Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Putus Asa


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan --oleh Galendra-- , siang ini ia bersama Cleo dan Giselle makan siang bersama. Memilih sebuah rumah makan soto ayam kampung, Giselle hanya menyantap se mangkuk soto tanpa tambahan apapun meski mulut Galendra hampir berbusa menawarkan semua menu yang ada di sana.


Mau perkedel?


Mau bakwan goreng?


Kerupuknya, mau?


Semua lauk pendamping yang ada di rumah makan itu di sebutkan oleh Galendra satu persatu, tapi Giselle hanya menggeleng dan menjawab "Tidak, Kak. Terima kasih." Sudah seperti template yang otomatis keluar dari bibir gadis itu.


Akhirnya Galendra menyerah , membiarkan Giselle menikmati se mangkuk soto dan sesekali meneguk air mineralnya. Hingga sepanjang perjalanan pulang pun, Giselle masih setia dengan mode diamnya. Galendra menghela napasnya , jika seperti ini terus bagaimana ia bisa memastikan Dion tidak dekat-dekat dengan Giselle.


"Maaf ya Gal , kamu udah meluangkan waktu tapi Giselle masih belum banyak bicara." Cleo meringis sungkan , saat Giselle pamit lebih dulu masuk ke dalam rumah.


"Apa hidupnya berat?" Galendra terus memandang ke arah pintu rumah dimana Giselle baru saja melangkah masuk.


Cleo menghela napas. "Hum. Sangat. Setahun lalu, Giselle gadis ceria. Seperti remaja lainnya , pergi kuliah dengan tampilan modis , pulang kuliah bersenang-senang di mall atau cafe dengan teman-temannya. Dia putri bungsu yang sangat dimanja oleh Ayah dan kakaknya. Hingga sebuah tragedi, mengharuskan kami pindah kesini. Sejak itulah , dia berubah."


"Dimana kalian tinggal sebelumnya?"


"Jakarta."


Galendra mengernyit. Jakarta adalah kota besar , kota tujuan hampir semua orang yang ingin merantau mengadu nasib. Jika hidupnya sudah sangat berkecukupan disana , kenapa pindah ke kota Malang yang walau bukan kota kecil, tapi tentu tidak sebanding dengan Ibu Kota. Fasilitas, hiburan , pendidikan , kemudahan. Semua ada di Jakarta.


"Malang memang nggak bisa dibandingkan dengan Jakarta , tapi aku jamin kalian nggak akan bosan disini." Galendra penasaran , tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Seperti biasa , ia memamerkan deretan giginya.


Setelah pamit pada Cleo, Galendra berniat kembali ke rumah sakit. Sepanjang jalan ia terus menduga-duga apa yang sebenarnya dialami gadis itu setahun lalu. Seberat apa , hingga cukup menjadikannya alasan untuk bunuh diri.


Galendra memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Kalina yang sepertinya juga baru datang. Mereka keluar bersamaan dari mobil masing-masing.


"Darimana?" Kalina tersenyum riang meraih lengan adiknya.

__ADS_1


"Mbak darimana?"


"Ck." Kalina mencebik. Bukannya menjawab, Galendra malah balik bertanya. "Dari rumah , mbak bawa makan siang." Ucapnya sembari mengangkat satu buah lunch bag berukuran cukup besar. "Ayo makan siang sama-sama."


"Aku udah makan siang. Lagian ini jam berapa , udah lewat jam makan siang." Galendra mencibir.


"Mas Dion tadi masuk ruang operasi sebelum makan siang jadi katanya Mbak dateng telat aja."


"Artinya itu buat Dion , bukan buat aku." Galendra melirik sebal Kalina yang berjalan di sisinya.


"Mas , Gal!" lirikan Kalina tak kalah tajam.


Galendra hanya memutar bola matanya malas , lalu menemani kakaknya hingga ke ruangan Dion.


"Paduka , makan siang anda sudah tiba." Galendra membungkukkan badannya sesaat setelah memasuki ruangan Dion.


Dion terkekeh , sedangkan Kalina lagi-lagi melirik adiknya dengan kesal.


"Makan disini aja , Gal." Dion berdiri lalu memeluk istrinya.


"Makan dimana?" Entah kenapa , kali ini Dion penasaran.


"Warung soto deket ITN. Sama Giselle." Tidak ada yang bertanya dengan siapa dia makan , tapi Galendra ingin memberitahu semua orang.


Dion dan Kalina terbelalak.


"Siapa Giselle?" Kalina lebih dulu mengeluarkan pertanyaannya.


"Wah , kamu beneran tertarik sama dia Gal? Kirain cuma main-main."


Galendra memutar bola matanya malas. "Aku nggak pernah mainin cewek ya. Flirting-flirting gitu tuh cuma iklan." Ia memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan Dion tanpa mengatakan apapun lagi. Tidak memedulikan Kalina yang terus saja bertanya siapa Giselle.

__ADS_1


Lagi-lagi dadanya serasa di remas. Kebahagiaan Kalina yang ia lihat tadi, Galendra terus berharap itu tidak akan pernah berakhir.


**


Galendra memasuki sebuah unit apartemen di bilangan soekarno-hatta. Wajahnya tertunduk, ia merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu. Tadinya ia ingin memejamkan mata , tapi suara seseorang menginterupsinya.


"Minum dulu." Arya , sahabatnya sekaligus pemilik unit apartemen ini, menyodorkan satu kaleng soda ke hadapan Galendra.


Galendra mengubah posisinya menjadi duduk, menerima kaleng soda itu dan langsung membukanya.


"Selama ini, kalau lagi pergi , aku selalu happy. Ngerasa ini anugerah , bahwa ini adalah bayaran yang Tuhan kasih atas kehilangan Bapak sama Ibu." Galendra membuka suara setelah sekali meneguk minumannya.


Jika ia mengatakan tentang 'pergi', Arya tahu itu tentang kemampuan Galendra yang bisa pergi ke masa depan.


Arya tidak menyela.


"Tapi sekarang , aku ngerasa ini kutukan." Galendra menunduk , tenggorokannya serasa tercekik.


"Belum ada yang berubah?" Tentang apa yang akan terjadi enam tahun kemudian , Galendra memang menceritakannya pada Arya. Arya adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang kemampuannya pergi ke masa depan.


Galendra menggeleng. "Aku harus gimana? Sebanyak apapun aku pikirin, cuma ada satu kemungkinan masuk akal kenapa Dion bisa nikah sama Giselle. Giselle yang pasien attempted suicide, dapet pengawasan lebih dari Dion sebagai bentuk tanggung jawab petugas medis. Dari situ mereka deket , sampe jatuh cinta--" Lagi-lagi Galendra tercekat , membayangkan pria yang berstatus sebagai kakak iparnya itu mencintai perempuan lain selain kakaknya , rasanya sakit sekali. "Sampai mereka nikah."


Galendra menghela napasnya sejenak. "Berapa hari ini, aku mastiin Dion sama Giselle nggak pernah ketemu lagi sejak Giselle keluar dari rumah sakit. Aku terang-terangan kasih perhatian buat Giselle , supaya Dion nggak khawatir lagi dan nggak punya pikiran untuk sekedar nanya gimana kabarnya. Aku bener-bener udah usaha." Ia meneguk lagi soda di tangannya. "Tapi nggak ada yang berubah, berapa kalipun aku pergi , takdir mengerikan itu masih ada."


Arya menghela napasnya. Bertahun-tahun setelah kematian kedua orang tuanya , Galendra memang hanya memiliki Kalina. Jadi sahabatnya itu begitu tersiksa ketika ada sesuatu terjadi pada kakaknya. Dua tahun lalu, Kalina jatuh dari motor yang dikendarai temannya. Meski lukanya tidak parah , Galendra panik luar biasa. Berlari menyusuri koridor UGD, dan meminta dokter memeriksa berkali-kali apa ada sesuatu yang serius pada tubuh Kalina. Dua hari setelahnya, Galendra membelikan satu buah mobil untuk kakaknya. Dia melarang keras Kalina naik sepeda motor , meski hanya di bonceng.


"Enam tahun bukan waktu yang sebentar, Gal. Semua bisa terjadi. Waktu seminggu kamu ngawasin Giselle dan Dion , nggak bisa menjamin apa-apa."


Galendra terisak. Jangan mengatainya cengeng, percayalah sudah sekuat tenaga ia tahan agar air matanya tidak keluar.


"Apa lagi yang harus aku lakuin? Kalau sampe itu bener-bener terjadi, aku pasti hancur Ar. Aku nggak bisa ngeliat Mbak Kal kayak gitu. Apa itu memang nggak bisa diubah? Lantas buat apa aku bisa liat semuanya , kalau nggak bisa berbuat apa-apa?" ucapnya lirih , sorot putus asa itu terlihat jelas.

__ADS_1


"Pacarin Giselle. Kalau perlu nikahin. Iket dia , minimal selama enam tahun. Sampai Mbak Kal bener-bener selamat."


**


__ADS_2