
Di dalam mobil suasana benar-benar canggung. Galendra mengemudi , Giselle duduk di sampingnya. Sedangkan Cleopatra cukup peka jika pria yang mengaku sebagai Dokter Anak itu sedang berusaha mendekati adik sepupunya jadi ia memutuskan duduk di belakang, meski tadi Giselle menampakkan raut protes meski tidak bersuara.
"Sebenarnya tidak perlu mengantar Dok. Kami bisa naik taksi." Lagi-lagi topik itu yang diangkat Cleopatra untuk mencairkan suasana karena sudah lima menit mobil melaju, tapi diantara mereka belum ada yang buka suara.
Galendra tersenyum. "Nggak apa-apa kok. Santai aja , kita udah nggak di rumah sakit."
Selanjutnya obrolan memang benar-benar hanya antara Cleopatra dan Galendra. Giselle lebih banyak diam , dia akan menyahut jika antara Galendra atau Cleopatra melemparkan pertanyaan padanya.
Rumah satu lantai dengan pagar setinggi dada , sama sekali tidak mewah. Galendra bisa menilai bahwa Giselle berasal dari keluarga sederhana.
Cleopatra membuka pagarnya lalu mempersilahkan Galendra untuk masuk. Sedangkan Giselle langsung pamit untuk membuat kopi.
"Maaf Dok , tapi biarkan saya bertanya beberapa hal." Cleopatra membuka suara setelah mereka duduk di kursi teras.
Galendra mengangguk. "Santai aja , Mbak. Nggak usah pake Dok manggilnya. Gale aja."
Cleopatra tersenyum canggung. Mana bisa memanggil nama orang yang baru dikenal seperti itu.
"Dokter ini... ehm.. maksud saya ... gimana ya.." Cleopatra berusaha keras tapi tidak juga menemukan kalimat yang tepat untuk pertanyaan nya.
"Kenapa aku deketin Giselle?" Galendra sengaja memakai bahasa santai agar Cleo pun tidak terlalu formal bicara dengannya.
Cleo mengangguk cepat. "Apa sebelumnya kalian saling kenal?"
Galendra menggeleng. "Kita pertama ketemu beberapa hari lalu di rumah sakit. Nggak apa-apa kan Mbak kalau aku dan Giselle berteman? Aku nggak niat jahat kok."
Benarkah? Tidak berniat jahat? Mendekatinya, berencana membuat gadis itu selalu berada dalam pandangannya agar Giselle dan Dion tidak memiliki kesempatan untuk lebih dekat, apa itu bukan niat jahat?
Bagaimana jika enam tahun berlalu dan Kalina selamat , apa dia akan tiba-tiba memutus hubungan dengan Giselle? Meski ia menyebutnya hanya pertemanan.
Ah entahlah. Pikirkan itu nanti.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok , aku malah seneng karena Giselle disini nggak punya temen." Cleopatra menerawang. "Bukan cuma temen sih , kita disini nggak punya sodara nggak punya keluarga. Bener-bener cuma berdua."
Galendra bisa mendengar helaan napas yang cukup panjang di akhir kalimat Cleopatra. Ia menangkap kondisi tidak biasa dalam keluarga mereka. Ah jangan lupakan penyebab Giselle masuk rumah sakit. Percobaan bunuh diri.
Tapi Galendra tidak berniat menanyakannya sekarang meski sangat penasaran.
"Ya udah, berteman sama aku aja." Lagi-lagi Galendra menampilkan deretan gigi putihnya. "Umurku dua puluh delapan , kalau kita seumuran boleh saling panggil nama aja."
Cleopatra tersenyum. "Aku juga dua puluh delapan. Giselle dua puluh."
Informasi pertama yang di dapat Galendra tentang Giselle. Usianya dua puluh tahun. Enam tahun lagi, artinya gadis itu berusia dua puluh enam. Masih sangat muda , untuk memutuskan menjadi istri kedua dari pria beristri.
Giselle keluar dengan secangkir kopi panas dan meletakkannya di meja yang ada di sisi Galendra.
Gadis itu tidak tersenyum. Hanya wajah pucat dan sendu yang terlihat disana. Dan lagi-lagi Galendra seperti diingatkan dengan penyebab gadis itu masuk rumah sakit tempo hari. Jadi jangan heran! begitu kata batinnya. Mana ada orang yang baik-baik saja dan tidak punya masalah tapi mencoba bunuh diri kan.
"Gi , temani Dokter Gale sebentar ya. Kakak masuk-masukin dulu barang-barang." Cleo beranjak. Memungut dua tas besar yang tadi ia geletakkan begitu saja di lantai teras rumah mereka.
Galendra menelisik. Gadis ini benar-benar masih remaja. Tidak bisa basa-basi sekedar untuk menghormati tamu.
"Kuliah dimana?" Galendra tahu , gadis ini berstatus mahasiswi dari data pasien di rumah sakit.
"Unmer." jawabnya singkat.
Sebuah universitas yang cukup terkenal , meski bukan yang terbaik diantara banyak kampus di kota ini. Kota Malang-Jawa Timur, yang terkenal sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia.
"Udah semester berapa?" Karena Giselle hanya menjawab satu kata, Galendra harus pintar-pintar mencari pertanyaan lain lagi.
"Baru mulai." Gadis itu menunduk. Ada perih yang bisa Galendra lihat di matanya.
Galendra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Karena sekarang kita berteman , jangan sungkan untuk meminta bantuanku."
__ADS_1
Giselle menoleh. Menatap pria dewasa yang duduk disisinya -- hanya terhalang meja --. Pria ini tiba-tiba saja menawarkan pertemanan. Mereka bahkan tidak saling mengenal sebelumnya, Dokter anak ini tiba-tiba saja sering ia lihat berkeliaran di rumah sakit beberapa hari terakhir masa rawat inapnya.
Giselle menghela napasnya. "Sebenarnya aku tidak ingin punya teman."
Dari nada suaranya Galendra tahu gadis ini sedang menolak membangun hubungan apapun dengannya, meski teman sekalipun.
"Kenapa? Aku dengar kamu baru pindah ke kota ini , akan bagus punya teman yang bisa menemanimu jalan-jalan disini."
"Satu tahun nggak bisa dibilang baru." Giselle meremat ujung dressnya. "Lagipula aku bisa jalan-jalan dengan Kak Cleo."
Giselle menoleh , menatap mata Galendra yang juga sedang menatapnya. Wah ini pertama kalinya Galendra merasa Giselle memperhatikannya. Selama ini gadis itu terlalu acuh hingga selalu mengabaikan sapaannya.
"Terima kasih Dok karena bersikap baik padaku. Aku tahu semua petugas medis pasti akan seperti itu memperlakukan seseorang yang baru saja selamat dari percobaan bunuh diri. Tapi tidak perlu sampai memaksakan diri seperti ini, aku sudah berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku."
Galendra terperangah. Di dalam hatinya ia menghitung berapa kira-kira jumlah kata yang baru saja diucapkan Giselle.
"Aku nggak terpaksa. Nggak juga khawatir kau mengulangi perbuatanmu." Galendra lagi-lagi menunjukkan cengirannya. "Aku tahu kau menyesal."
Galendra membuang pandangannya ke depan , terlalu lama menatap Giselle entah kenapa sudut hatinya berkhianat, jadi memiliki perasaan iba bada Giselle.
"Aku juga nggak punya teman. Kakakku besok akan menikah." Tenggorokannya serasa tercekik. Mengingat kakaknya akan menikah dan enam tahun lagi suaminya menikah kembali.
"Jadi aku akan berteman sama kamu aja." ucapnya setengah memaksa. Menyembunyikan sesaknya di balik senyum lebar yang ia pamerkan sejak tadi.
Giselle mengerjap. Teman? Tiba-tiba saja? Tadi ia mengatakan pada Galendra bahwa ia tidak ingin berteman , itu benar. Ia tidak berbohong. Memang seperti apa teman? Yang selalu mengajaknya bersenang-senang lalu saat dia terpuruk , 'teman' itu lantas seketika menjadi orang asing. Hah! Orang asing bahkan lebih baik. Mantan teman akan berubah menjadi monster yang sangat mengerikan jika sudah tidak ingin menjadi teman lagi.
Giselle tidak mau punya teman lagi.
"Besok datang ya , ke pernikahan kakakku. Aku akan jemput jam tujuh pagi."
**
__ADS_1