Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Kecanggungan Galendra dan Giselle


__ADS_3

Kalina membelalak, bahunya merosot turun saat baru saja mendengar pertanyaan Galendra. Attempted Suicide? Kalina tidak pernah dengar bahwa itu adalah penyebab Giselle masuk rumah sakit. Kalina pikir , hanya sakit biasa yang perlu rawat inap.


Dion mengusap telapak tangan istrinya. "Itu lho, aku pernah cerita kan ada pasien yang ditemuin di gedung sebelah?"


Kedua alis Kalina berkerut sebagai isyarat pertanyaan 'Itu dia?' dan Dion langsung mengangguk seolah mengerti maksud istrinya.


"Apa penilaian Mbak berubah?" Galendra bertanya lirih , menyandarkan bahunya di punggung sofa.


"Bukan begitu, Gal. Cuma sekarang Mbak mau tanya sama kamu, kamu beneran tertarik sama dia? Bukan karena keinginan memantau supaya dia nggak ngulangin lagi perbuatannya?" Itu kemungkinan yang masuk akal kan? Mengingat Galendra adalah seorang dokter , secara alami pasti nalurinya mengatakan gadis itu butuh bantuan.


Galendra menggeleng. "Aku beneran suka sama Giselle, Mbak." Ia menghela napasnya sejenak. Suka? Entahlah , sejauh ini tidak ada perasaan tidak nyaman saat ia berdekatan dengan gadis itu. Tapi suka atau bahkan cinta? Galendra bisa menjawab dengan lantang di dalam hatinya bahwa itu tidak ada. "Apa Mbak keberatan?" Inilah yang Galendra takutkan, Mbaknya tidak setuju.


Kalina menghela napasnya. "Nggak. Kan kamu yang jalanin. Sudah Mbak bilang tadi, mbak suka. Tapi Gal , kalau dia pernah coba bunuh diri , artinya ada masalah besar di hidupnya. Kamu harus siap sama itu."


"Itu yang mau aku obrolin sekarang sama Mbak sama Mas Dion." Galendra semakin merebahkan kepalanya ke punggung sofa, lalu menutup kedua matanya dengan sebelah lengan.


"Dulu, waktu Giselle masih SMA, dia punya temen namanya Andreea. Andreea yang keliatan sederhana tapi cantik banget, bikin Giselle kesel. Yah biasalah Mbak, remaja gimana sih."


Kalina masih mendengarkan, tanpa menyela. Tidak juga ada perasaan kesal pada Giselle , karena memang itu adalah salah satu permasalahan remaja.


"Giselle ini selalu gangguin Andreea. Dikatain miskin yang paling sering. Tapi Andreea nggak pernah bales , nggak ngerasa keganggu juga jadi Giselle makin kesel. Waktu kuliah , mereka satu kampus lagi tahun lalu. Rasa kesel Giselle masih berlanjut, sampai nggak lama dia tahu fakta Andreea adalah anak pemilik perusahaan tempat Ayahnya jadi partner untuk pengelolaan restoran."


"Ah , jadi Andreea anak orang kaya?"


Galendra mengangguk. "Kaya banget!"


Kalina terkekeh. Merasa lucu dengan apa yang terjadi pada Giselle. Gadis yang ia anggap miskin , ternyata jauh lebih kaya raya.


"Mbak!" Galendra melirik kesal kakaknya.

__ADS_1


"Sory, abis lucu. Seru banget masa sekolahnya." Kalina terkekeh --lagi--


Galendra menghela napas. Baik Kalina maupun Dion bisa melihat raut gelisah di wajah pria itu.


"Seolah fakta pertama itu kurang buat bikin Giselle shock. Fakta selanjutnya bahwa kedua orang tua Andreea meninggal dalam kecelakaan di hari wisuda sekolahnya. Kecelakaan itu di sengaja , oleh Kakak dan Ayahnya Giselle.


Kejutan kedua yang lagi-lagi membuat Kalina membelalak. Kali ini, reaksi Dion pun sama. Kali ini mereka tidak menanggapi lagi, hanya menunggu Galendra menyelesaikan ceritanya.


"Ternyata Andreea udah nikah sama anak dari sahabat orang tuanya. Konglomerat juga, jadi mereka bener-bener nggak ngelepasin Ayah dan Kakaknya Giselle juga orang-orang lain yang terlibat. Mereka bener-bener gali sampe ke akar-akarnya semua kesalahan Ayahnya Giselle. Ketemu korupsi juga di restorannya, jadi harta Ayahnya Giselle habis untuk ganti rugi. Rumahnya dijual , sisa uangnya dipakai untuk biaya hidup Giselle disini."


"Jadi yah...gitu. Kakak sama Ayahnya di penjara. Giselle terpaksa pindah dari Jakarta ke sini, sama sepupunya. Berhenti kuliah , dan baru mulai lagi tahun ini."


Dion menarik napas panjang. Ia tidak menyangka , permasalahan keluarga Giselle serumit itu.


"Jadi, Mbak.. maksud aku..."


"Apa Mbak keberatan , gitu?" Kalina seperti bisa membaca pikiran adiknya.


Kalina menghela napasnya. "Semua kakak pasti ingin adiknya memiliki pasangan yang sempurna. Bibit bebet bobot. Mbak juga gitu, pengen kamu dapat istri yang baik , dari keluarga baik-baik juga." Ia menjeda sejenak kalimatnya. "Tapi bahkan keluarga kita pun nggak sempurna Gal." Tenggorokannya tercekat, mengingat lagi kedua orang tuanya yang meninggal beberapa tahun lalu.


"Giselle itu korban. Siapa yang mau ada di posisi dia? nggak ada. Jadi jangan mengungkit tentang kesalahan kakak dan Ayahnya, udah cukup dia menderita."


Galendra bisa bernapas lega. Karena jika saja Kalina menolak , Galendra tidak akan bisa berbuat apa-apa. Selama ini , ia berusaha menghindari pertengkaran dengan kakaknya. Kalina adalah satu-satunya keluarganya , ia tidak ingin membuat jarak.


**


Sejak Kalina menikah dengan Dion, mengunjungi rumah Giselle sudah seperti rutinitas bagi Galendra. Daripada makan malam sendiri di rumah , ia akan lebih memilih berkunjung ke rumah Giselle.


Seperti malam ini, Galendra sudah berdiri di depan pagar rumah Giselle dengan menenteng tiga porsi soto betawi dari warung tenda di ujung jalan, setelah kurang lebih seminggu ia tidak datang kesini.

__ADS_1


"Bisa nggak sih kalau makan malam disini , sekali-kali nggak usah bawa makanan dari luar? Tekor deh pasti kamu." Cleo terkekeh setelah membuka pagar, membiarkan Galendra masuk.


"Kalau gitu aku ngerasa kayak bener-bener numpang makan." Galendra terkekeh juga.


Sore tadi Galendra memang mengabari Cleo akan makan malam di rumah mereka jadi Cleo tidak perlu memasak.


Cleopatra memutar bola matanya. "Cuma nambah satu orang nggak akan bikin aku tekor." Ia menghentikan langkahnya , melirik sekilas ke dalam rumah , lalu menatap Galendra.


"Kamu sama Giselle, udah sampe mana?" Cleo berbisik , agar Giselle di dalam rumah tidak mendengar.


"Hah?"


"Ck." Cleo berdecak. "Belum jadian?"


Galendra menggaruk tengkuknya. "Seminggu lalu aku udah minta dia jadi pacarku , tapi dia keliatan ragu-ragu waktu mau jawab. Jadi aku langsung potong, nggak usah dijawab sekarang, pikirin dulu. Gitu aku bilang. Daripada di tolak kan? Mending di tunda." Ia meringis mengingat kejadian seminggu yang lalu.


Cleo terkekeh. "Aku pikir kamu cuma mau main-main sama Giselle. Tolong ya Gal , dia udah cukup menderita. Kalau nanti dia terima kamu, aku titip. Jangan sakitin, jangan kecewain!" Nada suara Cleo melirih di ujung kalimat , ada sendu yang terdengar jelas disana.


Galendra berdebar kencang. Jangan menyakiti? Jangan mengecewakan? Dia tidak bisa berjanji itu.


Percakapan mereka terhenti saat Giselle muncul di depan pintu rumah yang terbuka.


"Kak, dompet aku--" Giselle menghentikan kalimatnya. Ia mematung, mendapati Galendra berdiri disana bersama Cleopatra.


"Hai." Galendra mengangkat tangannya, menyapa gadis itu.


Hubungan diantara Giselle dan Galendra memang menjadi sedikit canggung sejak seminggu lalu. Galendra bahkan baru datang lagi malam ini.


Cleopatra meraih kantong plastik di tangan Galendra. Membawanya masuk lebih dulu. "Gale bawa makanan , kita makan malam sama-sama ya." ucapnya sembari melewati Giselle untuk masuk ke dalam rumah. Membiarkan dua orang itu menyelesaikan kecanggungan mereka sendiri.

__ADS_1


"Apa kedatangan aku bikin kamu nggak nyaman?"


**


__ADS_2