Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Apa sia-sia?


__ADS_3

Pernah dengar seorang bijak yang mengatakan bahwa semua memiliki masanya, ada waktunya? Di dunia ini tidak ada yang bertahan selamanya, baik itu kebahagiaan maupun kesedihan. Saat kebahagiaan datang, nikmati. Karena tidak ada yang tahu sampai kapan kebahagiaan itu bertahan. Begitupun saat sedih, saat terluka, saat terpuruk. Jalani saja. Kuatkan hati, bertahanlah setengah mati. Karena sebagaimana kebahagiaan, kesedihan juga tidak menetap selamanya.


Giselle tersenyum kecil menatap wajahnya sendiri di cermin. Dua tahun lalu seperti mimpi buruk. Hidupnya yang mulus lancar seperti jalan tol tiba-tiba duuaaarr! Ada bom yang entah darimana menghancurkan hati dan hidupnya. Ia mencoba bangkit dengan tertatih, sudah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, tapi beberapa bulan lalu, Giselle menyerah. Ia tidak kuat lagi.


Siapa sangka, ketika sampai di titik menyerah dan tidak ingin berusaha lagi, adalah titik awal yang mengantarnya pada hari ini. Karena keputusan gila nya hari itu, ia mengenal Galendra. Pria yang pelan tapi pasti berhasil menghuni salah satu sudut hatinya.


"Kang Masnya udah pulang baru senyum-senyum sendiri. Tadi aja ada orangnya malah duduk jauh-jauhan." Imel menginterupsi lamunan manis Giselle.


Giselle menoleh. Menatap Imel yang sedang tengkurap di atas ranjangnya. Lihatlah! Jika hari itu semesta mengijinkan ia menyerah, ia tidak akan lagi melihat sahabat baiknya ini.


"Kak Gale cuma temen, jangan ngomong sembarangan aku nggak enak tahu." Giselle cemberut lalu kembali menatap cermin sembari memakai rangkain skincare nya.


Imel terperangah. "Masih?"


Giselle mengernyit lalu mengedikkan dagu tidak mengerti.


"Jual mahalnya!" Imel berdecak sebal. "Orangnya udah nggak ada disini Gi. Takut banget ketahuan kalau naksir juga?"


Giselle melotot. "Kita tuh cuma--"


"Dia sendiri tadi yang bilang emang lagi ngedeketin kamu! Dan kamu tuh naksir juga sama dia." Imel mengubah posisinya menjadi duduk.


"Nggak apa-apa kali, Gi. Kak Cle bilang juga kalau dia baik. Kenapa sih?"


Giselle menggigit bibir bawahnya agar air matanya tidak tumpah. Ah kenapa dia jadi mudah sekali menangis.


"Baik, tulus, mapan. Dapet bonus ganteng. Jackpot!" ucap Imel lagi karena Giselle hanya diam.


Giselle menghela napasnya. "Sempurna 'kan? Masa dapetnya aku yang--"


"Apa?" Potong Imel cepat. "Kamu juga baik, cantik, pinter, tulus. Yang paling penting, dia sayang kamu, kamu sayang dia."


Giselle menggigit lagi bibir bawahnya. Dia mendadak sulit mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


Imel beranjak menghampiri Giselle yang duduk di kursi meja riasnya. Imel menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Berhenti menulis daftar kekuranganmu. Kamu berharga, kamu pantas dapat seseorang se sempurna kak Gale. Kamu pantas, Gi. Kalau kalian berjodoh, bukan hanya kamu yang beruntung, Kak Gale juga beruntung banget dapetin kamu."


Tangis Giselle pecah, ia terisak di perut Imel yang sedang berdiri sambil memeluknya.


"Apa boleh?" Giselle mendongak menatap Imel. "Apa boleh aku bahagia? Aku jahat banget Mel. Tiga tahun aku hina-hina Andreea--"


"Itu dulu. Kamu udah berubah."


"Setelah apa yang Ayah sama Kakakku lakuin, apa aku boleh bahagia?"


Imel menarik napasnya pelan, lalu berjongkok di hadapan Giselle. "Andreea udah maafin kamu. Dengerin aku baik-baik." Imel menatap kedua mata Giselle, memastikan gadis itu mendengarnya dengan baik. "Andreea maafin kamu, atas kesalahan kamu selama kalian saling kenal. Kamu sering hina dia, ngomong kasar, fitnah dia. Andreea maafin kamu. Dia bilang sendiri ke aku. Dia nanyain kabar kamu beberapa bulan setelah kamu pindah gitu aja."


Giselle terisak semakin kencang, mengingat bagaimana ia dulu memperlakukan Andreea dengan buruk. Ia bahkan pernah menyebarkan rumor gadis itu menggoda kakak temannya.


"Cuma itu kesalahan kamu yang dia maafin."


Giselle terkejut, apa Andreea masih marah padanya karena Ayahnya membunuh kedua orang tua Andreea? Ah tentu saja, wajar bukan?


Imel terisak sembari kembali memeluk Giselle. "Aku nggak bohong, Gi. Aku bersumpah. Andreea bilang gitu ke aku. Kamu boleh tanya langsung sama dia." Imel terus menangis di sela-sela kalimatnya. "Jadi cukup, udah cukup kamu menghukum diri kamu sendiri. Hum?"


Giselle semakin menangis sesenggukan. Dan di sela-sela tangisnya, ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


Kisah Andreea, bisa dibaca di karyaku yang lain ya.. Judulnya ISTRI KECIL WAKIL PRESDIR.


**


Sementara di apartemen milik Arya, lagi-lagi Galendra datang dalam keadaan setengah sadar. Matanya memerah dengan aroma alkohol yang menguar. Arya merebahkan tubuh Galendra ke atas ranjang. Dibanding kemarin malam, malam ini Galendra tidak benar-benar mabuk karena Arya cepat-cepat membawanya pulang. Ia masih bisa mendengar dan mencerna beberapa hal.


"Kalau Mbak Kal tahu kamu begini, dia pasti sedih." Arya berkacak pinggang memandang sahabatnya.


Galendra menutup wajahnya dengan sebelah lengan. Meski tanpa suara isakan, terlihat jelas ada air mata yang mengalir di sela-sela lengannya. "Aku takut, Ar. Aku nggak bisa kalau Mbak Kal bener-bener ninggalin aku."


Arya menghela napasnya. Galendra terlihat sangat menyedihkan. "Giselle gimana? Bukannya kamu bilang selama ini bahkan dia sama Dion nggak pernah ketemu?"

__ADS_1


Galendra mengangguk pelan. "Aku udah minta dia jadi pacarku, tapi belum dijawab. Gimanapun caranya, Giselle harus jadi pacarku supaya aku bisa awasin dia dari deket."


Arya menghela napasnya (lagi). "Aku rasa juga itu satu-satunya cara." ucapnya pelan sebelum keluar dari kamar yang ditempati Galendra.


**


Galendra susah payah membuka matanya saat terdengar suara ponsel yang berdering. Ia terus memegangi kepalanya yang pusing sampai dering ponsel berhenti dengan sendirinya. Setelah matanya mulai beradaptasi dengan cahaya lampu dan cahaya matahari yang memaksa masuk melalu sela-sela gorden, Galendra berdiri hendak menuju kamar mandi.


Tapi baru dua langkah, ponselnya berdering lagi. Terpaksa ia berbalik memutari ranjang dan meraih ponsel di atas nakas.


Galendra berdehem sejenak mengatur suaranya. "Ya, Mbak?" Pengendalian diri Galendra sangat baik. Padahal kepalanya masih sangat pusing, tapi suaranya bisa terdengar normal. Ia tidak ingin Kalina khawatir.


"Kamu dimana? Nggak praktik hari ini? Suster Farah bilang kamu nggak dateng tanpa pemberitahuan."


"Praktik kok. Bentar lagi aku-- uhuk uhuk." Galendra tersedak ludahnya sendiri saat tanpa sengaja melihat jam dinding. Pukul satu siang.


"Aku ada urusan tadi, Mbak. Makanya izin nggak praktik. Aku udah kabarin kok supaya jadwal konsultasi pasienku di undur." Galendra meralat jawabannya, terpaksa berbohong agar Kalina tidak khawatir karena memang bukan kebiasaannya membolos tanpa pemberitahuan. Perkara jadwal pasiennya yang hari ini tertunda, ia akan pikirkan nanti.


"Udah selesai belum urusannya? Kalau belum selesai, biar Giselle makan sama Mbak."


Galendra mengernyit. "Giselle?"


"Dia dateng bawa makan siang eh kamu malah nggak ada. Lain kali tuh, kabarin Giselle tiap kemana-mana." Kalina menggerutu sebal.


"Giselle ke rumah sakit?"


"Iya. Mbak ajak nunggu di ruangan Mas Dion. Tapi ini udah siang banget, kamu makan diluar aja. Biar Giselle makan sama Mbak sama Mas Dion disini." Kalina memutus sambungan teleponnya sepihak.


Galendra berdegup, meremat kuat ponsel di tangannya lalu jatuh terduduk di lantai dengan isak tangis.


Apa delapan bulan ini aku mengusahakan hal yang sia-sia?


**

__ADS_1


__ADS_2