Menjadi Istri Simpanan Pria Dewasa

Menjadi Istri Simpanan Pria Dewasa
BAB. 5 Perih


__ADS_3

Bab. 5 Perih


" Atau kalau kamu tidak mau biar Ana saja yang menggantikan. Walau dia masih kelas 2 tapi Ana cukup cantik dan memiliki tubuh yang bagus walau tidak sep ... . "


" Cukup ! " Queenza bangun dari lantai, duduk dengan kesusahan, " Mami jangan gila ! " teriak Queenza marah saat Ana, adiknya yang akan menggantikan dirinya. Maminya ini benar - benar wanita gila. Tega sekali pikir Queenza marah dan merasakan perih di hatinya.


Nampak gadis itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Menyalurkan emosi yang tertahan, bagaimanapun Queenza tidak ingin meluapkan marahnya kepada sang Mami karena Queenza memahami kondisi psikis sang Mami yang benar - benar sedang depresi sejak di tinggal suaminya- sang Papi, sehingga sekarang Mami Larasati sering terlihat melakukan tindakan di luar kebiasaannya.


Dulu, wanita yang di sebut Mami oleh Queen adalah wanita yang lembut, wanita yang baik, wanita yang ramah, menyayangi bahkan bukan wanita kasar yang melakukan banyak tindakan aniaya kepada anak-anaknya, terutama Queen. Walau ia bukan ibu yang mampu memasak untuk keluarga rapi Queen tahu Maminya selalu memberikan makanan yang terbaik, kasih sayang yang sempurna untuk anak-anaknya.


" Wait, " bisik Queenza dalam hati. Ada rasa aneh yang terselio di hati Queenza ketika menatap wanita di hadapannya yang masih saja sesenggukan, " Mami tidak sedang mengalami kepribadian ganda kan ? Koq ? "


Nampak wanita setengah baya itu tersengal - sengal dengan nafas yang putus - putus.


Quennza menatap Mamminya dengan nanar, marah, kecewa, sedih beradu menjadi satu.


" Kau harus mau, Queen ! " seru Maminya lagi memaksa dengan berulang kali mengguncang tubuh sang anak remajanya.


Quennza hanya menggeleng berulang kali, " Tidak Mi. Quenn masih muda, masih mau sekolah. Masih ingin mengejar cita - cita. Tidak selayaknya beban ini di tanggung Queen sendiri. Mami juga harus berusaha. Kerja apa saja asal halal. Queen pasti akan bantu. Tapi yang halal Mi, Halal. Bukan menjajakan tubuh, lagian Queen ini baru juga lulus SMP, Mami jangan terlalu tega dengan Queen dong ! " Queenza menekan suaranya supaya Maminya sadar.


Plak.


Wanita setengah baya itu menampar sekali lagi pipi anak gadisnya dan mendorongnya ke belakang.


" Akh, " seru Queenza terkejut ketika tubuhnya terjengkang ke belakang membentur kerasnya lantai keramik.


" Jangan mengajari Mami tentang halal dan tidak halal ! Mami lebih tahu yang terbaik untukmu dan keluarga ini. Kau hanya harus menuruti kata Mami. Paham ? " seru Mami depresif. Terlihat wajahnya memerah karena marah dan penuh tekanan.


Bahkan tangan wanita itu kini mengepal sangat kuat, matanya menatap Queenza dengan penuh amarah. Kemarahan yang penuh, seperti dendam yang sedang di siram bensin. Semakin berkobar dan siap membakar apa saja di dekatnya.

__ADS_1


Queenza bergidik ngeri ketika memandang sang Mami dengan pandangan matanya yang tak biasa. Raut wajah yang mengeras dan bibir yang bergetar. Quwenza bisa


melihat dengan jelas kepalan tangan sang mami yang doa kepal kuat di samping tubuhnya.


Bugh.


Suara pukulan akhirnya menyarang di dada kiri Queenza. Queenza tang sedang berusaha untuk duduk kembali, akhirnya kembali terjengkang ke lantai. Benturan yang cukup keras pada tubuhnya.


Queenza meringis tertahan. Queenza merasakan kepalan Maminya semakin hari semakin kuat. " Uhuk, uhuk, "/akhirnya Queenza terbatuk menhan rasa sesak dan perih di dada kirinya.


" Sakit, Mi, " adu Queenza lirih. " Uhuk, uhuk, Mami jangan pukul Queen lagi ! "


" Makanya nurut kata


Mami ! Jangan membantah dan bikij Mami kesel ! " suara kasar sang Mami terdengar menyalahkan. " Asal kamu mau saja, Mami akan bersikap baik, paling tidak, balaslah budi sedikit untuk semua yang pernah Mami lakukan ke kamu ! Wajar kan jika Mami minta kamu membalas budi ke Mami ? Kamu tidak mau jadi anak durhaka karena berani melawan orang tua kan ? "


Queenza meringis menahan rasa sakit dan perih. Pandangannya sedikit kabur karena air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Queenza masih mencoba untuk menahannya. Sesakit apapun ia pantang menangis, tapi ini sungguh menyakitkan. Bukan hanya fisiknya tetapi juga hatinya.


Hatinya hancur. Ia masih gadis remaja yang masih membutuhkan banyak kasih sayang, masih membutuhkan ruang dan waktu untuk menikmati masa remaja, tapi sekarang ... di ruangan luas ini hatinya terkoyak dengan sakit yang tak terperi.


" Mi, please ! Jangan bicarakan itu lagi ! Queen mohon, Queenza akan cari pekerjaan lain yang bisa memghasilkan uang tapi tidak untuk menemani om - om teman Mami. "


Tok. Tok. Tok.


Keduanya nampak terkejut, dengan suara gedoran pintu yang terdengar dengan keras.


Belum sempat Larasati bangun untuk membukakan pintu depan, pintu dengan keras terdorong terbuka. Seseorang nampak menendang pintu dengan keras.


Brak. Brak.

__ADS_1


" Antony, " panggil Sang Mami dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya. Tubuhnya segera bangkit berdiri dengan semangat dan menyongsong seorang laki - laki besar yang di panggilnya Antony.


" Selamat siang, Antony. " sapa Mami Laras sambil menyongsong ke arah lelaki yang baru saja masuk di ikuti beberapa orang laki - laki bodyguardnya.


" Tidak pantas bawahan memanggil atasannya hanya memanggil nama saja, wanita ******. " balas lelaki yang di panggilnya Antony tadi dengan suara dingin.


Deg.


Hati Larasati sedikit tercekat. Panggilan wanita ****** itu membuat matanya sedikit mengembun dan mengepalkan tangannya di samping tubuh rampingnya.


Wanita itu memandang pria di depannya dengan pandangan gusar tetapi kemudian Laras kembali menampilkan wajah canriknya dan tersenyum lembut, " Ada apa kau datang kemari Antony ? " tanya Laras dengan suara yang pelan dan senyum yang kembali tersungging di wajahnya.


Queenza memandang sang Mami dengan tatapan datar. Ada gurat keridakpercaayan di mata Queenza karena melihat sang Mami yang berwajah ramah dan ceria ketika menyambut sang pria-teman papinya.


Antony Liem laki - laki sahabat suaminya dulu adalah orang yang ramah dan orang yang selalu bersikap baik kepada keluarganya. Mereka sering menghabiskan akhir bulan dengan berkumpul bersama sekedar makan bersama atau berlibur. Tetapi sekarang nada ketus selalu dilontarkan dari bibir Antony Liem saat berbicara dengannya.


" Akh, maafkan saya, Tuan Antony ! Saya tidak bermaksud berani kepada Anda. Ehm ... Ada keperluan apa Tuan Antony datang ke rumah saya ? " sapa Laras dengan terbata memperbaiki panggilannya. Tak lupa senyum terbaiknya ia sematkan di ujung bibirnya yang terangkat.


Lelaki yang di panggil tuan Antony hanya melangkah maju memasuki ruang tamu dan dengan angkuh duduk di atas sofa.


" Aku menjemput gadis yang kau janjikan kepadaku minggu lalu. " ujar laki - laki itu sambil melempar pandangan ke seluruh ruangan yang nampak kosong.


Deg.


Hati Larasati berdenyut bingung. Ia melupakan sesuatu. Minggu lalu dirinya sudah menerima sejumlah uang yang cukup besar dari Tuan Antony Liem, dan sudah di habiskannya untuk membeli cincin berlian di jarinya, dan tas branded keluaran terbaru.


🌻🌻🌻


~ bersambung

__ADS_1


__ADS_2