Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
7. Mandau Uyangk Dan Tengkorak Kakek Tingkin


__ADS_3

Beberapa gadis mulai mengerumuni Baskara bagaikan lalat yang berkerumun di atas bangkai, ada yang mengelus wajah, kepala, badan, paha bahkan alat vital milik Baskara.


Nafas Baskara mulai berirama dengan tak beraturan, dadanya bergemuruh merasakan ketegangan yang mulai terjadi di bagian bawah perutnya. Gadis-gadis itu mulai merayu dan mendesah penuh godaan pada Baskara, kedua manik hitam Baskara masih tertutup dibalik kelopak matanya.


Sekuat tenaga Baskara berusaha menahan gejolak yang semakin membara, gadis-gadis itu terus menggerayangi tubuh Baskara dengan liar dan penuh nafsu namun Baskara tetap tak bergeming. Ia tetap kokoh dalam diamnya.


Satu hari penuh gadis-gadis itu terus menggerayangi tubuh Baskara namun ia tetap kokoh tak bergeming, suara petir begitu menggelegar membahana di tengah hutan dan memekingkan telinga Baskara seketika gadis-gadis itu pun menghilang seiring jatuhnya petir itu, tak lama hujan deras pun muncul setelah petir itu turun menghujam bumi.


Hujan deras dan angin kencang menemani tapa Baskara malam itu, rasa dingin menyeruak bagaikan ribuan es yang menghujam tubuhnya namun ia tetap bertahan hingga mentari kembali bersinar pada keesokan harinya.


Rasa lelah tak terperi mulai menerpa sukma dan raga Baskara, tak ada satupun energi yang tersisa diraganya rasa lapar dan haus silih berganti dengan rasa lelah mengoyak tubuhnya namun ia bertekad untuk tetap bertahan hingga tak ada lagi nafas yang tersisa ditubuhnya.


Samar-samar suara Sania dan Miranda terdengar di balik air terjun. Mereka tengah asyik bercengkerama dipinggir kolam air terjun.


"Sania." Lirih Baskara dalam hati.


"Ayah, kami datang untuk menemanimu," teriak Sania manja. Lalu terdengar suara Sania dan Miranda melanjutkan cengkerama mereka, tiba-tiba.


"Ayah tolong!" Teriak Sania histeris.


Suara tangis Miranda pecah diantara desisan Ular yang menggema di seluruh hutan, Baskara mengepalkan tangannya hendak melompat keluar.


"Jangan! Itu bukan anak dan isterimu!" Suara hati kecilnya mulai menegur Baskara.


"Ayah, tolong kami Ayah! Auh, sakit Ayah. Tolong," rintihan Sania memilukan hati Baskara.


Kakinya ingin segera berdiri namun lagi-lagi hati kecilnya berteriak dengan lantang. " Sadarlah Baskara! Itu bukan anak dan isterimu, pikir baik-baik!"


"Ayah, tolong selamatkan kami. Toloooong." Jerit Sania semakin pilu.

__ADS_1


Suara jerit Miranda dan Sania semakin menyayat hati Baskara namun hati kecilnya juga terus memperingatkannya bahwa semua itu tidaklah nyata.


"Aaayyaaah, Toolooong."


Baskara ingin segera melompat keluar saat mendengar jeritan anak dan isterinya itu namun tubuhnya serasa tak berdaya untuk digerakkan.


"Aaaakkhh."


Sunyi sepi tak ada lagi suara jeritan setelah rintihan terakhir, air mata Baskara mengalir dari celah kelopak mata yang tertutup lalu membasahi pelipisnya.


"Maafkan aku," rintih Baskara dalam hati.


"Guuuung, guuuuunggg, gguuuunnnnng."


Terdengar suara gong menggaung sebanyak tiga kali, Baskara membuka matanya dan merangkak keluar ke arah air terjun. Tubuhnya terseok dengan lunglai hingga ke tepi, perlahan Baskara menggulingkan tubuhnya hingga jatuh ke dalam kolam air terjun tersebut.


"Selamat kau berhasil menjalani tapamu dan melawan ujian demi ujian yang terjadi," ucap kakek Muhdar. Tiba-tiba tubuh Baskara terangkat dan tersimpuh lemah dihadapan kakek Muhdar.


"Berdiri dan ikuti aku!" Perintah kakek Muhdar dan Baskara pun berdiri perlahan lalu mengikuti langkah kaki kakek Muhdar.


Perjalanan ke pondok kakek Muhdar terasa lebih cepat dan dekat dari waktu mereka berangkat, kini mereka sudah berada di ruangan yang sangat menyeramkan bagi Baskara.


Suasana gelap yang tak memiliki pencahayaan dengan baik, beberapa tengkorak manusia dan tengkorak kerbau bergelantungan di dinding dan setiap sudut ruangan, benda-benda antik dan


pusaka menghiasi setiap jengkal ruangan. Aroma kemenyan yang dicampur dengan mur menyeruak diseluruh ruangan itu.


"Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan mengulangi perkataanku," ucap kakek Muhdar, Baskara mengangguk.


"Tugasmu yang berikutnya adalah mengambil Mandau Uyangk--Mandau yang disimpan dalam peti mati dan dikubur bersama mayat--dan tengkorak kakek Tingkin yang ada di Lamin untuk menyempurnakan ritualmu. Bawalah kedua benda itu kemari sebelum ayam berkokok." ucap kakek Muhdar yang membuat Baskara menelan salivanya dalam-dalam.

__ADS_1


Baskara sedikit ciut saat kakek Muhdar menyebutkan tengkorak yang harus ia ambil, bagaimana tidak ciut? Tengkorak kakek Tingkin adalah tengkorak seorang kepala adat besar yang ditaruh di atas plafon Lamin dan dikeluarkan saat upacara Beliant--pengobatan suku Dayak Benuaq--, Pelas Tanah--ritual pembersihan kampung--maupun upacara ritual lainnya.


"Bila kau tak sanggup kau bisa mundur dan pergi dari tempat ini sekarang juga," ucap kakek Muhdar yang mengetahui keciutan dihati Baskara.


"Ma, Maaf Kek. Saya sanggup tapi bagaimana caranya saya menemukan makam yang berisi Mandau Uyangk itu," tanya Baskara hati-hati.


"Timang Metamp akan menuntunmu untuk mendapatkan semua barang itu," sahut kakek Muhdar.


"Ba, baik Kek." Baskara menundukkan kepalanya sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dada memberikan sembah pada kakek Muhdar.


Saat Baskara mengangkat kepalanya ia terkejut kakek Muhdar sudah tak ada dihadapannya bahkan ia kini tidak berada di pondok kakek Muhdar lagi, ia berada di tengah-tengah hutan yang mencekam.


"Lekaslah beranjak dan ikuti aku," ucap Timang Metamp siluman Macan Dahan.


Baskara beranjak dari tanah dan mengikuti langkah Timang Metamp pada malam yang gelap gulita di tengah hutan. Perjalanan kali ini dirasa sangat singkat bagi Baskara karena kini mereka sudah tiba di areal pemakaman khusus Mantiq--keturunan Ningrat-- yang ada disebelah utara Lamin desa Pondok Labu.


Timang Metamp berhenti pada salah satu makam yang memiliki ukiran sangat indah pada setiap inchi baturnya.


"Di sana." Ucap Timang Metamp pada Baskara.


Baskara menurunkan berangka dari pundaknya lalu mengambil beberapa alat yang entah kapan sudah berada didalam berangkanya dan Baskara pun mulai membongkar makam seorang Mantiq keturunan dari kakek Tingkin.


Dengan susah payah Baskara akhirnya bisa membongkar kuburan yang terbuat dari kayu ulin dan menggali tanah makam tersebut. Setelah cukup lama menggali akhirnya papan penutup peti mati pun muncul.


Baskara melepas satu per satu penutup peti mati yang terdiri dari beberapa susunan papan ulin setelah penutup peti terbuka nampaklah peti mati yang juga terbuat dari papan ulin yang diukir dengan sangat indah.


Bau busuk yang aneh menguar ketika peti mati berhasil dibuka, Baskara segera mengambil Mandau Uyangk yang berada di dada kerangka tulang manusia yang sudah mengering itu.


Sebelum menutup kembali peti mati tersebut Baskara juga mengambil tengkorak sang empunya pemilik peti. Setelah makam kembali seperti semula mereka pun melangkah ke Lamin untuk mengambil benda berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2