
Galendra memandangi seorang anak kecil yang sedang bersepeda di jalanan depan rumah Giselle. Teras rumah ini dibuat lebih tinggi daripada halaman depan dan jalanan. Jadi dengan posisinya yang duduk di teras rumah dan pagar rumah Giselle yang hanya setinggi dada, Galendra bisa melihat dengan jelas apa yang ada di luar pagar.
Anak kecil itu tertawa riang bersepeda dengan dikejar Ayahnya. Rambut panjangnya yang dikuncir ekor kuda melambai ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak tubuh si anak.
Embun keponakannya , akankah secantik itu? Tentu , Kalina sangat cantik dan Dion juga tampan. Pastilah Embun akan mewarisi paras keduanya. Tapi, akankah seceria itu?
Galendra menghela napas , sejak mendengar jika Kalina dan Dion di masa depan memiliki seorang putri, perasaannya semakin campur aduk. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.
"Kak Gale, ini kopinya." Giselle meletakkan secangkir kopi panas di meja yang ada di sana.
Galendra mendongak , mengikuti gerak gadis itu. Gadis pendiam yang tidak banyak bicara itu apa mungkin dengan tega merusak kebahagiaan Kalina?
Galendra teringat jawaban Dion siang tadi, saat ia bertanya pendapat Dion tentang Giselle.
"Nggak tahu deh Giselle gimana , cuma selama seminggu dia di rumah sakit aku perhatiin anaknya nggak neko-neko. Hidupnya juga kayak nggak macem-macem kok. Cuma ya , kalu kamu mau serius sama Giselle, kamu harus siap dengan depresinya. Aku yakin itu serius, Gal. Apalagi kakak sepupunya itu bilang, dulu Giselle periang banget, yah gimana sih remaja jaman sekarang. Jadi pasti ada kejadian yang nggak bisa kita bayangin , pernah dia alami. Menemani seseorang dengan luka di hatinya itu ... nggak mudah."
Seperti itulah tadi kata Dion. Dan otak Galendra membenarkan. Jadi bagaimana mungkin akhirnya Dion mengkhianati Kalina demi menikahi Giselle.
Terlebih lagi Dion , sekeras apapun Galendra pikirkan , ia tetap tidak bisa menerka kenapa Dion melakukan itu. Galendra tahu persis, sebesar apa Dion mencintai kakaknya.
"Kita makan malam di luar?" Galendra memastikan lagi tentang tawaran yang sempat ia ucapkan tadi saat baru saja memasuki halaman rumah ini.
Giselle menunduk , meremat sebentar ujung blousenya. "Kak , izinkan aku bertanya beberapa hal." Ia menoleh, mendapati Galendra yang tersenyum di sana.
"Jangan sungkan , tanyakan semua yang ingin kamu tahu."
Giselle menghela napasnya sejenak. "Kenapa tiba-tiba mendekatiku? Maaf , bukan berarti aku terlalu percaya di--"
"Aku memang mendekatimu." Galendra tersenyum --lagi--
Gadis itu menelan ludahnya sendiri. Galendra ini, kenapa suka sekali memamerkan senyumnya.
"Jika karena kejadian waktu itu.." Giselle menjeda sejenak kalimatnya. "Tidak perlu sejauh ini, Kak. Aku akan menjaga diriku dengan baik. Setelah keluar dari rumah sakit, aku bukanlah tanggung jawab petugas medis."
Galendra tersenyum. "Kita sudah pernah membahas ini 'kan?" Galendra menyerongkan kakinya untuk lebih menghadap Giselle. "Apa aku tidak boleh mendekatimu? Kamu merasa tidak nyaman?"
__ADS_1
Giselle menggeleng. "Bukan begitu. Aku hanya merasa bersalah jika perbuatanku waktu itu sampai merepotkan orang lain begini. Lagi pula.."
"Lagi pula apa?" Galendra tidak sabar karena Giselle tidak melanjutkan kalimatnya.
"Lagi pula, saat aku mengatakan tidak ingin punya teman , itu sungguh-sungguh." Giselle menunduk. Menggigit sedikit bibir bawahnya untuk menahan tangis.
Galendra mulai mempertimbangkan banyak hal. Jika ia mengorek lebih dalam hal ini, maka ia harus bersiap masuk lebih jauh ke dalam hidup Giselle.
"Kenapa? Aku juga tidak punya teman , temanku hanya Dion dan satu orang lagi bernama Arya. Sekarang bahkan Dion sudah menikah dengan Mbakku jadi dia tidak bisa sering pergi bermain. Tapi , aku selalu membayangkan senangnya jika memiliki banyak teman." Galendra terkekeh.
"Semakin banyak orang yang kita sayangi, semakin besar juga kemungkinan kita terluka lebih sering karena kehilangan mereka satu persatu." gumam Giselle lirih.
Galendra mengerutkan dahinya, tapi ia tidak menyela.
"Ayah dan kakakku di penjara." Terdengar jelas suara Giselle yang tercekat. "Temanku mulai pergi dan menjauh. Pada akhirnya aku tidak memiliki siapapun kecuali Kak Cle."
Galendra mengerti. Ada kejadian di masa lalu yang membuat Giselle menutup diri dari sekitarnya.
"Kak Cle termasuk dalam orang yang menyayangimu tanpa syarat." Galendra menatap Giselle , dan benar saja gadis itu mendongak saat mendengar suaranya. "Aku juga akan jadi salah satu dari orang itu."
**
Hari berganti sangat cepat. Sudah delapan bulan sejak penikahan Kalina dan Dion. Kini Kalina sedang hamil enam bulan. Setiap melihat kakaknya yang tersenyum cerah sembari mengelus perut buncitnya , jantung Galendra serasa di remas.
Seperti saat ini. Galendra menghampiri Kalina yang baru saja keluar dari lift sembari terus mengelus perutnya.
"Mbak ngapain sih masih bolak-balik rumah sakit? Diem aja di rumah ongkang-ongkang kaki sambil ngabisin duit Mas Dion."
Kalina mendengus. "Mbak hamil Gal , bukan sakit!"
"Apa bedanya. Sama aja , sama-sama bikin repot." Tentu saja itu hanya bercanda. Galendra, meski slengean dan terlalu santai, tapi Kalina tahu persis adiknya itu dokter yang berdedikasi. Ia tidak akan menganggap pasien merepotkan.
Kalina acuh, enggan menanggapi gerutuan adiknya. "Makan siang dulu!" Ia memelototi Galendra yang sudah akan beranjak setelah mengantarnya hingga depan pintu ruangan Dion.
Galendra mendengus tapi tetap menurut karena dilihatnya Kalina menenteng satu lunch bag berukuran besar , masuk ke dalam sana dan duduk di salah satu sisi sofa.
__ADS_1
"Mas, kasih tahu Mbak Kal jangan lagi bolak-balik rumah sakit!" Galendra melemparkan protesnya.
Dion bangkit, lalu memeluk istrinya sekilas. "Nggak apa-apa. Dirumah pasti bosen. Tadi masaknya dibantuin Bi Asti kan, sayang?" Pria itu masih menangkup kedua lengan Kalina , memastikan istrinya tidak terlalu lelah hari ini.
Kalina mengangguk. Aku cuma siapin bumbu-bumbu aja."
Galendra memutar bola matanya malas. Lalu tanpa menunggu, membuka sendiri lunch bag yang tadi dibawa kakaknya.
"Makan disini? Tadi katanya ada janji sama Giselle?" Dion menyusul Galendra dan duduk di sampingnya.
Galendra menggeleng. "Giselle ada kelas sampe sore."
"Kamu nggak main-main kan Gal sama Giselle?" Kali ini Kalina menyahut sembari menyiapkan makanan untuk Dion. "Dia baik , Mbak suka."
Galendra mengetuk-ngetukkan telunjuknya di meja. Raut kebingungan terlihat jelas di wajahnya.
"Gal! Kamu nggak main-main kan?" Kalina mulai khawatir. "Giselle masih muda banget , jangan mainin perasaan anak orang!"
'Nggak, Mbak! Masak main-main sampe delapan bulan aku pepet terus."
"Terus kenapa mukamu begitu?"
"Makan dulu deh , nanti aku cerita ya! Mbak jangan pulang dulu."
Dion dan Kalina menurut , menghabiskan menu makan siang yang Kalina bawa dari rumah.
Kalina membereskan tas bekalnya , dan menyingkirkannya ke sudut ruangan.
"Jadi mau cerita apa?" Ia sudah tidak sabar.
Galendra mendengus. "Mbak, Giselle gimana menurut Mbak?"
"Mbak udah bilang tadi. Mbak suka! Anaknya nggak macem-macem."
Galendra mengangguk. "Mbak tahu kan Giselle mantan pasien attempted suicide beberapa bulan lalu?"
__ADS_1
**