Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Jangan Bikin Aku Cemburu


__ADS_3

Arya memasuki apartemennya dengan tertatih. Langkahnya berat, pelan dan setengah di seret. Tidak, bukan karena pria itu sedang mabuk atau tidak enak badan tapi di pundaknya menanggung beban tubuh pria dewasa yang tidak sadarkan diri. Galendra pingsan karena terlalu mabuk.


Arya melempar tubuh Galendra ke atas ranjang lalu dengan sisa-sisa tenaganya menaikkan kedua kaki Galendra yang masih menggantung.


Hah. Arya berkacak pinggang sembari menggerutu. "Dokter apaan mabuk-mabukan."


Arya masih mengatur napasnya karena tenaga yang ia habiskan untuk memapah Galendra dari basemen sampai ke lantai delapan , tempat unit apartemennya berada.


Arya keluar setelah memastikan Galendra tidur dengan nyaman. Di ruang tengah yang menyatu dengan dapur itu Arya menatap sekeliling. Unit apartemennya ini, di penuhi barang-barang canggih yang bahkan belum pernah di produksi. Robot vacum yang bisa terbang menggapai ujung gorden dan sudut langit-langit adalah yang paling membuatnya terperangah saat setahun lalu Galendra membawanya.


Arya menghela napas sebelum masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dulu ia pikir, Galendra sangat beruntung. Bisa pergi ke masa depan , mengetahui lebih dulu apa-apa saja yang belum diketahui orang lain. Memiliki lebih dulu semua hal yang belum dimiliki orang lain. Menyenangkan bukan?


Bahkan perusahaan fashion yang didirikannya bisa sesukses sekarang juga atas banyak informasi yang diberikan Galendra.


Model pakaian yang akan trend tahun depan. Aroma parfum yang banyak menarik perhatian tahun depan. Inovasi material tas sepatu dan lain-lain. Bahkan strategi marketing yang bisa dalam sekejap membuat penjualan membludak. Semua Arya dapatkan secara cuma-cuma dari Galendra.


Tapi kini lihatlah pria itu. Hampir gila dan depresi karena lebih dulu tahu tentang fakta yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Semua keberuntungan Galendra yang sempat membuat Arya iri, seolah berubah menjadi kutukan dalam sekejap.


Arya menghela napasnya lagi entah sudah yang ke berapa kali. Dia tidak bisa membantu apapun, hanya bisa menjadi pendengar atas keluh kesah Galendra.


**


Galendra menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya pelan. Begitu terus berulang-ulang. Ia bahkan menarik kedua sudut bibirnya beberapa kali, memastikan raut wajahnya tidak kaku. Setelah dirasa cukup, Galendra menghampiri gadis yang entah sejak kapan duduk di ruang tunggu. Gadis yang beberapa bulan belakangan ini, memenuhi pikirannya.


"Hai.. ada jadwal konsultasi?" Galendra mengambil posisi duduk disebelah Giselle.


Giselle mengerjap, lalu mengangguk. Ia meremat kedua tangannya karena menyadari beberapa pasang mata melirik kearahnya. Entah sejak kapan Giselle merasa tidak nyaman jika menarik perhatian orang lain.


Galendra melongok ke sisi Giselle yang lain, mengedikkan dagunya ke arah totebag yang cukup besar disana. "Bawa apa?"

__ADS_1


"Ah , ini masakan Kak Cle." Giselle meraih totebag itu dan meletakkan di pangkuannya. "Buat Kak Gale, Dokter Maria, sama Dokter Dion."


Senyum yang sejak tadi dipaksakan oleh Galendra, seketika luntur. Dadanya bergemuruh dan memanas.


Dokter Maria adalah psikiater yang selama ini menangani Giselle. Tidak aneh jika Giselle membawa makan siang untuk Dokter Maria , mengingat mereka berinteraksi secara intens delapan bulan belakangan. Bahkan Giselle berkonsultasi secara mandiri setelah jatah konsultasi yang di berikan rumah sakit selepas rawat inapnya dulu habis.


Tapi Dion? Bukankah berlebihan membawa makan siang untuk pria itu?


Perlahan, Galendra memperbaiki raut wajahnya. Dia tidak ingin Giselle menyadari amarah di dalam hatinya.


"Ck. Dion dapat juga." ujarnya pelan memasang raut wajah kecewa.


"Ini..Kak Cle yang nyuruh. Yang masak juga Kak Cle, kok. Jangan salah pah.. ehm, aku nggak bermaksud bilang Kak Gale cemburu , cuma--"


"Tapi aku emang cemburu." Galendra mengunci tatapan Giselle dari dekat , wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.


Giselle terdiam, seolah terhipnotis oleh tatapan dalam Galendra.


Entah dorongan darimana, Giselle malah mengangguk. Hey, dia mengerti kan arti dari anggukan kepalanya? Menyetujui untuk tidak membuat Galendra cemburu, memangnya siapa Galendra baginya?


Adegan tatap-tatapan itu terinterupsi oleh suara seseorang yang memanggil nama Giselle karena gilirannya masuk ke dalam ruang praktik Dokter Maria.


Giselle berdehem mencoba mengatasi rasa canggungnya. "Kak Gale aja yang kasih ini buat Dokter Dion. Aku masuk dulu." ucapnya terburu-buru sembari mengeluarkan dua kotak dari dalam totebag, jatah Dokter Maria.


**


"Coba handphone tuh jangan di silent!" Galendra yang baru memasuki ruang kerja Dion, langsung di sambut oleh lengkingan suara dan tatapan tajam si pemilik ruangan.


Galendra mengernyitkan dahinya tapi tidak menjawab. Ia terus melangkah hingga mengambil posisi duduk di sofa dan meletakkan totebag berisi kotak-kotak makan siang yang tadi di bawa Giselle.

__ADS_1


"Aku teleponin nggak diangkat, dicari di ruangan nggak ada." Dion masih menggerutu.


"Ada masalah apa?"


"Tanah yang kamu beli dari Sapta, ada yang maksa mau beli. Aku udah bilang, kalau tanah itu nggak dijual. Tapi nih orang maksa."


"Cuekin aja."


Dion mendengus. "Andai bisa selesai cuma dengan di cuekin." Ia melirik kesal adik iparnya.


"Masalahnya nih orang ngaco. Segala mau gugatan ke pengadilan."


Kali ini Galendra tidak bisa cuek, ia menegakkan bahunya lalu menatap Dion serius. "Waktu itu kita udah cek bener-bener 'kan? Surat-surat aman? Ya kali Sapta nipu kita."


"Legalitas aman. Kan aku bilang, nih orang ngaco. Katanya kita main belakang sama pemerintah atau apalah." Dion memijat keningnya yang berkedut. "Infonya tuh tanah termasuk dalem proyek jalan tol yang mau dimulai tahun depan."


Galendra mendengus, lalu kembali menyandarkan bahunya ke punggung sofa. "Nyusahin banget. Biarin aja, selama legalitas kita aman."


Di dalam hati Galendra mencibir informasi yang baru didapatkan Dion. Entah darimana orang-orang itu mendapatkan informasi yang salah, karena Galendra sudah melihat sendiri tanah itu tidak termasuk dalam proyek jalan tol. Galendra pun membelinya untuk investasi, membangun perumahan beberapa tahun lagi karena gerbang tol akan terletak tidak jauh dari sana.


Dion memijat belakang lehernya. Ia bukan tidak mengerti bahwa posisi mereka tidak bersalah, tapi pasti merepotkan harus meladeni proses gugatan yang pasti tidak akan sebentar. Sudah terbayang di kepalanya, saat-saat yang melelahkan seperti itu.


Galendra mengeluarkan satu persatu kotak makan yang ia bawa. "Makan dulu, tadi Giselle bawain."


"Wow banyak bener. Ada jatah aku?"


Galendra mengepalkan tangannya. "Cleo yang masak dan yang nyuruh bawa, jangan geer!" ucapnya pelan.


Dion mengernyit. Tidak ada nada cemburu disana. Suara Galendra lebih terdengar seperti... menahan amarah??

__ADS_1


Dion menggelengkan kepalanya, mengenyahkan hal-hal tidak masuk akal yang baru saja mengganggunya.


**


__ADS_2