Menjadi Istri Simpanan Pria Dewasa

Menjadi Istri Simpanan Pria Dewasa
Bab. 15


__ADS_3

" Hidup bukan kejam tetapi terkadang proses hidup masing - masing orang di buatNya berbeda sesuai kesanggupan. Kita manusia hanya di minta ikhlas menjalani. Bukan lari atau marah kepada sang pembuat takdir karena sesungguhnya Tuhan sudah menakarnya sesuai kesanggupannya masing - masing. " wanita setengah baya itu berujar dengan lembut. Tak bermaksud memggurui tetapi ia berbicara sebagai seorang ibu yang mencoba menenangkan putrinya.


Beberapa menit berlalu hanya terdengar isakan yang menyayat hati.


" Non, kalau sudah tenang, makan dulu ya ! Jangan sampai non Queen bertambah sakit. Non harus cepat pulih dan sehat lagi. Hidup tetap harus berjalan sekalipun banyak kesedihan dan cobaan, " imbuh wanita itu sambil memajukan sesuap bubur ke arah Queenza.


Gadis itu masih mengatupkan bibirnya. Sedikit terisak, gadis itu mengerjapkan matanya perlahan. Mencoba menguasai hatinya yang hancur.


" Biar Queen makan sendiri, Bi. Terima kasih, " ucap Queenza sambil meraih semangkok bubur dari tangan Bibi Nani.


***


Keesokan hari berikutnya, dengan cahaya mentari pagi yang hangat, Queenza sedang berdiri di balkon kamarnya dengan kondisi tubuh yang lebih baik. Wajahnya tak sepucat hari kemarin.


Gadis itu berusaha tetap baik - baik saja sekalipun hatinya sedang terasa sesak dan marah kepada sang mama.

__ADS_1


" Pagi, Non. " sapa Bibi Nani menghampiri Queenza yang masih asyik menikmati cahaya pagi.


" Pagi, Bi. " Queenza menoleh perlahan ke arah wanita setengah baya itu, melemparkan senyum lembut sekalaipun tetap terlihat seperti di paksakan.


" Tuan Albert sudah menunggu Non Queen di bawah untuk sarapan. Anda bisa bersiap sekarang. " ujar wanita itu menyampaikan pesan sang majikan. " Tuan juga ingin mengenakan gaun ini, " Bibi Nani memberikan sebuah paper bag kepada Queenza.


" Apakah Queen boleh sarapan di kamar, Bi. Queen belum siap, " bisiknya lirih. Hatinya yang sedang ia tata sebaik mungkin untuk pagi ini langsung memburuk. Hatinya kembali berdenyut. Ia masih remaja mengapa harus memgalami semua ini.


" Maaf, Nona. Saya hanya menyampaikan pesan Tuan Albert. " jawab Bibi Nani. " Tuan Albert sedang dalam suasana hati yang baik jangan membuatnya marah, Non. Takutnya nanti Non akan mengalami kesulitan yang lebih lagi. "


***


Seorang pria dewasa, mungkin empat puluh tahunan duduk di kursi utama. Duduk dengan gagah dengan secangkir kopi dan sepiring sandwich sayur.


Gadis itu duduk bersebrangan, tak ingin memandang atau ingin tahu seperti apa pria di depannya. Hatinya terlanjur remuk karena beberapa peristiwa yang membuatnya sampai di tempat ini.

__ADS_1


" Segeralah sarapan ! " sebuah suara tegas terdengar memerintah.


Queenza hanya menunduk dan mulai mengambil sehelai roti dan mengolesnya dengan coklat lalu mulai menyuapkan ke dalam mulutnya dengan perlahan.


Sejujurnya dirinya mual, tetapi ia harus tetap sarapan supaya ia segera pulih. Hidupnya harus tetap berjalan kan ?


" Pagi, Tuan, " seseorang menyapa dengan suara ramah. Pria berdasi dengan kemeja merah marron terlihat mendekat dan menunduk hormat.


" Tunggulah di ruang kerja ! Jangan lupa siapkan berkas yang kemarin saya minta sekarang ! " ucap pria itu tenang. Aura penuh kuasa jelas menguar dari tubuhnya yang tinggi tegap.


Pria dewasa dengan rahang kuat dan tegas. Wajah yang tampan, lengan yang kokoh, mata yang menyorot tajam, kulit kecoklatan dengan otot - otot yang menyembul.


Deg.


Tanpa sadar Queenza menatap pria di seberangnya dengan tatapan menilai.

__ADS_1


__ADS_2