Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Tidak Ada Yang Berubah


__ADS_3

Giselle menatap wajahnya sendiri yang terpantul di cermin meja rias. Semu merah muda yang merona terlihat jelas di kedua pipinya. Hidungnya bahkan ikut memerah.


Ia menepuk-nepuk pipinya pelan lalu sebelah tangannya menyentuh dada untuk memeriksa degup jantungnya. Begitu terus entah sudah berapa puluh kali Giselle mengulang gerakan yang sama dalam sepuluh menit terakhir.


Ah , Galendra. Kenapa pria itu manis sekali?


Terhitung sejak peristiwa Ayah dan Kakaknya , hati Giselle dengan sendirinya seperti mati rasa. Berpacaran? Bahkan untuk berteman saja ia sudah kehilangan minat. Giselle hanya terus menjalani hidupnya dengan datar, satu-satunya orang yang berinteraksi dengannya hanyalah Cleopatra.


Giselle seperti antipati dengan manusia lain. Tidak pernah tersenyum, tidak pernah menyapa orang lain. Ia membatasi dirinya dan tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam hidupnya, meski hanya sebagai teman.


Lalu secara tiba-tiba Galendra datang. Memperlakukan dirinya dengan sangat baik dan... manis. Tidak menghakiminya meski telah mendengar seperti apa keluarganya. Dan hari ini, pria itu mengatakan akan menemaninya menyembuhkan diri. Bisakah Giselle menyebut dirinya beruntung?


"Gi, udah tidur?" suara Cleopatra terdengar setelah ketukan pintu dari luar.


Giselle melangkah , membuka pintu pelan. "Ada apa Kak?"


"Gale pulang?" Cleo menerobos masuk kedalam kamar Giselle. Katakan dia gila , karena sempat terbersit Galendra ada di dalam kamar Giselle. Cleo menggelengkan kepalanya sembari menahan senyuman.


Giselle mengikuti langkah Cleo. Ia mengangguk. "Lima belas menit lalu." Ia duduk di sisi Cleo yang merebahkan tubuhnya di ranjang Giselle dengan kaki menggantung ke bawah.


"Apa kata Pak RT, kak?" Giselle meraih sebuah bantal untuk di letakkan di pangkuannya.


"Nanti di bantu. Jadi kita terima beres aja." Tatapan Cleo menerawang langit-langit kamar. "Kakak nggak nyangka , kita benar-benar akan menetap disini." Ia meringis , lalu menoleh menatap Giselle.

__ADS_1


"Maafin aku. Gara-gara aku--"


"Berhenti minta maaf!" Cleo memotong cepat. "Gi, please. Diantara kita berdua , Kakak lah yang lebih bersalah. Kakak tahu lebih awal rencana Om Dar dan Rachel , tapi kakak nggak bisa nyegah mereka."


Sebelum pembunuhan itu di jalankan , Cleo lebih dulu mendengar tentang rencana Ayah dan Kakak Giselle. Yang awalnya tidak sengaja karena kebetulan ia berkunjung ke kediaman mereka , akhirnya Giselle menajamkan telinganya untuk sengaja menguping. Ia sempat mengirim surat pada Ardhani Dee --Ayah dari Andreea-- untuk membocorkan informasi yang ia dengar. Tapi itu tidak bisa menyelamatkan Ardhani dan istrinya --Miranda-- dari 'kecelakaan tunggal' yang di rekayasa oleh Darmawan dan Rachel.


Giselle terisak.


Cleo bangkit dan merapat pada Giselle. "Gi, please. Sampai kapan kamu kayak gini? Inget, kamu nggak tahu apa-apa tentang rencana keluargamu."


"Aku ngerasa bersalah. Sama Andreea." jawabnya lirih.


"Udah cukup. Andreea bahkan tahu kamu nggak bersalah. Karena itu kan suaminya mempermudah jalan kita buat keluar dari Jakarta? Kalau Andreea marah , hidup kita nggak akan setenang ini, Gi." Cleo menghela napasnya lalu mengusap lembut punggung Giselle untuk meredakan tangisnya. "Kalau ada kata-kata Andreea yang nyakitin kamu, kita harus maklum. Hatinya pasti sakit , orang tuanya meninggal karena ulah keluarga kita. Tapi Kakak yakin, dia sama sekali nggak berharap kamu hidup menderita." ucap Cleo lembut. Ia ingat , di awal-awal Andreea mengetahui bahwa keluarga mereka adalah pembunuh kedua orang tuanya, Andreea sangat murka. Ia bahkan sesumbar di hadapan Darmawan dan Rachel, akan membuat hidup Giselle seperti di neraka. Dan semua orang tahu pasti, sangat mudah bagi Andreea Dee merealisasikan ucapannya. Karena itulah , Darmawan juga sempat bergidik dan panik setengah mati, mengkhawatirkan nasib putri bungsunya.


Tapi di hadapan Giselle , Andreea tidak berlebihan. Hanya meminta Giselle menghindar , karena melihat wajah Giselle membuat Andreea tersiksa. Hanya itu. Dan hidup Giselle baik-baik saja sampai saat ini. Keluar dari Jakarta adalah murni keputusan Giselle dan Cleo. Sama sekali tidak ada intervensi dari pihak Andreea.


Cleo menghela napasnya. "Kamu menyesal , dan meminta maaf lalu memperbaiki sikapmu. Itu cukup, Gi. Udah cukup kamu dikurung rasa bersalah bertahun-tahun, itu pasti sakit. Kamu harus sembuhin diri kamu. Please , hum?"


Giselle menoleh menatap Cleo. Ujung bibirnya sudah berkedut pertanda ia sekuat tenaga menahan tangisnya yang hampir meledak. "Tadi, Kak Gale juga bilang gitu. Aku harus sembuh." Giselle menjeda kalimatnya sejenak. Suaranya sudah sangat bergetar. "Apa aku boleh sembuh, Kak?" tanyanya lirih. Ia menundukkan lagi kepalanya.


Cleo menarik Giselle ke dalam pelukannya. Kali ini, ia menangis kencang. Ia mengeratkan pelukannya dan menepuk-nepuk punggung Giselle. Cleo merasakan sakit di sudut hatinya , melihat raut wajah Giselle yang terluka.


"Kamu pantas, Gi. Kamu pantas sembuh. Please , hum? Ada Kakak , dan ada Gale. Jangan khawatir , kamu nggak sendirian."

__ADS_1


Giselle mengangguk-anggukkan kepalanya di tengah-tengah isak tangis. Ia semakin menyembunyikan wajahnya di bahu Cleopatra.


**


Galendra mengetuk pintu lalu memasuki sebuah ruangan di lantai dua sebuah kantor fashion. Langkahnya lesu dengan kepala yang terus menunduk. Bahkan saat berpapasan dengan beberapa orang model di tangga tadi, Galendra tidak mengangkat wajahnya meski terdengar jelas wanita-wanita itu berbisik mengagumi paras tampannya.


Arya, si pemilik ruangan mendongak lalu melangkah sembari menatap Galendra yang sudah lebih dulu menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada.


"Soda? Kopi?" tanya Arya sembari terus melangkah mendekati pintu.


"Kopi. Less sugar." jawab Galendra lirih bersamaan dengan Arya yang sudah menarik handle pintu.


"Shila , tolong kopi satu ya. Less sugar." ucapnya memerintah sekertarisnya yang duduk di luar ruangan.


"Muka kamu udah kayak duit seribuan dalem dompet. Kusut." ucap Arya saat menjatuhkan bokongnya di sofa tunggal yang berhadapan dengan Galendra.


Galendra menunduk. Menumpu kedua sikunya di atas paha dengan telapak tangan mengacak kepala bagian belakangnya. Semua orang yang melihat pasti tahu, pria ini sedang tidak baik-baik saja.


Galendra menghela napas. Berdiri dari duduknya dan menghentakkan tangan serupa gerakan meninju udara. Tidak ketinggalan teriakan frustasi yang sebenarnya sudah coba ia tahan sejak tadi.


Nafasnya terengah dengan kedua tangan di pinggang. "Aku rasanya udah hampir gila." ucapnya pelan , energi dari rasa marah dan kecewanya sudah cukup tersalurkan lewat satu teriakan sebelumnya.


Arya mengernyit. "Mbak Kal?"

__ADS_1


Galendra mengangguk lalu kembali menjatuhkan diri di sofa. "Udah delapan bulan. Aku bersumpah , Mas Dion sama Giselle nggak pernah ketemu lagi sejak Giselle keluar dari rumah sakit. Bahkan waktu Giselle ada jadwal konsultasi psikolog pun, aku pastiin mereka nggak pernah papasan." suara Galendra melirih. "Tadi aku pergi lagi dengan percaya diri bahwa masa depan pasti udah berubah. Tapi ternyata enggak. Sama sekali nggak ada yang berubah, Ar."


**


__ADS_2