
Jeffrod dan tuan Alfred senyum melihat Avi tak sedih lagi dan mereka mulai merencanakan rencana untuk memperebut perusahaan milik Zen.
" Jack, kamu sudah tahu kapan perusahaan kak Zen di lelang atau jual? " Jeff.
" Aku sudah mencari tahu dari keberadaan rekan bisnis kita yang juga ikut dalam pembelian terhadap perusahaan kak Zen dan acaranya seminggu lagi" kata Jack.
Jeffrod menanggukan kepalanya. " Kak sudah siap? " Jeffrod, mengkhawatirkan kakaknya.
" Kamu tenang saja kakak sudah siap, kakak akan memperebut kembali perusahaan itu" kata Avi, dengan nada yang tegas.
" Jack hubungi Wilona ia akan menemani kak Avi dalam acara itu, kita cukup beruntung karena Dion tak pernah mengenal Wilona" kata Jeffrod.
Jack menanggukkan kepalanya dan menghubungi Wilona agar ke Indonesia secepatnya.
Selama Jeffrod dan Jack ke Indonesian perusahaan pusat di urus oleh Wilona dan orang yang di percaya oleh Jeffrod.
Perusahaan Frederic Group.
Queny berada di perusahaan membaca laporan yang sudah memupuk di atas mejanya sudah dua hari ia tak ke perusahaan karena kesibukannya di rumah sakit.
Andrean dan Fina ikut Queny ke perusahaan karena mereka sedang libur hari Nasional.
Tok tok tok
" Masuk" kata Queny, dari dalam. Wefina dan Rega masuk saat masuk mereka melihat kedua anak asyik bermain tablet.
__ADS_1
" Halo keponankan aunty yang ganteng dan cantik" kata Wefina, senyum terhadap mereka.
" Aunty, om " kata Andrean dan Fina sedangkan Rega hanya senyum.
Queny melihat mereka datang menutup laporannya.
" Kalian sudah datang, apakah masih ada laporan yang harus aku periksa" kata Queny.
Wefina dan Rega saling memandang melihat mereka membuat Queny bertanya.
" Kalian ini kenapa? " Queny.
" Kak sebaiknya kakak yang beritahu" kata Wefina.
" Nona saya baru mendapat kabar kalau perusahaan Felix di lelang minggu depan dan kita mendapatkan undangan " kata Rega.
" Sebaiknya kita tak usah datang apalagi yang menjual perusahaan itu bukan hak warisnya, jika suatu saat ahli warisnya datang gimana entah membuatku takut " kata Wefina, senyum.
" Kamu benar Wef suatu yang bukan menjadi milik kita takkan berkah walau kita mendapatnya" kata Queny.
Mendengar nama perusahaan Felix membuat Andrean menangis.
" Hiks hiks hiks"
"Kakak kenapa, Hiks hiks hiks" Fina ikut menangis melihat kakaknya menangis.
__ADS_1
" Astaghfirurrah sayang" teriak Queny, terkejut melihat kedua anaknya menangis ia mendekati mereka dan memeluknya.
" Sayang ada apa? " Queny, dengan sendu. Wefina dan Rega juga mendekati mereka
" Kalian katakan pada aunty siapa yang membuat kalian nangis, aunty akan memberinya pelajaran" seru Wefina.
" Fina tak tahu aunty tiba saja kakak nangis" Fina, bersenggukan.
" Andrean katakan pada mama mungkin mama bisa bantu" kata Queny, tersenyum mengelus rambut putranya.
" Mama benar mau membantu?" Andrean, menatap Queny penuh harap. Queny menanggukan kepalanya ia mengira ini urusan sekolahnya Andrean.
" Mama mau ya membeli perusahaan yang di katakan om Rega" kata Andrean, menatap Queny.
Queny, Wefina dan Rega saling menatap. " Andrean tahu perusahaan itu? " Wefina, Andrean menanggukan kepalanya.
" Mama ingat saat kita bertemu? " Andrean. Diangguk oleh Queny.
Andrean menceritakan kejadian yang dualami oleh orangtuanya dan ia juga Fina.
" Kak Rega tahu masalah ini? " Queny, dengan suara serak ia memang tak mengetahui kejadian itu.
" Queny, ayah sempat bilang ada sebuah keluarga yang dihabisi polisi menemukan mayat seorang polisi dan itu tuan Zen Felix, perusahaannya pernah kerja sama dengan ayah" kata Wefina.
" Tuan muda apakah tuan Zen daddynya tuan muda?" Rega. Diangguk oleh Andrean.
__ADS_1
" Nona ini masalah besar dan mereka dalam bahaya yang saya tahu istri dari tuan Zen dalam keadaan koma" kata Rega.
Seketika suasana menjadi tegang dengan kebenaran mengenai Andrean dan Fina