Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Aku Temani!


__ADS_3

Galendra duduk di meja makan bersama dengan Giselle dan Cleo. Meski canggung, tapi tadi Giselle tidak menolak saat Galendra melangkah masuk ke dalam rumah.


Dengan se mangkuk soto betawi di hadapan masing-masing, hanya Galendra dan Cleo yang sesekali terlibat percakapan. Giselle lebih banyak diam, hanya beberapa kali mengangguk saat namanya disebut.


"Habis makan, aku mau ke rumah Pak RT. Gal , bisa nemenin dulu Giselle dirumah sampai aku balik nggak?" Cleo meloloskan kalimatnya tanpa rasa bersalah, dan tidak memedulikan Giselle yang sudah terbatuk-batuk.


"Kak!" tegur Giselle sesaat setelah meneguk air putihnya.


"Hah?" Astaga , entah dari mana bakat pura-pura bodoh Cleo ini berasal.


"Aku bukan anak kecil, nggak perlu di temenin segala." Giselle melirik kesal ke arah Cleo.


Cleo melirik sekilas Galendra dari ujung matanya. "Oh , yaudah. Tadinya Kakak pikir supaya kamu nggak sendirian di rumah. Kalau kamu berani sendi--"


"Nggak apa-apa. Biar aku temenin Cle!" Galendra memotong cepat ucapan Cleo.


Di tanggapi dengan tatapan tajam dari Giselle , dan senyum kecil Cleo.


"Emang mau ngapain ke rumah Pak RT?" Galendra buru-buru mengalihkan pembicaraan, tidak memberi kesempatan untuk Giselle melemparkan protesnya.


"Mau urus surat pindah. Udah hampir dua tahun kita disini cuma pakai surat domisili. Mau sekalian aja pindah KTP." suara Cleo kini terdengar sendu.


Tidak pernah sekalipun ia membayangkan , akan mengubah identitasnya ke alamat baru, di sebuah kota yang jauh dari Jakarta.


Galendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit banyak ia tahu tentang perjalanan hidup Cleo dan Giselle hampir dua tahun terakhir. Tidak ada salahnya menetap disini, toh mereka berdua juga sudah tidak ingin kembali ke Jakarta.


Mendapati raut wajah Giselle yang murung, Cleopatra tahu adik sepupunya itu masih merasa bersalah.


"Lagian kita juga betah disini, Gal." ucapnya buru-buru dengan senyum sumringah, tidak ingin Giselle terpaku dengan rasa bersalahnya. "Iya kan , Gi?" Cleopatra mengalihkan tatapannya pada Giselle. "Aku nggak nyangka, bisa hidup layak pake uang yang nggak seberapa disini. Uang yang aku abisin di Jakarta dalam sebulan , disini bisa buat hidup kita berdua empat sampai lima bulan." Cleopatra terkekeh. "Dan itu layak lho. Nggak sampai berhemat yang gimana gitu. Tau gitu aku pindah dari dulu, biar cepet kaya." Cleo terkekeh lagi di ujung kalimatnya sembari menggeser mangkuknya yang sudah kosong.

__ADS_1


Galendra ikut tertawa. "Sekarang juga kamu kaya. Buktinya dua tahun disini dan nggak kerja tapi bisa hidup layak." Galendra menyipitkan matanya.


Cleopatra tergelak. "Iya juga ya. Makanya ini mau pindah KTP, abis itu cari kerja. Udah cukup ongkang-ongkang kakinya, lama-lama aku bosen juga apalagi sekarang Giselle udah sibuk kuliah." Ia berdiri , melangkah menjauh dari meja makan. "Aku tinggal dulu ya."


Galendra mengangguk sembari masih tersenyum menatap Cleo sampai menghilang di balik pembatas ruang makan dan ruang tengah. Setelahnya , ia menoleh pada Giselle yang duduk di sampingnya.


"Aku tunggu di teras ya , kamu kalau makannya diliatin aku kayaknya susah nelen." Galendra terbahak mendapati tatapan tajam Giselle lalu benar-benar menyingkir menuju teras rumah.


Giselle menghela napas, lalu melahap sotonya hingga tandas. Galendra benar, hampir dua puluh menit mereka makan malam dan mangkuk Giselle hanya berkurang sedikit , tapi setelah Galendra menjauh , ia bisa menghabiskan sisanya hanya dalam lima menit.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Giselle keluar menuju teras rumah dengan se cangkir kopi hitam --yang biasa di minum Galendra-- dan meletakkannya di meja yang ada.


"Kopinya, Kak."


Galendra mengangguk. "Terima kasih." Ia berdehem. "Kamu masih canggung sama aku? Karena pernyataan cintaku minggu lalu?"


Pada akhirnya Giselle mengangguk. Ia memalingkan wajahnya agar tidak bersitatap dengan Galendra.


"Nggak apa-apa. Aku suka kalau kamu canggung , artinya aku punya kesempatan." Galendra menyengir. Benar bukan? Canggung adalah kata lain dari bimbang , ragu-ragu untuk menerima tapi tidak ingin menolak juga.


Giselle mendengkus , pria di sampingnya ini entah sejak kapan menjadi bagian dari hari-harinya. Tiba-tiba saja ia datang, mengisi salah satu tempat kosong disisinya , yang sebenarnya tidak pernah ia pikirkan akan membiarkan seseorang menempatinya.


"Aku nggak lagi becanda saat aku minta kamu jadi pacarku." Nada suara Galendra melirih, pertanda ia tengah serius. "Jadi jangan ragu-ragu dengan alasan nggak masuk akal."


Giselle mengernyit, memberanikan diri menatap Galendra.


"Mungkin Kak Gale cuma bercanda, misalnya." Galendra mempertegas kalimatnya.


Huh. Pria ini cenayang? Kenapa ia bisa tahu isi hati Giselle? Sesunggungnya benar, ada sudut hati Giselle yang mengatakan kemungkinan bahwa Galendra bercanda. Meski bagian sudut lainnya seperti mati-matian mengingatkan dirinya bagaimana ekspresi Galendra saat itu, saat menyatakan perasaannya. Tidak ada raut bercanda disana.

__ADS_1


"Kita baru aja kenal , Kak." Giselle menunduk, menautkan jari-jari di kedua telapak tangannya.


"Delapan bulan cukup buat aku untuk mengenal kamu, Gi. Aku tahu, kamu perempuan baik." Tenggorokan Galendra tercekat, perempuan baik? Benarkah itu yang ia pikirkan tentang Giselle? Galendra menggigit sendiri bibir bawahnya.


Giselle meringis. Dirinya? Perempuan baik? Ah , laki-laki ini tidak tahu seperti apa dia beberapa tahun yang lalu. Dia suka merendahkan orang , menghina , memaki. Semua yang buruk dia lakukan.


Jika sekarang dia tidak lagi melakukannya , bukan berarti dia berubah menjadi perempuan baik. Dia hanya kehilangan senjatanya. Begitu 'kan?


"Kamu nggak kenal keluargaku, Kak." ucap Giselle akhirnya.


Galendra mengangguk-anggukan kepalanya. "Kamu putri bungsu dari dua bersaudara, Cleo adalah kakak sepupumu , ibumu sudah meninggal, Ayah dan Kakak kandungmu sedang dalam masa tahanan. Kami bisa berkenalan nanti."


Giselle menggigit bibir bawahnya sedang kedua tangannya meremat kuat dressnya di bagian paha.


"Aku --"


"Gi, aku nggak mau perasaanku membebani kamu. Lupakan dulu tentang aku. Aku sadar, kamu belum berdamai. Dengan dirimu sendiri, dengan masa lalu , dengan keluargamu."


Giselle mendongak , memberanikan diri menatap mata Galendra.


"Bukan kamu yang melakukan kesalahan, kenapa menderita begini, hum?" Galendra membalas tatapan mata Giselle.


"Pada Andreea , bukan hanya Ayah dan Kak Rachel yang bersalah. Bahkan mungkin , aku yang lebih dulu banyak menyakiti Andreea ketimbang Ayah dan kakakku." Lagi-lagi Giselle menggigit bibir bawahnya. Membicarakan Andreea, tidak pernah berakhir baik. Selalu ada sesak dan rasa sakit di dalam hatinya.


Bukan! Giselle bukan sakit hati karena temannya itu memenjarakan Ayah dan Kakaknya. Justru perlakuan Andreea padanya , membuat rasa bersalah di hati Giselle semakin membuncah. Ada perih , tiap mengingat kebaikan Andreea padanya.


Galendra menggenggam sebelah tangan Giselle. "Ayo sembuh! Aku temani."


**

__ADS_1


__ADS_2