Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Pembelian Tanah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Giselle sudah turun dari kamarnya , mendapati Cleo yang sedang memasak di dapur kecil rumah mereka tapi menolak saat Giselle berniat membantu.


Giselle keluar , memilih untuk menyiram beberapa tanaman di halaman rumah mereka yang tidak terlaku besar. Hidupnya benar-benar berubah. Setahun lalu , jangankan menyiram tanaman, ia bahkan tidak pernah bangun kurang dari jam tujuh pagi.


Kalau dipikir-pikir, bukan hanya hidupnya yang berubah. Hidup Cleo juga. Tragedi yang terjadi akibat ulah Ayah dan Kakak Giselle , membuat Cleo ikut terseret. Mau tidak mau , Cleo juga harus meninggalkan Jakarta demi bisa menjaga Giselle dari dekat. Dulu , Cleo bahkan tidak bisa menggoreng telur. Tapi kini, wanita dua puluh delapan tahun itu selalu berkutat di dapur tiap jam lima pagi.


Giselle tersenyum. Dari sekian banyak kemalangan yang dia alami, memiliki Cleo adalah satu yang masih bisa ia syukuri.


"Hai, Gi."


Giselle mendongak terkejut, sepagi ini kenapa Galendra sudah ada di depan pagar rumahnya. Ia membuang asal selang airnya , lalu mematikan kran sebelum berjalan membuka pagar rumah.


"Dari mana, Kak? Kenapa pagi-pagi sudah disini?" Giselle tersenyum mendapati cengiran khas Galendra.


Galendra melangkah sedikit ke halaman rumah. "Mau ke rumah sakit , aku jadwal pagi." Lagi-lagi pria itu tersenyum.


"Masuk dulu, aku buatkan kopi." Giselle berbalik hendak melangkah lebih jauh menuju pintu rumahnya.


"Aku nggak lama, Gi. Cuma mau ngasih ini." Galendra mengangsurkan sebuah keranjang rotan yang cukup besar.


"Buah?" Sekilas Giselle melihat memang keranjang itu berisi buah.


"Hum! Matoa."


"Huh?"


Galendra terkekeh. Raut kebingungan Giselle kenapa manis sekali. "Ini matoa , kemarin Mbakku dapat oleh-oleh banyak dari temennya yang baru pulang dari Papua. Aku juga dapet banyak banget."


Giselle masih mengamati keranjang buah yang kini sudah berpindah ke tangannya. "Enak?" Ia mendongak , menatap Galendra mencari jawaban.


Galendra terkekeh --lagi--. "Enak kok. Manis. Aku berangkat dulu ya." Tanpa menunggu jawaban dari Giselle, ia berbalik setelah melambaikan tangannya.


Dari dalam mobil, Galendra bisa melihat dengan jelas Giselle yang berdiri di depan pagar rumah dan melambaikan tangan ke arahnya. Ia menghela napas , apa harus sejauh ini demi menyelamatkan kakaknya?

__ADS_1


**


"Gal , kita jalan sekarang?" Dion yang tiba-tiba masuk ke dalam, mengejutkan si pemilik ruangan yang sedang melamun.


"Mengetuk pintu termasuk salah satu dasar sopan santun." Galendra mendengus.


Dion mencebik. "Yuk!"


Galendra mengangkat pergelangan tangannya, lalu mengangguk.


Hari ini, Galendra akan melakukan transaksi pembelian tanah yang tempo hari di tawarkan Sapta. Sebenarnya Kalina maupun Dion mengungkapkan keberatannya. Untuk apa? Tanah itu tidak memiliki lokasi yang strategis. Letaknya di perbatasan antara kabupaten dan kota. Bahkan sebagian tanahnya masuk ke wilayah Kota, sebagian lagi masuk ke wilayah kabupaten.


"Kamu yakin Gal sama tanah ini? Sapta udah nawar-nawarin lama banget lho dan belum laku juga , artinya emang lokasinya nggak bagus 'kan?" Nah kan , Dion masih berusaha menggoyahkan keinginan Galendra.


Bukan apa-apa. Tapi tanah ini sangat luas , hampir delapan hektar dan Sapta tidak ingin menjualnya sebagian. Ia hanya akan menjual semuanya sekaligus. Tanah seluas itu, dengan lokasi yang kurang strategis, untuk apa?


Galendra mengangguk. "Harganya bagus kok."


"Ya bagus sih, tapi mau buat apaan tanah segede itu? Kamu nggak punya cita-cita pensiun dini terus jadi petani kan?"


Dion terperangah. "Disana? Emang laku? Jauh kemana-mana gitu."


"Ya nggak sekarang. Ntar siapa tahu berapa tahun lagi udah mulai rame. Kan ku bilang juga sambil nunggu ngumpulin modal."


Dion tidak tahu saja , Galendra sudah melihat beberapa tahun kedepan wilayah itu cukup potensial untuk dijadikan hunian karena ada jalan tol yang akan dibangun melintas di wilayah tersebut.


Dion tidak berkomentar lagi. Selama ini ia tahu Galendra cukup 'beruntung' dengan bisnis properti nya. Meski bukan bisnis besar yang memiliki perusahaan, tapi hasilnya cukup menggiurkan. Beberapa tahun ini Galendra sering membeli tanah atau bangunan , lalu --seperti yang tadi Dion bilang-- beruntungnya tidak lama kemudian tanah-tanah atau bangunan-bangunan itu terjual dengan harga cukup tinggi.


Pernah Kalina murka saat Galendra membeli sebidang sawah seluas lima ribu meter persegi. Kalina menganggap adiknya membuang-buang uang tabungan mereka karena sawah itu hanya dapat di akses oleh jalan setapak. Kalaupun ditanami , biaya operasional nya akan sangat besar. Maklum saja , saat itu kedua orang tua mereka baru saja meninggal dunia jadi Kalina pikir harus menghemat-hemat uang yang mereka miliki , terlebih saat itu Galendra masih kuliah, masih membutuhkan banyak biaya.


Tapi siapa sangka , kurang dari enam bulan tanah itu terjual kepada sebuah perusahaan properti yang akan membangun komplek perumahan disana dengan puluhan hektar tanah di sekitar sawah milik Galendra.


Kurang dari enam bulan , Galendra mendapat keuntungan hampir tiga kali lipat.

__ADS_1


Sejak itulah , perlahan Galendra menekuni bisnis kecilnya. Membuat keuangan mereka sangat membaik hingga sekarang tidak kekurangan apapun.


Galendra turun dari mobilnya diikuti oleh Dion. Pertemuan berlangsung di sebuah kantor notaris yang tidak jauh dari rumah sakit.


"Makasih, Gal. Kamu tahu susah banget jual tanah itu." Sapta menjabat tangan Galendra setelah transaksi mereka selesai.


"Padahal pinggir jalan banget, akses jalan gede juga." Galendra menanggapi dengan senyuman.


Dion mencebik. Padahal sejak lama ia dan Gale membahas banyaknya kekurangan dari tanah itu. Jauh kemana-mana adalah yang paling menjadi pertimbangan.


"Karena terlalu luas, Gal. Buat apa tanah seluas ini coba? Mana setengahnya lagi kan masuk kabupaten. Ada yang mau beli setengah-setengah, aku udah gatel pengen lepas aja. Tapi ku pikir-pikir kalau yang depan aku lepas duluan , yang belakang ntar makin susah jual."


Galendra terkekeh. Pemikiran Sapta memang sudah benar. Akan lebih sulit menjualnya jika setengah tanah yang terletak di wilayah kota itu terjual lebih dulu.


"Ngomong-ngomong, kamu buat apa tanah segede ini?"


"Investasi aja. Nabung dikit-dikit. Doain , sambil ngumpulin modal aku pengen bikin perumahan nanti."


"Wah mau banting setir jadi pebisnis aja? Bosen jadi dokter? Mau resign?"


"Sembarangan! Bisa di gorok Mbakku aku kalau berenti jadi dokter , dia yang bayarin kuliahku!" Galendra tertawa , tentu saja itu hanya bercanda. Karena menjadi dokter juga adalah cita-citanya yang sekuat tenaga ia perjuangkan.


Setelah basa basi sebentar , Sapta undur diri lebih dulu. Gale dan Dion pun kembali menuju ke rumah sakit.


"Nanti makan malam dirumah aku aja dong. Kamu belum pernah lain sejak aku nikah sama Mbakmu." Dion membuka suara saat mobil mereka sudah melaju.


Galendra meremas ujung kemejanya. "Besok-besok aja deh."


Mendatangi rumah Dion dan Kalina? Itu sama saja ia menyakiti dirinya sendiri. Rumah yang belum ia datangi itu, sudah hampir sepuluh hari ini ia kunjungi puluhan kali.


"Aku ada janji sama Giselle." lanjutnya lagi setelah ia mendengar Dion mendengus kecewa.


"Kamu beneran suka sama dia Gal?" Dion membelalak. Kemarin ia mendapati adik iparnya makan siang dengan gadis itu. Dan sekarang , lagi-lagi Galendra ada janji dengan Giselle.

__ADS_1


Galendra mengangguk. "Menurut kamu , Giselle gimana Mas?"


**


__ADS_2