
Dion berhenti melangkah. Ditatapnya Galendra dengan seksama. Dia tahu Galendra memang ramah --cenderung genit-- pada semua orang. Tapi pasien? Yang benar saja. Akan jadi masalah kalau gadis yang di godanya terbawa perasaan padahal Galendra hanya main-main.
Ditatap demikian, Galendra jadi mengedikkan dagu sebagai isyarat pertanyaan 'Kenapa ngeliatin aku begitu?' tanpa suara.
"Jangan macem-macem. Kalau mau main-main pilih-pilih. Jangan sampe anak orang jadi baper terus ngobrak ngabrik nih rumah sakit gara-gara kamu."
"Siapa sih yang main-main? Aku serius kok , emang cakep gitu tuh cewek."
Dion memutar bola matanya malas. "Dasar buaya! Nggak bisa liat yang bening dikit." ucapnya sambil berlalu meninggalkan Galendra begitu saja.
Galendra mencebik. "Andai dia tahu kayak gimana kelakuannya enam tahun lagi." gumamnya tak kalah sebal.
**
Galendra sudah bertekad. Ia tidak mungkin meminta Kalina membatalkan pernikahannya , jadi ia akan menjauhkan Dion dari Giselle sebelum mereka semakin dekat dan nantinya berujung menghancurkan Kalina.
Galendra memandangi Giselle dari jarak yang cukup jauh. Gadis dengan piyama rumah sakit itu sedang berdiri di sisi jendela besar yang ada di lantai empat. Entah apa yang dia pandang , tatapannya lurus ke luar jendela.
Cukup lama Galendra mengamati Giselle sembari mengatur raut wajahnya. Biasanya Galendra dengan mudah tersenyum lebar di hadapan orang lain. Tapi melihat Giselle , entah kenapa hatinya sesak. Ia tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Hanya melihat punggung itu dari jauh saja mampu memantik lagi rasa sakit di hatinya.
Galendra menghela napas , lalu perlahan menghampiri Giselle. Berpura-pura sedang memandang ke luar jendela lalu menampakkan ekspresi terkejut seperti tidak menyangka melihat Giselle disana.
"Eh , hai. Pasien Dokter Dion ya?" Galendra memasang senyumnya yang entah terlihat tulus atau tidak ia sendiri tidak yakin.
Giselle mengangguk lemah dengan senyum kecil.
"Aku Gale." Galendra mengulurkan tangannya. "Dokter anak. Sayang banget kamu bukan anak-anak." Ia terkekeh garing saat Giselle menerima uluran tangannya.
"Maaf , saya permisi." Giselle mengangguk pelan sebagai isyarat pamit lebih dulu.
"Sering-seringlah tersenyum." ucap Galendra sebelum Giselle benar-benar menjauh.
Saat Gadis itu menghilang di ujung koridor, senyum Galendra menghilang. Ia berbalik , memandang lagi ke luar jendela dengan meremat kemeja di bagian dadanya. Napasnya sesak.
__ADS_1
Harus pura-pura tersenyum di hadapan seseorang yang ia benci, rasanya sakit sekali.
**
Dua hari ini Galendra sibuk berpura-pura di depan Giselle. Berpura-pura tidak sengaja masuk ke dalam lift yang sama. Berpura-pura tidak sengaja berpapasan dimanapun , di koridor di taman , bahkan di coffeshop.
Dan setiap ia menampilkan raut terkejut, Galendra selalu menyempatkan diri untuk tersenyum dan menyapa. Hai , Giselle. Seperti itu terus sampai entah sudah berapa belas kali.
Galendra berlari menuju kamarnya, mengunci pintu setelah berteriak mengatakan ingin beristirahat dan meminta Kalina tidak mengganggu.
Galendra duduk di tepi ranjang , membuka lagi buku tebal peninggalan Ibunya. Buku yang selama beberapa tahun ini menjadi pintu untuk ia pergi ke masa depan. Pagi tadi, ia mendapat informasi bahwa besok Giselle sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, jadi sekarang Galendra ingin memastikan lagi hidup kakaknya di masa depan. Sebelum ia mengambil keputusan , terus mendekati Giselle meski gadis itu sudah tidak lagi di rawat , atau berhenti.
...Dua puluh Agustus, dua ribu dua puluh sembilan....
...Galendra berlari keluar dari rumahnya. Tanpa berpikir dia lekas menghentikan taksi yang melintas tepat setelah ia sampai di jalan raya depan pintu gerbang komplek....
...Sepanjang perjalanan menuju rumah kakaknya , ia terus berdebar. Apa yang ia lihat kemarin, ia harap tidak melihatnya hari ini. Ia ingin memastikannya sekali lagi....
...Tapi lagi-lagi tubuhnya luruh. Adegan yang sama dengan yang ia lihat kemarin , ia lihat lagi saat ini. Menyaksikan dirinya sendiri yang menangis meraung-raung saat mobil ambulans yang membawa jenazah kakaknya itu menjauh....
Bisa pergi ke masa depan , entah ini adalah anugerah atau musibah. Ketika ia melihat hal buruk akan terjadi , bagus jika ia sempat mecegah. Tapi jika tidak? Galendra tidak bisa membayangkan , jika apa yang dilihatnya tadi benar-benar menjadi kenyataan. Bagiamana cara ia menghentikan takdir mengerikan itu?
**
Galendra berjalan tergesa memasuki bangsal kelas satu , tempat Giselle di rawat. Hingga sampai di depan sebuah ruangan , Galendra bertanya kepada salah satu perawat yang bertugas.
"Pasien Giselle , keluar hari ini?"
"Iya Dok , lagi nunggu dulu Dokter Dion visit sebelum diperbolehkan pulang."
Galendra mengangguk lalu menoleh ke arah datangnya tadi saat mendengar langkah kaki yang mendekat.
Dion mengedikkan dagunya saat bertatapan dengan Galendra sebagai isyarat pertanyaan 'ngapain disini?' Pasalnya Galendra adalah Dokter anak , dan ini bukan bangsal anak.
__ADS_1
Galendra tidak menjawab. Ia menyambar punggung Dion dan mendorongnya pelan, isyarat perintah 'cepetan jalan' lalu dia sendiri mengekori Dion masuk ke dalam salah satu ruangan.
Benar saja , itu adalah ruangan dimana Giselle di rawat. Dalam satu kamar , hanya ada satu pasien. Meski tidak se mewah kamar VIP , tapi ruangan ini cukup nyaman. Untuk pasien , maupun untuk keluarga yang berjaga.
Setelah memeriksa keadaan Giselle dan mengatakan beberapa hal yang harus diingat gadis itu , Dion berpamitan lalu lagi-lagi mengedikkan dagu karena Galendra tidak juga beranjak.
Galendra tidak memedulikan tatapan penuh tanya calon kakak iparnya. Ia malah bergerak mendekati ranjang Giselle.
"Pulang sama siapa? Biar aku antar ya?"
Giselle mengerjap , Cleopatra --kakak sepupu Giselle-- juga mematung sesaat.
Dion yang sudah sampai di ambang pintu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berlalu dari sana.
"Huh?" Giselle lagi-lagi mengerjapkan matanya.
"Eh , nggak usah repot-repot Dok. Kita bisa naik taksi." Cleopatra menyela karena dilihat Giselle masih bergeming --terkejut--.
Dokter ini, yang Cleo tidak tahu namanya tapi sering sekali mereka berpapasan. Dan setiap mereka tidak sengaja bertemu, pria ini selalu tersenyum ramah menyapa adik sepupunya.
"Nggak repot kok, hum , Mbak?"
"Ah , nama saya Cleopatra." Cleo mengulurkan tangannya.
"Gale. Saya Dokter anak disini. Bukan orang jahat kok." Galendra memamerkan deretan giginya.
Cleopatra jadi tersenyum canggung. Bukan maksudnya mencurigai pria yang katakanlah berniat baik ini, tapi mengantar pulang? Tiba-tiba saja?
Giselle pun menolak dengan halus. Mengatakan jika mereka bisa pulang naik taksi tapi perdebatan itu tentu saja di menangkan Galendra. Pria itu sangat pintar berkata-kata hingga lawan bicaranya merasa tidak enak hati jika menolak keinginannya.
"Mulai hari ini, kita berteman hm?" Lagi-lagi Galendra menampilkan cengirannya.
Dan lagi-lagi Giselle hanya mengangguk, tidak bisa menolak.
__ADS_1
**