Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Kedatangan Imel


__ADS_3

Giselle terus melamun sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit. Selama ini ia hanya hidup bersenang-senang. Menghamburkan uang jajan pemberian Ayahnya, menikmati hampir semua hiburan di setiap sudut kota Jakarta. Jika bukan karena kasus yang menimpa Ayahnya, sekarang pasti Giselle sudah terbiasa keluar masuk club malam untuk berfoya-foya. Bisakah ia disebut beruntung karena kasus Ayahnya itu menimpa disaat Giselle belum terjerumus ke dalam dunia malam ibukota?


Selama ini Giselle tidak pernah dekat dengan pria manapun, ia hanya sesekali tertarik pada pria tampan di sekitarnya. Tapi berpacaran? sama sekali belum pernah. Kalau dipikir-pikir, dulu ia juga tidak memiliki banyak teman, sekarang tiba-tiba ia bertanya-tanya, apa dulu ia sangat menyebalkan?


Giselle menghela napasnya lalu melempar pandangan ke luar jendela taksi yang ditumpanginya. Disaat kondisinya tidak baik-baik saja, tiba-tiba muncul Galendra yang begitu saja sudah masuk ke dalam hidupnya.


Dia pria yang baik. Tentu saja , semua orang tahu itu. Menjadi kekasihnya? Giselle tidak berani se percaya diri itu, meski Galendra sudah terang-terangan menyatakan perasaannya.


Giselle lekas keluar saat taksi berhenti tepat di depan rumahnya. Langkahnya melambat ketika matanya menangkap sebuah mobil sedan berwarna putih yang terparkir tidak jauh dari pagar.


Apa ada tamu? Baik Giselle maupun Cleopatra hampir tidak pernah menerima tamu, karena mereka berdua sama-sama tidak memiliki teman disini. Kecuali Galendra tentu saja.


Tamu tetangga? Itu lebih masuk akal.


Baru saja Giselle menyimpulkan siapa pemilik mobil itu, sebuah pekikan terdengar dari pintu rumah.


"Gi!"


Giselle mendongak, sedetik kemudian matanya terbelalak.


Gadis yang berdiri di pintu rumahnya itu kini melangkah cepat lalu menghambur memeluk tubuh ramping Giselle.


"Mel.." suara Giselle melirih sembari tangannya menepuk pelan punggung gadis itu.


"Jahat! Kenapa pindah nggak bilang-bilang? Kenapa nomor hp kamu nggak aktif? Semua medsos juga ilang. Jahat banget sih!" Imel mendorong pelan bahu Giselle, air matanya sudah menganak sungai dengan bibir yang cemberut.


"Di dalem aja ngamuknya , Mel!" Cleopatra memekik dari ambang pintu, meminta dua gadis itu masuk ke dalam rumah.


Imel berbalik dan melangkah lebih dulu setelah melirik ketus ke arah Giselle.


Giselle terkekeh , lihatlah! Imel bahkan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Ah , apa dirinya dulu juga seperti itu? kekanak-kanakan.


"Maaf, kamu tahu sendiri kondisiku waktu itu kacau banget." Giselle duduk menempel di samping Imel karena gadis itu masih saja memasang wajah cemberutnya.

__ADS_1


Imel mendengus lalu memutar bola matanya malas.


"Hum?" Giselle merengek, bergelayut menggoyang-goyangkan lengan Imel.


Imel mencebik. "Pindah ya pindah aja! Tapi kenapa musti hapus semua akun medsos? Kenapa musti ganti nomer? Ganti nomer nggak masalah, tapi kenapa nggak ngabarin pakai nomer baru?" Imel mencecar Giselle dengan pertanyaan yang sejak hampir dua tahun lalu memenuhi pikirannya.


"Maaf." Giselle menunduk, terlihat jelas raut bersalah di wajahnya. "Medsos waktu itu udah kayak mimpi buruk. Aku hampir gila karena bacain komentar-komentar jahat disana." Ia menarik napasnya pelan, lalu membuangnya lagi. "Aku takut kamu ikutan di hate karena deket sama aku."


Giselle tidak berbohong, memang itulah yang ia rasakan.


Imel menarik napasnya kasar. Ia tahu persis apa yang terjadi dua tahun lalu. Mereka sedang sangat bahagia menikmati hari-hari sebagai mahasiswa tahun pertama. Hidup bersenang-senang seputar kampus dan pusat perbelanjaan. Hingga kasus yang menyeret Ayah dan Kakak Giselle seperti menjungkirbalikkan hidup mereka. Giselle kehilangan banyak hal selain Ayah dan kakaknya. Mobil, kartu kredit, dan rumah yang selama ini ia tinggali harus dijual untuk membayar ganti rugi atas kecurangan Ayah Giselle. Giselle juga harus kehilangan muka di hadapan teman-temannya karena seseorang yang selama ini ia rendahkan justru adalah gadis yang tidak bisa mereka tandingi. Dan yang paling menyakitkan, Siska --sahabat mereka yang lain-- juga memutuskan untuk meninggalkan Giselle. Berbalik arah memusuhi dan mati-matian mempermalukan Giselle.


Karena itulah mungkin Giselle jadi menarik diri, menghilang dari hidup semua orang yang mengenalnya, termasuk Imel.


"Jangan sedih lagi. Kamu hidup dengan baik kan disini?" Imel mengusap pelan lengan Giselle.


Giselle mengangguk. "Sangat baik. Aku sama Kak Cle lebih nyaman disini karena nggak ada yang tahu masalalu kami."


**


"Ada acara?" Galendra melongokkan kepalanya ke dalam rumah saat Cleopatra membuka pintu.


"Hah? Acara apa?"


"Itu rame banget suaranya di dalem." ucap Galendra lagi, karena meski tadi ia melongokkan kepalanya, tetap saja ia tidak melihat sumber tawa yang terdengar sampai ke luar pagar.


"Ah.." Cleopatra terkekeh, lalu melangkah lebih dulu menuju kursi di teras rumah, diikuti oleh Galendra. "Nggak rame, cuma Giselle sama temennya."


"Temennya?" Galendra yang sudah duduk di samping Cleo mengernyit. Pasalnya selama berbulan-bulan ia mendekati Giselle, tidak pernah sekalipun Galendra melihat gadis itu bersama seorang teman.


"Temennya dari Jakarta." Jawab Cleopatra lirih.


Terdengar lagi suara tawa terbahak dari dalam rumah tepat saat Cleo menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


Dan Galendra tahu, itu adalah suara Giselle.


Cleo menyunggingkan senyumnya. "Giselle ketawa kayak gitu, kirain aku nggak akan pernah denger lagi."


"Kayaknya lagi seneng banget ya dia." Galendra ikut tersenyum tipis.


"Giselle yang dulu, se ceria itu. Bawel banget dan energinya kayak nggak pernah abis." Cleopatra menoleh pada Galendra. "Tolong Gal, jangan mainin perasaannya. Sejujurnya aku kadang-kadang masih takut. Takut kalau-kalau Giselle jatuh cinta sama kamu, tapi kamu nggak tulus."


Galendra terdiam, ia meremat kedua tangannya pelan.


"Giselle ngelewatin banyak hal dua tahun ini. Aku tahu, kamu paham maksudku." Cleopatra tersenyum, lalu bangkit berdiri.


"Aku..." Galendra mendongak, menatap Cleopatra yang sedang berdiri di hadapannya. Hanya dua detik, Galendra menurunkan pandangannya. "Akan memperlakukan Giselle dengan baik." ucapnya pelan, sembari meremat makin kuat kedua telapak tangannya.


Cleo tersenyum lalu menyentuh pelan bahu Galendra. "Aku panggil dulu Giselle di dalem." ucapnya sembari berlalu masuk ke dalam rumah.


Tidak lama kemudian Galendra menoleh ke arah pintu rumah karena terdengar suara langkah kaki yang setengah berlari. Galendra sudah hampir tersenyum sebelum seorang gadis tidak ia kenal muncul di depan pintu.


"Pantes aja Giselle betah banget disini, punya pacar cakep ternyata." Imel memekik heboh.


Galendra tersenyum canggung lalu menyentuh tengkuknya.


Giselle melotot tajam membuat Imel terkekeh.


"Maaf, Kak Gale. Ini Imel, temen aku. Mulutnya emang kadang-kadang harus di lakban." Giselle melirik sebal ke arah sahabatnya. "Mel, ini Kak Gale. Dokter yang--"


"Galendra. Calon pacar Giselle!" Galendra tersenyum sembari mengulurkan tangannya pada Imel.


Giselle membeku dengan jantung berdebar tidak aman.


Sedang Imel melompat kecil dengan semangat. "Yaampun Neng Giselle kenapa dari dulu hokimu bagus sih." pekiknya menyambut uluran tangan Galendra.


**

__ADS_1


__ADS_2