Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh
MJ - Aku Deketin Kali Ya


__ADS_3

Galendra berlari menghampiri Kalina yang baru saja keluar dari sebuah toko perhiasan bersama Dion. Ia memeluk wanita itu erat, mendekapnya kuat-kuat seolah tidak ingin kehilangan.


"Gal, kenapa sih peluk-peluk?" Kalina meronta , mencoba melepaskan pelukan adiknya. Ini sudah hampir petang, banyak orang lalu lalang karena memang sudah masuk waktu bubar kantor.


"Kangen."


"Heleh. Lepasin! Malu diliatin orang."


Galendra mendengar Dion terkekeh, dan seperti teringat lagi apa yang ia lihat tadi, ia lekas mendongak menatap sengit calon kakak iparnya.


"Mbak , pulang sama aku!" Galendra sudah akan menarik pergelangan tangan Kalina tetapi Dion malah menarik tangan Kalina yang lain.


"Kita mau makan dulu, gabung aja yuk!"


"Lepasin!" Galendra melepaskan paksa tautan tangan Dion dan Kalina.


Kalina hanya menggeleng pelan menatap Dion, isyarat agar pria itu mengalah.


Dion mengerti , karena ia juga melihat tatapan penuh kebencian di mata Galendra. Jadi ia membiarkan Kalina masuk ke dalam mobil adiknya.


Kenapa tuh anak astaga.


**


Kalina membelai kepala Galendra yang memanfaatkan pahanya sebagai bantal di ruang tengah rumah mereka. Entah ada apa , Kalina merasa adiknya hari ini berbeda. Galendra terus menempel kepadanya sejak sampai di rumah tadi.


"Kenapa sih? Marah sama Mas Dion? Berantem?" Kalina mencoba mencari tahu karena sudah berjam-jam sejak kejadian sore tadi tapi Galendra belum mengatakan apapun.


Galendra mencebik lalu menutup matanya berpura-pura tidur.


Kalina tahu , adiknya menghindari pembahasan tentang Dion. Ia tidak memaksa , jika Gale belum siap bercerita tidak apa-apa.


"Tidur di kamar sana!" Kalina menepuk pelan lengan adiknya agar pria itu beranjak.


Galendra membuka mata , tapi bukannya bangun dari posisinya sekarang, ia malah menatap sendu mata kakaknya.


"Mbak , kenapa mau nikah sama Mas Dion?"


Kalina mengernyit. "Karena dia ganteng?"


"Mbak!"

__ADS_1


Kalina terkekeh. "Dia sayang sama Mbak , akrab sama kamu. Punya perkerjaan yang layak."


"Itu aja?"


Kalina mengangguk. "Itu lebih dari cukup. Dia sayang sama Mbak artinya kecil kemungkinan dia selingkuh atau KDRT. Dia akrab sama kamu artinya Mbak nggak perlu usaha lagi bikin kamu nyaman di deket dia. Kamu satu-satunya keluarga Mbak, jadi Mbak pengen suami Mbak nanti bisa deket sama kamu. Dia punya pekerjaan yang layak artinya Mbak nggak perlu berantem-berantem receh karena masalah ekonomi." Ia menghela napas sejenak. "Kenapa sih? Jangan bilang kamu baper karena Mbak mau nikah , jadi drama ala-ala bocah Mbak jangan tinggalkan aku , gitu?" ia terkekeh di ujung kalimatnya.


Galendra memutar bola matanya malas. "Mbak nggak mau pikir--"


"Nggak!" Kalina memotong cepat ucapan adiknya. "Dion baik banget nggak sih Gal? Mbak nggak akan nemuin yang lebih baik dari dia."


Galendra menghela napas. Benar , Dion memang sangat baik dan terlihat menyayangi kakaknya selama ini. Lagi pula pernikahan mereka kurang empat hari lagi , tidak mungkin kan jika tiba-tiba Galendra minta Kalina membatalkan semuanya? Ia harus bilang apa? Karena enam tahun kemudian Dion akan menikah lagi dan Kalina berakhir bunuh diri? Yang benar saja , bisa-bisa Kalina menganggapnya tidak waras.


"Kamu nggak mau minta Mbak batalin semuanya kan?" Kalina menyelidik.


Galendra menegakkan tubuhnya , duduk menghadap Kalina. "Emang Mbak mau batalin kalau aku minta?"


Kalina memukul keras lengan adiknya. "Ya enggak lah!" Ia terkekeh.


Galendra mencebik kesal.


"Udah , sana ke kamar! Jangan banyak mikir macem-macem. Mbak tahu kamu khawatir , tapi kalau kamu nggak bisa kasih alesan yang masuk akal artinya kamu cuma baper, merasa Dion akan ngambil Mbak dari kamu. Ya kan?"


Galendra tidak menjawab apapun , ia hanya berdecih sambil melirik kesal Kalina , lalu beranjak menuju kamarnya sendiri.


**


"Gal , sarapan dulu?" Dion mengedikkan dagu ke atas ke arah coffeeshop di lantai dua.


Galendra hanya berdecih lalu melanjutkan langkahnya memasuki lift.


"Gal! Aku ada salah apa gimana sih?" Dion mengekor dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Galendra mengela napas. Akal sehatnya mengatakan tentu saja Dion kebingungan dengan sikapnya. Tapi sudut hatinya masih merasa sangat marah ketika mengingat lagi apa yang ia lihat di hidupnya enam tahun mendatang.


"Di, kenapa kamu mau nikahin Mbak Kal?" Galendra melirik sebal ke arah Dion disampingnya.


"Biar kamu bisa panggil aku Mas?"


"Di!" Astaga kenapa pria ini sama saja dengan kakaknya.


Dion terkekeh. "Aku nggak akan nikah kalau bukan sama Mbakmu." tatapannya menerawang. "Dia sempurna. Kalau kamu bukan adiknya , aku jamin kamu juga akan jatuh cinta sama dia."

__ADS_1


Galendra bisa melihat ketulusan di mata Dion. "Jadi kamu cinta sama Mbak Kal?"


Dion memutar bola matanya kesal. "Pertanyaan apaan begitu! Kalau ngga cinta ngapain aku nikahin."


Benar , selama ini pun Galendra bisa melihat Dion sangat mencintai kakaknya. Lalu kenapa hanya dalam waktu enam tahun pria itu akan mengkhianati Kalina?


Galendra menghela napas. "Jangan sakitin Mbak Kal please. Hitung sampai sejuta setiap kali kamu mau nyakitin Mbak Kal , sampe-sampe kamu nggak minat lagi nyakitin dia karena males ngitung banyak-banyak."


Dion terkekeh. "Galau mau ditinggal nikah?" ia melongok wajah calon adik iparnya itu.


Galendra mencebik tapi urung mengumpati Dion karena pintu lift terbuka.


"Hai , Giselle. Habis jalan-jalan?" Dion menyapa ramah pasien yang baru saja masuk ke dalam lift bersama seorang perempuan.


Giselle mengangguk pelan sembari tersenyum. Wanita itu juga menatap ramah ke arah Galendra yang enggan membalas senyumnya.


Galendra meremat kuat ujung snellinya. Hubungan Dion dan Giselle jelas bermula dari hubungan antara Dokter dan pasiennya. Entah bagaimana enam tahun kemudian mereka bisa menikah dan menghancurkan hidup Kalina.


Galendra terus menatap punggung Giselle yang membelakanginya. Di perhatikannya juga Dion yang nampak acuh dan sibuk dengan ponselnya. Dari ujung matanya Galendra bisa melihat pria itu sedang mengirim pesan pada Kalina.


Jangan terlalu lelah , nanti aku jemput yaa. I love you. Aku cinta sekali sama kamu.


Cih. Galendra berdecih membaca serangkai kalimat rayuan yang di ketik Dion. Jangan lupakan tanda hati di ujung kalimat membuat Galendra memutar bola matanya sebal.


Tidak lama pintu lift terbuka dan Giselle berbalik , mengangguk pelan ke arah Galendra dan Dion sebagai tanda ia pamit keluar lebih dulu.


Dan lagi-lagi hanya Dion yang menanggapi dengan senyum Galendra masih setia dengan wajah ketusnya.


"Siapa?" Galendra membuka suara saat pintu lift kembali tertutup.


"Huh?"


Galendra mengedikkan dagu ke arah pintu, isyarat ia menanyakan gadis yang baru saja keluar.


"Ah , Giselle. Dia yang tempo hari di temuin di gedung sebelah." Dion menjawab sembari melangkah keluar karena mereka sampai di lantai yang mereka tuju.


"Huh? Attempted suicide?" Galendra memang mendengar kabar ada seorang gadis yang melakukan percobaan bunuh diri tidak sengaja di temukan oleh petugas pengangkut sampah di gedung kosong yang terletak persis di sebelah rumah sakit.


Dion mengangguk. "Pelaku percobaan bunuh diri , pasti akan ngelakuin lagi saat punya kesempatan. Makanya sekarang kemana-mana dia diikutin sama kakaknya yang tadi itu."


Kini Galendra tahu , alasan kenapa Dion banyak tersenyum pada gadis itu. Saat di koridor tempo hari, terlihat jelas Dion yang mencoba banyak bicara untuk membuat gadis itu nyaman. Saat di lift tadi pun sama , Dion tersenyum sangat lebar. Pelaku percobaan bunuh diri , memang butuh perlakuan khusus. Mereka harus percaya, bahwa diri mereka berharga.

__ADS_1


"Cakep juga. Aku deketin kali ya."


**


__ADS_2