
Pagi ini , Kalina resmi di persunting Dion. Diantara banyaknya orang yang hadir di acara pernikahan mereka , Galendra lah yang tangisnya paling kencang.
Kalina menggeleng-gelengkan kepalanya. Harusnya ia yang menangis haru, tapi kini malah ia sibuk menenangkan adiknya yang belum juga berhenti menangis meski sudah lima belas menit.
"Gal udah dong. Mbak menikah , bukannya diculik."
Andai Kalina tahu , apa yang dilihat Galendra di masa depan jauh lebih buruk daripada diculik. Yah , meski diculik juga bukan hal baik.
"Biarin aja , kapan lagi kita bisa lihat dia nangis." Dion yang berdiri di sisi Kalina menimpali sambil menahan tawanya.
Galendra melirik tajam , melempar tatapan permusuhan. "Pokoknya awas kamu Di kalau sampai nyakitin Mbakku. Ingat yang aku bilang kemarin--"
"Iya iya , ntar aku itung dulu sampe sejuta kalau mau nyakitin Kalina."
Kalina mengernyit, menatap penuh tanya kepada suaminya.
"Kata Gale , sebelum nyakitin kamu aku harus itung dulu sampe sejuta biar capek duluan sebelum marah atau nyakitin kamu." Dion menambahkan kekehannya di ujung kalimat.
Kalina berdecih lalu memukul pelan lengan adiknya yang masih menikmati sisa sisa tangisnya.
"Mbak! Aku tuh cuma pengen kamu bahagia!" Galendra memegangi sebelah lengannya yang baru saja dipukul.
Kalina memandang lekat wajah adiknya, lalu semakin memangkas jarak untuk memeluk adik kecil yang tubuhnya lebih besar darinya itu.
"Jangan khawatir, Mbak akan bahagia." ucapnya lirih.
Entah kenapa , fakta bahwa Galendra mewanti-wanti Dion agar tidak pernah menyakitinya , justru membuat hatinya terluka. Seharusnya ia yang menjaga Gale , seharusnya ia yang memastikan kebahagiaan Gale. Sejak kedua orang tuanya meninggal , adiknya ini mendadak jadi sangat dewasa dan berperan seperti kakak ketimbang adik.
"Janji? Jangan tutupin apapun dari aku Mbak. Kalau Dion--"
"Mas Gal , Mas!" Kalina memelototi adiknya itu.
Galendra mendesis. "Iya, maksudku kalau Mas Dion nyakitin Mbak, bilang sama aku. Jangan nutupin apapun, Mbak!" tidak lupa ia melirik kesal ke arah sahabatnya yang kini menjadi kakak iparnya.
"Tenang aja Dek , Masmu ini akan bersikap baik dan nggak pernah nyakitin Mbakmu." Dion terkekeh menyadari pelototan tajam dari adik iparnya.
__ADS_1
"Udahlah , mending aku makan." Galendra beranjak menjauh ke arah toilet untuk mencuci wajahnya.
Di dalam toilet , Galendra menatap wajahnya sendiri di cermin besar yang ada disana. Bulir-bulir di wajahnya , pasti orang mengira itu adalah sisa-sisa air yang digunakan untuk membasuh wajahnya. Hanya Galendra yang tahu, di wajah itu menempel lebih banyak air mata ketimbang air kran.
Oke , satu takdir sudah di mulai. Mbak Kalina udah nikah , aku hanya harus mastiin pernikahan ini jauh dari jangkauan Giselle.
**
Malam harinya Galendra berkunjung ke rumah Giselle. Langsung masuk menuju teras dan mengetuk pintu utama rumah itu karena tadi pagar tidak di kunci.
Anggaplah dia tidak waras. Sudah lelah karena pesta yang berlangsung seharian, bukannya istirahat ia malah bertamu ke rumah orang yang tidak terlalu ia kenal.
"Dok?" Cleopatra nampak terkejut saat membuka pintu.
Galendra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum cerah. "Maaf aku bertamu di jam segini , Giselle ada Cle?"
Cleo berdehem. Ia tadi masih saja sungkan tapi Galendra seperti tidak bercanda dengan ucapannya kemarin , ia ingin mereka lebih santai.
"Masuk , aku panggil dulu Giselle." Cleopatra membuka lebih lebar pintu rumahnya tapi pria itu menolak.
"Aku disini aja." Galendra mendekati sisi kiri teras dan menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada disana.
"Udah selesai acaranya?"
Bukan , itu bukan Giselle yang bertanya melainkan Cleopatra. Giselle hanya duduk , lalu membisu. Seolah kehadirannya saja sudah cukup untuk menghormati tamu yang datang, tidak butuh sampai bicara 'kan?
Galendra mengangguk menatap Cleo. "Cape banget. Untung kamu nggak ikut , pasti bosen." Galendra mengalihkan pandangannya menatap Giselle dengan tersenyum. Berharap gadis itu membalasnya. Tapi lagi-lagi Giselle hanya menoleh sebentar lalu kembali memandangi jari-jarinya sendiri.
"Maaf ya Gal. Giselle hari ini lagi nggak enak badan." Cleo yang menjawab.
Pagi tadi , Galendra menepati ucapannya untuk menjemput Giselle. Ucapan yang dianggap candaan oleh gadis itu. Akhirnya Giselle beralasan sakit jadi tidak bisa ikut menghadiri pernikahan kakak Galendra.
"Nggak apa-apa. Sekarang udah sehat?" Galendra tidak menyerah , dia terus memantik obrolan dengan Giselle. "Aku bawain cake ini dari nikahan Mbakku. Enak banget lho, susah belinya harus PO karena laris." Galendra terkekeh sembari mendorong paperbag yang tadi ia bawa agar lebih mendekat ke arah Giselle. Ia tidak berbohong , cake itu memang sedang jadi incaran semua orang akhir-akhir ini.
"Makasih , Dok." Akhirnya Giselle buka suara setelah sejak tadi hanya diam.
__ADS_1
Galendra mengernyit sembari mengerucutkan bibirnya. "Kan aku udah bilang , Gale aja."
"Mana bisa begitu. Itu nggak so--"
"Kamu bukan pasienku." Galendra memotong cepat ucapan Giselle dan memamerkan raut kecewa.
"Kak Gale." Giselle menunduk , suaranya terdengar lirih. "Aku panggil Kak Gale aja."
Galendra sumringah, ia melirik sedikit ke arah Cleopatra yang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oke deal. Kalau gitu aku pulang ya, jangan lupa di makan cake nya."
Galendra beranjak keluar dari halaman setelah berpamitan singkat, dan menoleh lagi sebentar sebelum benar-benar berlalu dengan mobilnya.
Cleopatra yang melipat tangannya di dada pun masih menggelengkan kepalanya. Pria itu, benar ingin mendekati Giselle?
"Gi, kenapa Dokter Gale sampe begitu ya? Nggak mungkin deh kalau cuma karena kamu pasien percobaan bunuh diri."
Giselle tidak menjawab , hanya menatap Kakak sepupunya itu yang kini menempati kursi yang tadi di duduki Galendra.
"Dia kayaknya naksir sama kamu."
"Ck." Giselle mencebik kesal. Galendra tertarik padanya , itu adalah pemikiran paling bodoh. Kenapa juga Dokter muda dan tampan seperti Galendra tertarik pada gadis biasa yang keadaannya sangat kacau ketika mereka pertama kali bertemu.
"Kenapa ck? Kamu cantik , kamu--"
"Kak! Jangan memandangku seperti aku yang dulu. Giselle yang cantik , modis , kaya, dan mahasiswi populer. Giselle yang itu udah nggak ada." ucapnya lirih.
Cleopatra menghela napasnya. Ia berjongkok di hadapan Giselle dan menggenggam tangan gadis itu.
"Kamu masih Giselle yang cantik dan periang. Memangnya kenapa kalau kita udah nggak kaya lagi? Memangnya kenapa kalau kamu harus mengulang lagi kuliahmu tahun ini?"
Cleopatra melihat mata Giselle yang sudah berkaca-kaca. Giselle setahun lalu , adalah Giselle yang sempurna. Cantik, kaya , dan populer meski perangainya tidak terlalu baik. Tapi bagi Cleo tidak masalah , beberapa remaja memang begitu.
Hingga sebuah tragedi merenggut semuanya. Giselle sekarang , bukan lagi Giselle yang dulu.
Giselle menunduk , menatap Cleo yang mendongak masih dengan menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Yang terjadi setahun lalu bukan hanya mengubah aku jadi miskin, Kak. Tapi juga jadi putri dan adik pembunuh." jawabnya lagi , dengan air mata yang tumpah.
**