
Tenggarong, Kutai Kartanegara. Menjelang maghrib rumah Katarina.
"Apa kabar Bas? Tumben sendiri Sania mana?" Tanya Katarina pada kakak pertamanya itu.
"Lagi di rumah jagain Liana kamu tahu sendiri Liana nggak bisa ditinggal." Ucap Baskara menjelaskan keberadaan isterinya.
"Sabar Bas, semoga Liana cepat sembuh ya. Kalian udah bawa dia ke dokter spesialis?" Tanya Katarina.
"Udah tapi semua sia-sia dokter pun sudah angkat tangan," ucap Baskara sedih.
Liana adalah anak kedua Baskara yang berumur dua puluh tahun sudah dua minggu ini ia mengalami gangguan jiwa, ia terlihat seperti takut akan sesuatu terkadang menangis hingga menjerit ketakutan. Dari pihak rumah sakit pun menyatakan tidak ada penyakit yang di dapat dari hasil pemeriksaan Liana.
Ponsel Baskara berdering ia pun mengangkat telepon yang berasal dari Anastasia adik bungsunya.
"Apa? Jangan main-main kalau bicara Nas!"
["Nggak, aku nggak main-main sumpah Sabina meninggal Bas, cepatlah kemari."] Ucap Anastasia sambil terisak.
"Ayo Katarina, kita bergegas ke rumah Sabina," teriak Baskara sambil berdiri dan mematikan ponselnya.
"Ada apa ini Bas?" Bingung Katarina.
"Sabina meninggal," ucap Baskara.
"Oh Tuhan, apa yang terjadi padamu Sabina." Histeris Katarina.
"Sudahlah ayo." Baskara gegas menuju mobilnya disusul oleh Katarina dan anak bungsunya Adara.
Sementara di mobil yang lain anak-anak Katarina mengikuti dari belakang ada Amara dan suaminya serta Anando adik laki-laki Amara.
Perasaan cemas berkecamuk dalam pikiran Katarina apa yang menimpa adiknya hingga dikabarkan meninggal padahal baru tadi siang adiknya itu berkunjung ke rumahnya.
Ia berharap kabar yang di terima dari Anastasia hanyalah kesalahan pendengaran semata namun sayang, pemandangan yang ada di depannya sungguh menyakitkan hati.
Sabina ditemukan dalam keadaan mengenaskan di dalam kamar mandi, kepalanya terbenam dalam baskom pakaian kotor dengan posisi tubuh yang sedang duduk di atas dingklik dan tangan menggantung ke belakang.
__ADS_1
Katarina segera memeluk Rosa anak bungsu Sabina yang masih berumur enam tahun itu, wajah Rosa tampak pucat pasi matanya terlihat kosong saking syoknya. Bagaimana tidak, gadis kecil itulah yang pertama kali mengetahui kondisi ibunya.
Saat kejadian Sabina hanya berduaan dengan anak bungsunya itu, sementara Rahani anak pertamanya sedang bekerja di Kutai Barat, Rikardo anak kedua Sabina yang duduk di kelas dua SMA sedang bermain Futsal dengan teman-temannya dan Galih suami Sabina sedang dinas ke Samarinda.
Dengan susah payah Baskara, Anastasia dan Katarina beserta suami Amara mengangkat tubuh Sabina dan memindahkannya ke ruang tamu.
Baskara sibuk menelepon kesana kemari dengan suara yang serak, sementara Katarina dan Anastasia menangis meratapi adik dan kakak mereka itu yang sudah terbujur kaku.
Tubuhnya pucat, wajahnya sedikit membiru dan terdapat lingkaran yang menghitam pada kedua matanya.
"Ibuuuuuu!" Histeris Rikardo yang baru pulang dari lapangan futsal.
"Apa, kenapa ibuku? Ada apa ini? Bu, bangun Bu bangun." Rikardo mengguncang-guncang tubuh ibunya.
"Sabar Nak, sabar." Anastasia meraih tubuh Rikardo dan menenangkannya di dalam dekapannya.
"Apa yang terjadi pada ibuku tante Anas? Kenapa ibuku begitu," Rikardo terus berteriak histeris.
"Sabar Nak sabar, tante juga belum tahu," ucap Anastasia.
"Ibu ... ibu ... kenapa ibuku harus pergi secepat ini tante, Rikar nggak mau ibu mati." Lisan Rikardo dalam tangisan.
Dua jam kemudian Galih yang baru turun dari mobilnya langsung menghambur ke jenazah Sabina isterinya, ia nampak syok karena sebelumnya ia meninggalkan isterinya dalam keadaan sehat dan tak sedang sakit apa pun namun kini isterinya itu sudah terbujur kaku di ruang tamu.
Menjelang subuh Rahani anak pertama Sabina yang bekerja di Kutai Barat tiba dengan derai air mata melihat kondisi ibunya yang menyambut ia dengan tubuh yang sudah tak bernyawa.
Keesokan harinya upacara pemakaman dilangsungkan, banyak para pelayat yang terkejut mendengar kematian Sabina yang begitu tiba-tiba. Galih yang duduk di samping jenazah Sabina nampak gelisah sesekali ia membalas pesan dan mengangkat telepon dengan sembunyi-sembunyi yang entah dari siapa.
"Sabar sayang, aku harap kamu bisa mengerti hari ini pemakaman isteriku. Tolonglah." Ucap galih pelan di telepon namun masih bisa didengar oleh Katarina.
Setelah menerima telepon itu Galih kembali memasang wajah sedih dan mengeluarkan air mata untuk menangisi isterinya. Jika tidak ingat pada Rosa yang sedang duduk di pangkuannya dan hadirnya para pelayat mungkin Katarina sudah menembakkan timah panas ke kepala Galih.
Isak tangis mengiri kepergian Sabina jenazah Sabina dimakamkan di kuburan Kristen Rondong Demang Tenggarong Kutai Kartanegara.
Upacara pemakaman selesai semua pelayat dan keluarga sudah kembali ke rumah masing-masing termasuk Baskara. Ia masuk ke kamar Liana yang sedang menangis dan tertawa dengan bergantian.
__ADS_1
"Sabar Nak, besok kamu pasti sudah sembuh." Ucap Baskara yang mengelus rambut anak keduanya itu.
*****
Menjelang maghrib di rumah Sabina.
"Rosa ibu cucian dulu ya, Rosa jangan kemana-mana." Sabina meletakkan sepiring nasi dihadapan Rosa dan menyalakan TV untuknya.
Gadis kecil itu mengangguk lalu ia menyantap nasi beserta lauk yang sudah disediakan oleh ibunya sambil menonton film SpongeBob kesukaannya.
Pembantu Sabina sudah tidak datang dari kemarin, ia meminta ijin untuk tidak bekerja sementara waktu karena ibunya sedang kritis di rumah sakit oleh sebab itu Sabina terpaksa mencuci pakaian seorang diri. Nasi sudah habis, haus pun mendera tenggorokan Rosa.
"Bu minum!" Panggil Rosa.
"Bu!" Teriak Rosa.
"Buuuuu Rosa hauuuuus!" Masih sepi tidak ada jawaban dari ibunya.
Rosa pun bangkit dan mendatangi ibunya, ia terkejut melihat kondisi ibunya demikan. Ia berlari ke luar rumah dan memanggil tetangganya Sandy yang kebetulan melintas di depan rumahnya.
"Kakak Sandy tolong, tolong kakak Sandy." Panggil Rosa pada remaja yang berumur tujuh belas tahun tersebut yang mengekos dekat rumahnya.
Dahi Sandy mengkerut ia pun menghampiri Rosa. "Ada apa Rosa panggil-panggil kakak Sandy?"
"Kakak Sandy ibu Rosa mati," ucap Rosa polos.
"Ah, jangan sembarangan dedek Rosa nggak boleh ngomong gitu," ucap Sandy bingung.
"Rosa nggak bohong," lirih Rosa.
"Udah ya, kakak Sandy mau ke warung dulu."
Langkah Sandy terhenti karena Rosa menarik bajunya dari celah pagar sambil menangis. Karena penasaran Sandy pun membuka pagar dan mengikuti tarikan tangan bocah itu yang masih memegang bajunya dengan erat.
Sandy pun terkejut melihat kondisi ibu Rosa yang demikian, ia berusaha mengangkat tubuh Sabina namun karena tubuhnya yang kurus ia tak mampu mengangkat tubuh Sabina yang lebih besar darinya.
__ADS_1
"Ayo antar kakak ke rumah keluarga Rosa ya."
Sandy pun menggendong Rosa dan gegas mengambil motornya lalu meluncur ke rumah yang ditunjuk oleh Rosa yaitu rumah Anastasia untuk mengabarkan keadaan ibunya Rosa.