Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Jangan Minta Maaf , Cukup Jangan Ulangi Lagi


__ADS_3

Galendra berjalan gontai memasuki rumah. Di tangan kanannya ia menenteng jas hitam yang ia pakai sejak pagi buta tadi. Sedang tangan kirinya, menggenggam ponsel dan kunci mobilnya.


Galendra menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tengah. Sebelah tangannya yang tadi menenteng jas sudah berpindah menutupi kedua matanya. Ia menghela napasnya. Padahal Kalina sangat sering menginap di luar entah karena pekerjaan atau bersenang-senang dengan teman-temannya. Tapi kali ini rasanya berbeda , Kalina bukan hanya menginap di luar. Kakaknya itu sudah pindah , ke rumah suaminya. Bagi Kalina , rumah ini bukan lagi rumahnya.


Di balik lengannya , Galendra terisak --lagi-- . Entah sudah yang ke berapa kali hari ini.


Mengetahui apa yang akan terjadi enam tahun kemudian, rasanya seperti kutukan.


Galendra melangkah menuju kamarnya , mengambil lagi buku usang peninggalan Ibunya. Sepertinya ia akan lebih sering pergi, untuk mencari tahu apa yang bisa ia lakukan demi menyelamatkan kakaknya.


...Dua ribu dua puluh sembilan , dua hari sebelum ulang tahun Kalina....


...Galendra berlari keluar dari rumahnya , untuk mencari taksi seperti biasa. Akan terlalu lama jika ia memesan lebih dulu taksi online. Ia tidak punya waktu untuk bersantai....


...Kali ini tujuannya bukan rumah Kalina , tapi rumah sakit tempat Dion --dan dirinya-- bekerja....


...Sebelum turun dari taksi , Dion memakai masker dan topinya. Cukup untuk menyembunyikan wajahnya. Ia berjalan tergesa menuju coffeeshop di lantai dua. Entah apa yang ia harap bisa temukan disana....


...Baru saja memasuki lift, tidak lama Dion masuk juga bersama dirinya di masa depan....


...Deg....


...Tidak , Galendra di masa depan tidak boleh menoleh. Jika Galendra menyadari keberadaan dirinya dari masa lalu, maka selesai sudah. Galendra tidak akan bisa kembali ke masa kini....


...Beruntung, ada empat orang lain diantara mereka. Jadi sedikit menyamarkan keberadaan Galendra....


...Galendra melihat dirinya mengobrol riang dengan Dion, sesekali keduanya terkekeh. Seperti tidak ada masalah yang berarti. Hingga pintu lift terbuka di lantai dua, Galendra yang tadinya ingin ke Coffeeshop mengurungkan niatnya. Jika ia keluar, ada lebih besar kemungkinan terpergok oleh dirinya sendiri....


..."Ntar aku kesana deh , kangen banget sama Mbak Kal sama Embun."...


...Dion nampak mengangguk. "Kamu udah kaya raya, jadi jangan sok sibuk." Ia terkekeh. "Ponakan kamu tuh udah bisa protes kalau aku pulang kemaleman."...


...Keduanya terkekeh....


...Galendra meremas tali ranselnya. Keponakan? Embun kah namanya? Jadi Mbak Kal sudah punya anak? Lalu apa alasan Dion menikah lagi?...


...Banyak pertanyaan di kepalanya , tapi sayang Galendra tidak bisa lekas menemukan jawabannya....


...Pintu lift kembali terbuka. Beberapa orang masuk dari lantai empat hingga membuat Gale dan Dion mundur beberapa langkah....


..."Oh ya Mas , dua hari Mbak Kal ulang tahun. Aku bingung mau ngasih kado apa."...

__ADS_1


...Dari belakang sini, Galendra bisa melihat kening Dion yang berkerut nampak memikirkan sesuatu....


..."Paket honeymoon kedua?" Dion berbisik sembari mengerlingkan matanya , sedangkan Galendra mencebik....


..."Kamu udah honeymoon sepuluh kali." liriknya sebal....


...Dion terkekeh....


...Dan beberapa detik kemudian , Galendra melihat dua orang itu keluar dari lift karena telah sampai di lantai yang mereka tuju....


...Galendra bergeming. Ini sudah dua hari menjelang ulang tahun Kalina. Dua hari menjelang tragedi itu. Tapi Galendra tidak melihat ada sesuatu yang serius dari percakapan Dion dan dirinya di masa depan....


**


Sudah seminggu sejak pernikahan Kalina, tapi Galendra belum menemukan apapun. Dalam seminggu ini, sudah belasan kali ia pergi ke masa depan , mencari tahu apa yang terjadi tapi belum juga menemukan jawabannya. Kalina dan Dion nampak baik-baik saja. Tapi berkali-kali Galendra pergi ke hari ulang tahun Kalina , kejadian itu tetap tidak berubah. Dion menikah lagi, dan Kalina bunuh diri.


Galendra berteriak frustasi sebelum keluar dari mobil dan memasuki rumah sakit.


Saat baru memasuki lobby depan , Galendra melihat Giselle dan Cleopatra yang akan memasuki lift. Iapun mengejar.


"Hai, Gi." Sapanya sesaat setelah ia juga memasuki lift yang sama. "Ada sesi konseling?"


Giselle mengangguk. "Kak Gale ada praktek?"


"Hum." Galendra mengangguk, lalu mengangkat pergelangan tangannya. "Nanti aku selesai sebelum jam makan siang. Kita makan siang sama-sama setelah itu aku antar pulang ya."


"Ah, nggak--"


"Nggak apa-apa kan Cle?" Galendra menoleh ke arah Cleopatra yang langsung menganggukkan kepalanya.


Galendra tersenyum. "Aku duluan ya. Semoga sesi konselingmu menyenangkan." Ia mengacak pelan rambut Giselle lalu keluar dari sana saat pintu lift terbuka.


Giselle mematung sedangkan Cleo terkekeh.


"Galendra , manis banget deh ya?" Cleo menyenggol pelan lengan Giselle.


Giselle hanya menunduk , tidak ingin menanggapi.


Sementara di luar, Galendra menghentikan langkahnya saat pintu lift sudah tertutup.


Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam kantong snellinya.

__ADS_1


"Bagaimanapun , aku akan mencegah kedekatanmu dengan Dion."


Galendra mendengus , sebagian dirinya mengatakan ia jahat karena mencoba mempermainkan hati gadis itu. Tapi sebagian lagi membenarkan , bahwa ia memang harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan kakaknya.


**


Setelah sesi konseling berakhir , Cleo mengajak Giselle duduk di salah satu taman yang ada di lantai empat rumah sakit. Masih tiga puluh menit lagi sebelum jam makan siang.


Cleo menggenggam tangan Giselle. "Gi , kamu ingat nggak kotak musik jadul yang dulu banget kamu minta?"


Giselle menoleh. "Yang katanya hadiah dari eyang buat kak Cle?"


Cleo mengangguk. "Itu hadiah terakhir dari eyang sebelum eyang meninggal."


Cleo menghela napasnya sejenak. "Kakak kasih itu ke kamu, bukan karena itu "cuma kotak musik" dan kakak bisa beli lagi. Harganya mungkin nggak seberapa, tapi fakta bahwa itu hadiah dari eyang yang bikin berharga. Kakak kasih itu ke kamu , karena kamu minta."


Giselle mengerjap.


"Artinya kakak sayang banget sama kamu , walaupun kamu bukan adik kandung kakak."


Mata Giselle sudah berkaca-kaca.


"Kalau kamu ulangin lagi yang kemarin--" Tenggorokan Cleo serasa tercekik. Suaranya sudah bergetar menahan tangis. "Kakak pasti hancur , Gi."


Giselle tahu , itu benar-benar isi hati kakak sepupunya. Ia masih ingat , saat baru terbangun di rumah sakit setelah tidak sadarkan diri , hal pertama yang ia lihat adalah Cleo yang menangis tersedu-sedu di samping ranjangnya. Entah berapa banyak doa yang saat itu Cleo panjatkan.


"Maaf kak , aku --"


"Jangan minta maaf." Cleo menggeleng cepat. "Tapi jangan di ulangi lagi, hum? Janji?"


Giselle mengangguk samar.


"Seberat apapun , ayo kita hadapi berdua."


Giselle terisak. "Aku ngerasa hidupku kacau, Kak. Ayah sama Kak Rachel di penjara. Selain aku , kakak juga ikut di hina orang. Dan sekarang aku malah ngerepotin kakak. Biaya hidupku, biaya kuliahku."


Cleo menggeleng. "Nggak. Sisa uang penjualan rumahmu , cukup untuk biaya hidupmu. Lagipula Anggara dan istrinya , menitipkan uang yang cukup untukmu, kamu ingat kan? Jadi jangan ngerasa ngerepotin kakak."


Dua nama itu disebut, membuat Giselle semakin terisak.


**

__ADS_1


__ADS_2