahkan hati dan pikirannya sedang dipenuhi kekhawatiran tentang murka seorang penguasa yang sedang ia coba tentang. " Akh, " ******* lirih terdengar dari sela bibirnya. Sebuah ******* kekalahan, kekhawatiran yang berkecamuk.
Dengan pikiran frustasi, wanita itu kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya yang lengang di malam hari.
" Mommy, Bryan takut. Mommy pelan - pelan ! " seru Bryan ketakutan karena merasakan mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Tangannya menggenggam kuat seatbelt.
__ADS_1
Ciiit ....
Brak.
Duarrr ....
***
" Bryan, Ana, Mammi ! " teriak seorang gadis terengah - engah diantara jeda tidurnya. Tubuh gadis itu berkeringat bahkan nafasnya memburu dengan sangat. Terlihat tersengal - sengal.
Beberapa saat kemudian terdengar suara rintihan terdengar lirih. Isak tangis gadis itu mulai pecah.
Queenza menangis dalam ketakutan, ia bermimpi sangat menakutkan.
" Mami, Bryan, Ana, semoga kalian baik - baik saja. Kakak khawatir. " Lirih Queenza tak tenang. Tubuhnya yang masih lemah segera bangkit berdiri dan mencari ponsel yang kemarin ada di saku bajunya. Tapi, wait ... baju Kinara sudah berganti dengan piama tidur lalu ponselnya ada di mana.
Queenza nampak celingukan, mencari di laci nakas, di bawah bantal bahkan ke beberapa tempat yang tertangkap matanya tapi tak jua matanya menemukan apa yang diinginkannya.
" Bryan, Ana semoga kalian tidak kenapa - napa, " bibir Queenza masih terus bergumam lirih dengan air mata yang terus meleleh. Hatinya sungguh tak tenang. Mimpinya seperti nyata, bahkan ingatannya tak juga bisa mengusirnya dari pelupuk matanya. Teringat jelas. Mimpinya seperti sebuah pertanda.
__ADS_1
" Oh Tuhan, jaga mereka untukku ! Please, " desah Queenza tak berdaya.
Queenza menyapukan matanya ke seluruh ruangan besar, tampak sepi. Ruangan tertutup rapat sepertinya di kunci dari luar, Queenza lalu menghampiri jendela besar, mengamati pemandangan luar yang gelap.