Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
Bab 13 Kemelut Hidup 1


__ADS_3

"Kamu gimana sih, Ndra. Ibu kan udah ingatin kamu dari jauh-jauh hari. Lusa ibu sudah mau berangkat."


Kemarahan Marisda kembali terjadi saat apa yang diinginkannya tak bisa dipenuhi oleh Andra.


Andra menunduk lesu, "Sabarlah, Bu. Seminggu lagi Andra gajian."


"Kok seminggu lagi! Lusa Ibu sudah mau berangkat, Ndra! Emang gajimu pada kemana kok cepat sekali habis makanya jangan terlalu boros kalau belanja" ucap Marisda marah.


"Ibu heran semenjak kamu menikah kamu jadi pelit dan perhitungan begini sama Ibu. Baru menikah saja ATM mu langsung di ganti, padahal selama ini gajimu aman-aman aja waktu Ibu yang pegang bahkan tabunganmu lumayan banyak. Sekarang satu sen pun kamu nggak punya tabungan." Lanjutnya lagi dengan penuh emosi.


"Bu ...."


"Inilah akibatnya kalau sembarangan memilih isteri."


Ucap Marisda marah tanpa memberikan kesempatan bagi Andra untuk berbicara. Marisda lalu pulang tanpa mengucapkan salam.


Regina menangis mendengar percakapan ibu mertua dan suaminya dari dalam kamar sambil menyusui Algi, mendengar langkah kaki Andra menuju ke kamar Regina buru-buru menghapus air matanya.


Andra duduk di tepi ranjang membelakangi Regina, tangannya memijat-mijat kepalanya yang terasa berat. Setelah Algi tertidur, Regina memeluk Andra dari belakang.


"Yang ...."


"Kamu belum tidur, Yang?" ucap Andra kaget.


"Belum, Yang." sahut Regina.


"Maafkan ucapan Ibuku ya, Yang--"


Regina menutup mulut Andra dengan tangannya. "Udah Yang nggak papa kok."


"Terus, sekarang gimana? Gajian masih lama sedangkan Ibu butuh uangnya sekarang." Lanjut Regina lagi.


"Mau nggak mau, aku terpaksa meminjam uang pada temanku dulu." Lirih Andra.


"Sabar ya, Yang." Hibur Regina.


Andra menarik tangan Regina dan memutar tubuhnya ke hadapannya lalu memeluk Regina dengan erat.


"Ibu sudah tahu kalau kamu memang ada uang, emang dasar kamu nya aja yang terlalu perhitungan sama Ibu."ucap Marisda ketika Andra menyerahkan uang kepadanya.


"Bu, sudahlah." sahut Andra.

__ADS_1


"Kenapa, kamu nggak ikhlas ngasih uang ini?" ucap Marisda.


"Cukup, Bu. Ndra, sebaiknya kamu pulang sudah malam. Kasihan Regina dan Algi sendirian, lagian kamu pasti capek seharian bekerja." ucap Marlon, bapak Andra.


"Iya, Pak. Andra pamit dulu ya." sahut Andra.


"Iya hati-hati, Nak." ucap Marlon lagi.


"Bu, Andra pulang dulu." pamit Andra pada ibunya.


"Hem." sahut ibunya singkat.


"Bu. Ibu harusnya ingat, jangan terlalu memaksakan kehendak Ibu sama Andra. Andra sudah memiliki keluarga yang harus dibiayainya dan di nafkahinya, Andra nggak bisa memenuhi semua keinginan Ibu seperti dulu lagi. Apalagi Algi baru keluar dari rumah sakit sudah pasti mereka nggak punya uang." Nasehat Marlon pada isterinya.


"Bapak kok ikut-ikutan bela si Andra, itu kan memang sudah kewajibannya sebagai anak."


"Bu--"


"Ah, sudahlah. Percuma ngomong sama Bapak." Potong Marisda pada suaminya.


Marlon memilih diam dan tak melanjutkan perdebatan itu, ia tahu percuma berdebat dengan isterinya yang keras kepala dan tak mau mendengarkan siapa pun selain dirinya sendiri.


"Tapi, aku juga rindu sama ibuku, Yang." sahut Regina.


"Kita seminggu di rumah ibuku, lalu seminggunya di rumah ibumu ya. Ibu sebentar lagi pulang dari kampung sekalian kita kumpul-kumpul keluarga, Baldy dan Adrina juga datang." Pinta Andra.


Regina hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk Andra. Hati Regina sebenarnya menolak untuk ikut ke rumah orang tuanya Andra namun ia tak ingin membuat Andra kecewa.


"Aduh ... Nenek lupa kalau ada Algi lagian Nenek nggak tahu ukurannya Algi." ucap Marisda ketika membagikan baju kepada anak Baldy dan Adrina sebagai oleh-oleh.


Regina tersenyum, "Iya Bu nggak papa."


"Nggak papa ya, minta sama Ayah aja yah. Lagian gaji Ayah Algi kan gede." ucapnya pada Algi yang ada di pangkuan Andra.


"Mel, anterin Ibu ke pasar ya. Ibu mau masak-masak ntar malam keluarga kita yang lain mau datang, biasa mau ngincar oleh-oleh aja palingan." ucapnya pada Mely isteri Baldy.


Dua adik Andra Baldy dan Adrina sudah menikah. Anak Baldy seumuran dengan Algi hanya beda dua hari sedangkan Adrina adik ketiga Andra walaupun usianya masih muda namun sudah memiliki dua orang anak yang pertama berusia empat tahun dan yang kedua lebih tua sebulan dari Algi. Adrina baru lulus SMP saat ia menikah.


Adik Andra yang keempat duduk di kelas satu SMP dan adik bungsunya masih duduk di kelas enam sekolah dasar. Andra masih memiliki seorang Nenek yang sudah sepuh, hanya Neneknya dan Bapak mertuanya yang baik pada Regina.


Neneknya sangat baik sekali, Regina sebenarnya ingin mengobrol dengan Nenek Andra namun sayang, Regina tak mengerti apa yang diucapkan oleh Nenek Andra karena ia tak bisa menggunakan bahasa Indonesia. Sementara Regina tak bisa berbicara bahasa daerah keluarga Andra.

__ADS_1


Jadi bila ia mengobrol dengan Nenek Andra, Andra lah yang setia mendampingi menjadi penerjemah untuk Regina dan Neneknya.


Marlon, bapak mertuanya juga baik. Namun sedikit pendiam dan lebih banyak mengalah pada isterinya. Marisda sudah kembali dari pasar, Regina segera keluar untuk membantu membawa barang belanjaan dan meletakkannya di dapur.


"Aduh. Maaf ya, uang Nenek tadi nggak cukup mau beli banyak lagian Algi juga belum bisa ngunyah." ucapnya ketika membagikan kue untuk Anak Baldy dan Adrina.


Regina hanya tersenyum lalu mengambil Algi yang sudah rewel di gendongan Andra. "Sini Yang, kayaknya Algi sudah ngantuk. Aku tidurin Algi dulu ya.''


"Iya, Yang. Aku mau bantuin Bapak sama Baldy motong bebek dan ayam." ucap Andra sambil menyodorkan Algi.


"Kamu jangan ikutan tidur, habis itu bantuin yang lainnya masak di dapur jangan jadi tamu di rumah ini." ucap Marisda pada Regina.


"Baik, Bu. Regina permisi dulu." pamit Regina.


Regina menangis tanpa suara sambil menidurkan Algi, hatinya sedih Algi harus ikut dibenci oleh mertuanya.


Regina mengelus ubun-ubun Algi. "Sabar ya, Nak. Semoga suatu saat nanti Nenek bisa sayang sama Algi."


Setelah Algi tidur Regina sibuk membantu mertuanya memasak di dapur sendirian, sementara Adrina dan Mely tertidur ketika menidurkan anak mereka.


"Jangan dibangunkan, kasihan Mely kecapekan." tegur Marisda ketika Baldy hendak membangunkan Mely.


Malam harinya Regina dan Mely sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk keluarga Andra yang datang ke rumah. Sementara Adrina mendampingi ibunya bercengkrama dan membagi-bagikan oleh-oleh untuk keluarga yang datang.


Setelah semua keluarga pulang, Regina dan Mely membersihkan sampah dan kotoran yang terhambur di mana-mana. Regina mengumpulkan piring kotor dan meletakkannya di tempat cucian.


"Besok aja di cuci, udah malam." ucap Marisda.


"Baik, Bu." angguk Regina.


Keesokan paginya Regina bangun pagi sekali untuk membersihkan sisa kotoran yang ada setelah selesai ia lanjutkan dengan mencuci piring di dapur.


"Kakak ngapain." tegur Marla adik Andra.


"Kakak lagi nyuci piring, Dek." sahut Regina.


"Boleh aku bantu." tanya Marla.


"Boleh, ayo sini." panggil Regina.


Tak lama kemudian terdengar suara piring yang pecah di lantai, Marisda berlari ke dapur dan membulatkan matanya penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2