Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Enam Tahun Yang Akan Datang


__ADS_3

Galendra Oktora memasuki gedung rumah sakit dengan bersiul riang. Beberapa orang yang berpapasan dengannya juga melemparkan senyum cerah seolah kebahagiaan Galendra pagi ini menular pada semua orang.


"Pagi, Dok." Seorang perawat yang Gale tidak tahu namanya , menyapa.


Galendra mengerlingkan sebelah matanya genit. "Selamat pagi, Baby."


Perawat itu terkekeh kemudian berlalu.


Bagi mereka yang tidak mengenal Gale dengan baik, pasti akan berdecak sebal melihat kelakuannya yang suka tebar pesona. Tapi tidak disini, seisi rumah sakit menganggap sikap genit yang dibenci banyak orang itu adalah bentuk ramah tamah dan keakraban Galendra. Jadi disini kalian tidak akan menemukan gadis galau yang terbawa perasaan dengan perlakuan pria itu.


Galendra menumpu kedua sikunya di meja informasi IGD. Ia melongokkan kepalanya menatap dua orang perawat yang duduk di balik meja.


"Dokter Dion sudah datang?"


"Belum, Dok. Sepuluh menit lalu beliau minta janji temunya dengan beberapa pasien di undur ke dua jam lagi." salah satu dari perawat itu menjawab.


Galendra mengernyit. "Pasien darurat?"


Salah satu perawat dengan name tag Farah itu menggeleng. "Hanya janji konsultasi kontrol rawat jalan."


Galendra mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengetuk-ngetukkan telunjuknya di atas meja. "Kabari aku jika Dokter Dion sudah datang ya."


Farah dan Mila --nama perawat satunya-- mengangguk kompak.


Galendra berlalu menuju ruangannya sambil mecoba menghubungi Kalina, kakak kandungnya.


"Mbak , lagi sama Mas Dion?" tanyanya saat panggilan diangkat.


"Oh yaudah. Aku cari barusan kata perawat belum dateng."


"Nggausah , ntar aja. Cuma mau ngomongin tanah yang deket kabupaten itu."


"Iya, oke. Hati-hati ya."


Galendra menutup panggilannya setelah beberapa detik berbincang dengan Kalina. Ia mulai mempersiapkan beberapa perlengkapan sebelum salah satu perawat mengetuk pintu ruangannya.


"Dok, pasien yang kemarin operasi usus buntu pagi ini mengeluh kakinya tidak bisa di gerakkan."


Tanpa pikir panjang, Galendra keluar dari ruangan menuju kamar rawat pasiennya.


**


Galendra merenggangkan kedua tangannya ke samping lalu ke atas sembari menggeram tertahan. Masih pukul sebelas siang , tapi tubuhnya sudah sangat lelah. Saat menghadapi pasien darurat, bukan hanya tenaganya yang terforsir , tapi juga mentalnya seperti dihajar habis-habisan.


Ia melangkah menuju coffeeshop di lantai dua rumah sakit ini. Keren sekali kan? Galendra rasanya ingin memberi throphy penghargaan bagi siapapun yang memiliki ide pun merealisasikan sebuah coffeshop di dalam gedung rumah sakit.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terlihat Dion yang membungkukkan badannya untuk berpamitan dengan salah satu pasien di ujung koridor. Pria itu menghampiri Galendra dengan sumringah.


"Tadi nyariin aku? Kenapa?" tanyanya saat sudah berhasil mensejajarkan langkah dengan Galendra.


Galendra mengangguk. "Tanah yang di tawarin Sapta , sikat aja."

__ADS_1


"Yang perbatasan itu?"


Galendra mengangguk lagi. "Emang dimana lagi Sapta nawarin?"


Dion menggaruk tengkuknya. "Nggak ada sih." Dia terkekeh sendiri. "Aku udah pernah bilang nggak sih kalau itu setengahnya masuk wilayah kota, setengah lagi kabupaten?"


"Udah kok."


"Jadi? Ambil aja? Sapta mau jual semuanya , nggak bisa kalau kita cuma mau beli setengahnya aja." Dion nampak ragu-ragu.


"Nggak masalah. Kabarin Sapta , kalau ready aku siap transaksi kapan aja." Galendra melambaikan tangan pada Dion setelah mengedikkan dagu ke arah coffeeshop di depannya.


Galendra memesan satu gelas americano dingin lalu berbalik ingin mencari tempat duduk. Ia akan beristirahat sebentar sebelum nanti menyibukkan diri dengan pasien-pasiennya.


Saat berjalan menuju kursi kosong di sudut ruangan , matanya bertubrukan dengan seorang pasien yang sepertinya baru saja masuk bersama --mungkin-- keluarganya.


Galendra tersenyum , mengingat pasien itulah yang tadi mengobrol dengan Dion di ujung koridor.


Gadis itu tersenyum lemah , wajah pucat itu tetap tidak bisa menutupi paras cantiknya.


Cakep juga.


**


Galendra merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size dengan sprei polos berwarna navy. Kedua lengannya menyangga kepala dengan tatapan lurus ke arah langit-langit kamar.


Sebentar lagi, Kalina --kakak perempuannya-- akan menikah dengan Dion yang artinya hanya tinggal dia seorang yang menghuni rumah peninggalan kedua orang tuanya ini.


Galendra bangkit, berjalan menuju rak buku di sudut kamarnya. Meraih satu buka yang beberapa tahun terakhir paling rutin ia baca.


Buku se tebal dua ratus halaman yang sampulnya sudah nampak usang.


Galendra membuka halaman dua puluh , setelah selesai ia melompat ke halaman delapan , lalu melompat lagi ke halaman dua puluh sembilan.


Dua detik setelah Galendra menyelesaikan kalimat terakhir di halaman dua puluh sembilan , buku itu menghilang bersamaan dengan Galendra yang juga tidak terlihat lagi.


...Dua puluh Agustus, dua ribu dua puluh sembilan....


...Galendra merenggangkan tubuhnya saat menyadari ia mendarat di kamarnya sendiri. Setelah memasukkan buku di tangannya ke dalam sebuah ransel , Ia melangkah ke dapur , mengambil segelas air sebelum akhirnya keluar dari rumah....


..."Huh , hujan?" gumamnya pelan saat matanya menangkap tanah yang basah di depan sana....


...Ia mendongak, menatap langit yang tidak begitu gelap....


..."Aku cuma mau lihat Mbak Kal sebentar setelah itu langsung balik." Ia memutuskan tetap melangkahkan kaki keluar dari pintu gerbang rumahnya. Berjalan sebentar ke jalan raya di depan komplek , lali menghentikan taksi yang kebetulan lewat....


...Sepanjang jalan , Galendra tersenyum. Hari ini adalah hari ulang tahun kakaknya. Ia ingin memastikan kakaknya itu bahagia di hari ulang tahunnya....


...Taksi berhenti di depan sebuah rumah dua lantai berpagar coklat. Galendra keluar , menatap banyaknya orang yang berkerumun di halaman rumah dengan satu orang --sepertinya polisi-- yang menghalau mereka agar tidak masuk lebih dalam....


...Jantung Galendra berdegup kencang saat semakin mendekat ia mendengar seseorang menangis menyebut namanya....

__ADS_1


..."Gale , kenapa lama? Cepet Gal , Kalina--" wanita itu menangis tersedu-sedu diantara panggilan teleponnya. Wanita yang ia tahu bernama Mbak Wulan , sahabat kakaknya....


...Galendra sudah akan menerobos masuk tapi urung saat dilihatnya beberapa pria membawa keluar sebuah... kantong jenazah. Tubuhnya membeku. Diantara kebingungannya ia mendengar suaranya sendiri yang berteriak....


..."Mbak! Mbak!"...


...Galendra bisa melihat dirinya sendiri yang memeluk kantong jenazah itu dengan isak tangis....


..."Gale.." Mbak Wulan menyangga kedua lututnya, berusaha tetap berdiri meski tubuhnya sudah merasa ingin luruh....


..."Mbak , ada apa ini Mbak? Mbak Kal nggak mungkin bunuh diri 'kan Mbak?"...


...Galendra melihat dirinya merosot ke tanah. Menangis meraung-raung meratapi mobil jenazah yang menjauh....


..."Harusnya Mbak nggak ninggalin Kalina sendiri di rumah. Harusnya Mbak nggak pergi waktu Kalina minta dicariin mangga. Harusnya Mbak..." Mbak Wulan masih terus menangis....


..."Dion brengsek! Kenapa dia harus nikah lagi di hari ulang tahun Kalina!"...


...Galendra terus bergeming menatap apa yang ada di depannya....


...Kakaknya bunuh diri tepat di hari ulang tahunnya....


...Dion menikah lagi....


...Apa ini yang akan ia alami enam tahun lagi?...


...Galendra mengikuti Wulan dan dirinya yang pergi dari sana....


...Sampai di rumah sakit , Galendra terus menjaga jarak. Ia tidak boleh bersitatap dengan dirinya di masa depan atau ia tidak bisa kembali ke masa sekarang....


...Hatinya sesak sekali melihat betapa hancur dirinya meratapi kepergian sang kakak....


...Ditengah isak tangis Galendra , Dion muncul dengan seorang wanita yang masih berpakaian pengantin....


..."Gal apa yang--"...


..."Brengsek!" Galendra melayangkan tinjunya ke wajah Dion. "Sudah ku bilang, jaga Mbakku dengan baik!" Galendra mencengkeram kerah kemeja Dion....


...Wanita yang bersama Dion tadi, mencoba melerai. Sekuat tenaga ia menarik tangan Galendra agar melepaskan cengkeramannya....


..."Menyingkir!" Galendra menghentak kasar tangan wanita itu. "Jangan menyentuhku, perempuan sialann!"...


..."Giselle , sudah! Aku tidak apa-apa." Dion menatap wanita itu sebelum Galendra melayangkan lagi pukulannya....


...Galendra menatap perkelahian antara dirinya dan Dion. Tatapannya tak kalah sengit , andai ia bisa ia juga ingin menghajar Dion sekarang....


...Wanita berbaju pengantin itu berbalik, meremat pakaian di bagian dada lalu berjalan terhuyung dengan penuh air mata....


..."Dia.. pasien itu?"...


**

__ADS_1


__ADS_2