
Bab. 8 Melawan
" Lepas ! " teriak Queenza untuk menahan dua pria yang sedang berusaha menyeretnya masuk ke dalam mobil. " Mi ! Mami ! " panggil Queenza yang masih melihat sang mami asyik memunguti lembaran - lembaran uang yang berhamburan di halaman kemudian memungutnya satu persatu dan mengumpulkan lembaran - lembaran itu di tangannya.
Wanita itu tampak tersenyum senang dengan mata penuh binar kebahagian.
" Uang. Banyak uang Queen, ayo bantu Mami kumpulkan uang ini ! " kata Laras sumringah.
Queenza memandang Maminya dengan tatapan tak terbaca, hatinya nelangsa tetapi tak kuasa menghampiri.
Lalu dengan sisa tenaganya yang masih ada, gadis manis itu berusaha melepaskan genggaman tangan dua pria itu. Kakinya berulang kali memasang kuda - kuda untuk menguatkan pijakannya tetapi sekali lagi tenaga gadis itu tak seimbang dengan dua pria yang tinggi besar yang sedang membelit pergelangan tangannya.
" Mami ! " panggil Queenza lagi.
Wanita itu cukup terkejut dan matanya yang berbinar dengan senyum sumringah ketika memunguti lembaran - lembaran uang kini meredup ketika memandang ke arah Queenza. Wajahnya mulai pucat dan sendu, matanya kembali berkaca - kaca dengan tangan yang gemetar ketika menggenggam setumpuk uang yang berhasil di kumpulkannya.
" No, Queen ! " suara serak Mami Larasati terdengar lirih, wanita itu berjalan ke arah Queenza dan kini kedua tangannya sudah mencekal tangan Queenza dengan gemetar. Ada ketakutan yang membayang di pelupuk matanya.
Queenza nampak menghela nafas berat. Berulang kali di pandangnya Maminya, wanita setengah baya yang sudah memerah wajahnya dengan mata sembab dan masih menggeleng - gelengkan kepalanya berulang kali untuk mengurungkan niat dirinya untuk tidak mengikuti keinginan laki - laki sahabat sang Papi.
" Quee...nza ! " panggil wanita itu lirih dengan air mata yang sudah menganak sungai, " Tuan, please ja...ngan ba...wa Queen ya ! "
" Tolong, jangan ... jangan ... bawa Queenza ! "
" Kalau kau adalah mami yang baik tentu tidak akan menjadi bodoh hanya dengan tumpukan uang, Ras. Tapi matamu, otakmu bahkan hatimu hanya berisi uang. Semuanya uang. Memangnya aku tidak tahu siapa kamu, hanya pelacur jalanan yang kebetulan bertemu dengan orang baik yang sama bodohnya denganmu. Andai hari itu kamu tidak menghancurkan rencanaku, tidak mungkin aku akan menyetujui ide gila ini. Dan ternyata kau yang gila dengan uang pun sama gilanya ... hahahaha. Dasar pelacur, " umpat pria itu marah. Wajahnya semakin dingin dengan aura gelap
" Akh, " Mami Larasati mengerang tertahan, seperti ada beban berat yang tiba - tiba menekan dadanya. Terasa sesak dan sakit. Ingatannya berputar tentang enam belas tahun lalu dan itu terasa sangat mengerikan bagi seorang Larasati.
__ADS_1
Bahkan kini,
Bayangan laki - laki tinggi besar seorang Arxello William yang murka karena dirinya sudah melanggar perjanjian menjadi ketakutan tersendiri bagi Larasati.
Bayangan lelaki tinggi besar dengan kuasa penuh di seantero negara ini, seorang penguasa di dunia mafia juga merupakan pengusaha dengan kekayaan yang melimpah. Perusahaan terbesar dengan banyak anak cabang. Arxello William menjadi seorang yang sangat di takuti. Lelaki yang kata orang sangat kejam dan tidak berbelas kasih kepada setiap lawannya, termasuk para wanita yang berurusan dengannya.
Tubuh Larasati bergetar dengan hebat, dan wanita setengah baya itu tiba - tiba menjerit ketakutan dengan kedua tangan menutup kedua telinganya. Tubuh kurusnya merosot berjongkok dan bibirnya meracau tak terkendali.
Queenza yang masih dalam cengkeraman dua anak buah Antony Liem segera memberontak sekali lagi dan berusaha melepaskan diri. Tapi tenaga kedua pria itu terlalu kuat. Jelas tidak seimbang dengan dirinya yang hanya gadis remaja yang baru lulus seragam biru putih.
Queenza dengan sekuat tenaga mengerahkan kakinya dan tiba - tiba ... .
Brugh. Brugh.
Kaki Queenza menendang tepat di selangkang kedua pria itu bergantian. Kedua lelaki yang tak sempat menghindar itu mengerang kesakitan. Tak ayal kedua pria itu pun melepaskan cekalannya pada Queenza dan melompat kesakitan dengan mendekap kejantanannya.
Sedetik kemudian setelah tangannya terlepas, dengan cepat Queenza menghampiri Maminya yang masih berjongkok di lantai dan meracau tak jelas.
Queenza memeluk maminya dengan sayang dan mengelus punggung sang mami untuk menenangkannya.
Entahlah, apa yang terjadi dengan maminya, yang jelas kini maminya terlihat seperti wanita dengan kepribadian ganda. Kadang terlihat sebagai seorang mami yang baik bagi anak - anaknya, tetapi ada suatu waktu dimana wanita itu akan menghajar Queenza tanpa ampun, seperti yang dilakukan beberapa jam lalu.
Dan inilah yang selalu membuat Queenza tetap bertahan di rumah ini. Sang Mami. Sekalipun Maminya sudah berulangkali melemparkan dirinya kepada para lelaki buaya, sering melakukan tindakan kasar secara fisik dan kata - kata, bagi Queenza, mami Laras tetaplah ibunya yabg harus dihargai, di hormati bahkan di sayangi
" Mami, Mami, tenang Mi ! " ucap Queenza sambil menangkup pipi Maminya untuk membuat wanita itu berhenti meracau tak jelas.
" Tidak ! Tidak ! Mami tidak mau mati. Tidak ! Tolong ! Tolong ! " Mami Larasati berteriak histeris dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Wanita itu terlihat sangat berantakan dengan mata yang sembab dan rambut yang awut - awutan, bahkan make up yang tadi membentuk wajahnya sudah mulai pudar dan berantakan.
" Diam ! Berisik ! " teriak Antony Liem membentak dengan suara kasar. Pria itu sudah mulai kehilangan kesabarannya menghadapi Larasati.
Mami Laras masih berteriak dan menangis histeris. Tubuhnya bergetar hebat.
Queenza semakin mengeratkan pelukannya. " Mami, tenang ya ! "
Tetapi wanita yang adalah ibu Queenza masih meraung dan meracau tak jelas, hingga membuat nafas wanita itu tersengal - sengal.
" Diam ! Atau peluru ini yang akan membungkam mulutmu, Ras ! " Bentak Antony Liem sekali lagi dan melepaskan sebuah tembakan ke arah lampu gantung di beranda.
Prang.
Lampu bertingkat dengan uliran emas dan bola - bola cahaya yang nampak indah itu jatuh membentur lantai, ketika lelaki dengan pistol di tangannya menembak tepat pada tali ulir pengikat di atas langit - langit beranda itu. Pecahan kacanya berhamburan di lantai.
Suaranya yang keras ketika membentur lantai membuat tubuh Larasati tersentak kaget dan membuatnya berhenti berteriak. Tubuh wanita itu masih bergetar hebat dengan wajah penuh ketakutan.
" Antony, please, " suara wanita itu berbisik lirih mencoba menawar lagi.
Dentuman lampu hias yang jatuh ternyata cukup membuat wanita setengah baya itu kembali kepada kewarasannya. Tubuhnya menyentak dan menegak kembali berdiri. Dengan wajah sembab dan pucat Larasati berdiri dan menangkupkan kedua tangannya.
" Akh maafkan saya, Tuan Antony. Tapi tolong jangan bawa Queenza ! Saya akan mengembalikan uang tersebut. Saya janji. " ucap Mami Larasati, ibu kandung Queenza berharap laki - laki di depannya mau mendengarkan suaranya. Suaranya memohon dengan sangat.
🌻🌻🌻
~ bersambung
__ADS_1