Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
Bab 9 Tanda Kehadiran


__ADS_3

Jam sebelas siang Regina melangkahkan kakinya menyusuri jalan  antara rumah sakit dan rumahnya. Ia baru saja menjenguk iparnya yang baru melahirkan yaitu isteri Baldy adiknya Andra.


Para pengendara yang iba melihat ia berjalan dengan perut buncitnya banyak yang berhenti menawarkan tumpangan untuknya, namun Regina menolaknya dengan ramah karena ia memang ingin berjalan kaki menuju rumahnya dengan alasan ingin berolahraga untuk kelancaran persalinannya.


Regina berhenti di daerah pasar Tangga Arung tiba-tiba air liurnya serasa ingin menetes ketika ia mencium aroma pisang gapit. 


"Bang satu bungkus ya."


"Baik, Bu." 


Abang penjual pisang gapit segera menyiapkan pesanan Regina, beberapa menit kemudian 1 pelastik pisang gapit sudah di tenteng oleh Regina. Regina terus berjalan hingga ia tiba di tempat yang penuh dengan kenangan manis akan masa kecilnya, yaitu rumah orangtuanya.


Katarina yang sedang membuat hiasan dari manik-manik menatap heran pada puterinya yang datang dengan peluh yang bercucuran, matanya yang sudah tua dan harus memakai kacamata untuk membantu penglihatannya mengedar ke sekeliling pagar. Tak satupun ia melihat kendaraan yang mengantarkan puterinya.


"Lho kamu pulang sama siapa, Re?"


"Jalan kaki bu." ucap Regina lalu ia duduk disamping ibunya.


Katarina terkejut mendengar jawaban puterinya. "Astaga! Kamu ini cari penyakit aja,Re." Lanjutnya "Benaran kamu jalan kaki?"


"Iya, Bu." ucap Regina.


"Haduh kamu ini ada-ada saja." ucap Katarina sambil melanjutkan pekerjaannya.


Dengan gusar Regina berucap.


"Habisnya Regina kesal, Bu. Kenapa Mely istrinya Baldy sudah melahirkan duluan padahal kan duluan Regina yang hamil."


Katarina menghentikan aktivitasnya dan meletakkan semua peralatan jahit ke dalam keranjang, lalu menatap wajah puterinya.


"Re ... itu wajar karena bayinya perempuan, kalau perempuan biasanya lahir lebih cepat dari perkiraan berbeda dengan bayi laki-laki. Bayi laki-laki biasanya selalu lewat dari perkiraan melahirkan bahkan di jaman ibu dulu ada yang sampai sepuluh bulan, itu di sebut dengan hamil kerbau di dalam suku kita."


"Oh, ya." ucap Regina.


"Terus, kapan jadwal kamu periksa ke dokter lagi, Re?" tanya Katarina.


"Besok, Bu." jawab Regina.

__ADS_1


Katarina berdiri sambil menggendong keranjang alat jahitnya. " Ya, sudah. Kamu istirahat sana, ibu mau masak sebentar lagi Sesil pulang."


Regina mengangguk pelan dan mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam rumah. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, pikirannya kembali teringat pada ucapan mertuanya pada saat persiapan pernikahannya.


"Wah ... siapa ini bu Marisda, keluarga ibu ya? Boleh dong dikenalin sama ank saya nanti." 


Ucap salah satu tetangga ketika melihat Marisda masuk ke dapur mengapit wanita cantik. Marisda tersenyum.


"Ini calonnya Baldy, Bu. Yang tunangan bulan Februari kemarin."


"Oohhh ...." ucap sebagian ibu-ibu yang ada di dapur.


Marisda sengaja mengajak wanita itu duduk tak jauh dari Regina. Ia memperkenalkan wanita itu dengan bangga kepada semua ibu-ibu yang berada di dapur.


"Ini, Mely. Calonnya Baldy, rencananya bulan Agustus nanti mereka akan menikah, dia berasal dari keluarga baik-baik dan tentunya satu suku dengan kita."


Ada sesuatu yang perih di ulu hati Regina ketika mendengar ucapan Marisda namun ia tetap berusaha tegar dan tak ingin menjatuhkan air matanya di hadapan orang banyak.


"Saya berharap semua anak-anak saya dapat jodoh yang sesuku dengan kita. Eh ... malah Andra dapat jodoh yang nggak sesuai harapan saya, tapi nggak papa lah namanya sudah takdir Tuhan." ucap Marisda lagi.


"Jangan begitu loh Bu. Semua suku itu sama tergantung bagaimana kit--"


Ucap Bu Marisda memotong sambil melirik tajam ke arah Regina.


Regina hanya bisa menahan semua rasa sakit dan malu dalam diam. Hatinya hancur, bahkan menjelang pernikahannya Marisda belum bisa menerima kehadirannya sebagi menantunya. 


Namun hari ini semua rasa perih Regina terobati sedikit, semua yang dibanggakan oleh mertuanya perlahan luruh dengan kelahiran anak Mely dan Baldy yang ternyata malah lahir duluan. Sebelum Baldy dan Mely menikah ternyata Mely sudah mengandung dengan usia kehamilan yang sama dengan Regina.


Seorang anak laki-laki berusia empat tahun membuka pintu kamar Regina dan membuyarkan pikiran Regina yang melayang tak tentu arah.


"Eh, Dion. Dion dari mana nak kok ante--tante--nggak dengar suara Dion dari tadi?''


"Ikut ibu kerja." jawab Dion.


Dion dan Sesil adalah anak Nata kakak Regina, yang tinggal di rumah itu menemani ibunya semenjak ayahnya meninggal. Regina merupakan anak bungsu darah lima bersaudara, kakaknya yang pertama sudah menikah dan tinggal di kota yang sama dengan ibunya, yang kedua Nata, yang ketiga sudah menikah dan tinggal di kampung suaminya, yang keempat belum menikah dan tinggal di Kutai Barat karena ia bekerja di sana, dan yang kelima tentua saja Regina.


Sedangkan Andra adalah anak pertama dari lima bersaudara berbanding terbalik dengan Regina, banyak yang mengatakan kalau anak bungsu dan anak pertama menikah maka itu akan membawa pengaruh yang baik dalam rumah tangga, pernikahan yang awet, hidup yang bahagia dan rejeki yang lancar.

__ADS_1


Nata masuk ke dalam kamar Regina "Re, ntar sore bisa nggak temanin Dion ke acara ultah."


"Di mana kak." tanya Regina.


   


"Dekat  aja kok Re, itu di rumahnya Yuli. Si Varo yang ultah jam empat. Bisa kan?" jawab Nata.


Regina mengangguk, mengiyakan permintaan kakaknya. Dan tepat pukul empat Regina berangkat mengantarkan Sesil dan Dion pergi ke acara tersebut, mereka berjalan kaki bersama  tetangga lainnya karena jarak acara tidak terlalu jauh dari rumah.


"Ante dedong--gendong--Dion mau lihat badut."


Dion menarik-narik tangan Regina dan merengek minta di gendong karena ia inggin melihat badut Spongebob dan Micky Mouse yang berdiri melambai-lambai di sudut meja kue ulang tahun tertata. Regina bingung, tubuhnya yang membuncit di bagian depan agak kesulitan menggendong Dion. Akhirnya, Regina mengangkat tubuh Dion dan menggendongnya dari arah samping.


Jam enam sore akhirnya acara tersebut selesai, Regina bisa bernafas lega karena sepanjang acara harus menggendong Dion. Setelah tiba di rumah Regina segera mandi dan bersantai di ruang TV, tiba-tiba ia merasakan nyeri yang luar biasa di pinggang bagian belakangnya. "Ahh ... gara-gara  gendong Dion tadi sore pinggangku jadi sakit." 


Semakin lama sakitnya semakin terasa, Regina diam menahan rasa sakitnya karena ia tidak ingin membuat ibunya panik, ia menunggu Nata di ruang TV sampai jam sembilan malam untuk memberi tahu rasa sakitnya. Kebetulan Nata adalah seorang perawat dan biasanya jam sembilan atau sepuluh ia sudah pulang dari tempatnya bekerja.


"Kamu kenapa Re, kok kayaknya meringis gitu? Udah dapat tanda?".


Nata menghampiri Regina di ruang TV, karena saat ia membuka pintu ia melihat Regina seperti meringis menahan sesuatu yang sakit. Regina menceritakan kejadian saat acara ulang tahun tadi sore. Nata segera menyuruh Regina untuk berbaring di lantai, menekuk kakinya dan melebarkan selangkangannya untuk mengecek pembukaan. Lalu Nata mengambil Handscoun di dalam tasnya dan mengecek.


"Belum ada pembukaan sih, tanda-tanda juga belum ada. Mungkin kamu kecapekan jalan kaki tadi siang dan sorenya gendong Dion lagi.''


"Mungkin kali kak.'' jawab Regina, ia pun duduk kembali."


"Ada apa ini, kamu sudah ada tanda, Re?"


Tiba-tiba Katarina muncul dar arah kamar


"Belum, Bu. Mungkin Regin cuma capek karena gendong Dion selama acara tadi." ucap Regina.


"Ya sudah, kalo ad tanda-tanda bilang, jangan diem aja ya." Lanjut Katarina " Ibu mau istirahat dulu ngantuk banget soalnya."


Katarina masuk kembali ke kamarnya, sedangkan Nata dan Regina masih di ruang TV. Pinggang Regina semakin terasa nyeri, dan kini rasa sakit itu menjalar ke jalan rahimnya. Nata kembali memeriksa namun belum ada tanda pembukaan.


"Ya, sudah. Kita ke rumah Tante Widi sekarang."

__ADS_1


Jam satu malam Nata dan Regina berangkat ke rumah Tante Widi, adik dari Katarina yang merupakan seorang bidan dan Tante Widi adalah isteri Paman Johan. Nata mendorong motor agak jauh dari rumahnya agar tak di dengar oleh ibunya saat mereka keluar rumah.


__ADS_2