Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
Bab 14 Kemelut Hidup 2


__ADS_3

Marisda berdiri di dekat Regina dan Marla emosinya meledak saat melihat piring yang baru dibelinya pecah. "Apa-apaan ini?"


"Maaf, Bu. Marla nggak sengaja." Marla gemetar takut.


"Kamu juga, Re. Marla masih kecil sudah kamu suruh untuk cuci piring, dia masih belum paham apa-apa!"


"Tapi, Bu--"


"Diam kamu Marla! Masuk ke kamar mu sekarang!" Perintah Marisda.


Suara Marisda yang menimbulkan keributan membuat seisi rumah bangun dan menuju ke arah sumber suara itu.


"Apa ini Bu, pagi-pagi sudah teriak? Malu di dengar tetangga." tegur Marlon.


"Ini, si Regina. Berani nyuruh-nyuruh si Marla akhirnya pecah piring yang baru ibu beli, sudah tahu Marla belum ngerti apa-apa!"


"Sudah, sudah. Malu didengar orang." Marlon membawa Marisda masuk ke kamar.


Sedangkan Andra membawa Regina masuk ke kamar mereka, Mely dan Adrina melanjutkan pekerjaan Regina.


"Yang, aku mau pulang ke tempat ibu sekarang." isak Regina.


"Sabar, Yang. Jangan diambil hati ucapan ibu, ibu memang gitu kalau ada barang kesayangannya rusak. Aku harap kamu bisa ngertiin ibu ya, ibu sebenarnya baik cuma ia nggak mampu mengontrol penyakit darah tingginya kalau lagi kumat." bujuk Andra.


Regina hanya diam dan terus terisak.


"Lagian kalau kita pulang sekarang, aku takut nanti ibu malah tersinggung." Lanjut Andra lagi.


Andra menggendong Algi yang terbangun dari tidurnya dan meninggalkan Regina yang masih terisak di kamar. Seharian Regina hanya mengurung diri di dalam kamar, ia takut untuk keluar karena takut akan membuat kesalahan lagi.


Seisi rumah pun tampak tak memperdulikan kehadirannya. Mereka sibuk membakar ikan di luar dan menikmati kapurung bersama keluarga yang lainnya, hanya Andra yang sesekali mengantarkan makanan untuk Regina ke dalam kamar.


Malam harinya, Marlon dan Marisda memanggil semua anak-anaknya.


"Begini. Ibu dan Bapak berencana akan pindah ke kampung. Sebentar lagi Bapak sudah pensiun, Bapak berencana membuka usaha bengkel di kampung. Dan adik-adikmu Bapak bawa, Bapak pindahkan sekolah mereka di sana." ucap Marlon.


Adrina marah dan menangis, ia tidak menerima rencana orang tuanya untuk pindah ke kampung.


"Kenapa harus pindah, kenapa nggak buka di sini aja. Adrina nggak mau jauh-jauh dari ibu sama bapak." Protes Adrina.


"Bapak sebenarnya mau begitu, tapi ibumu bersikeras untuk pindah ke kampung." sahut Marlon.

__ADS_1


"Ibu bosan di sini, ibu rindu suasana kampung. Lagian rumah kita di dalam gang bagaimana mau buka bengkel." timpal Marisda.


"Kan, bisa nyewa lokasi dipinggir jalan atau beli tanah dipinggir jalan untuk usaha." sahut Baldy.


"Uang pensiun Bapak nggak seberapa, hanya cukup untuk membuka bengkel." ucap Marlon.


"Makanya kalian dikumpulkan malam ini, uang pensiun Bapakmu cuma cukup untuk buka usaha. Untuk biaya pindahan kami ibu minta kalian bertiga yang menanggungnya." ucap Marisda.


Regina yang di dalam kamar terduduk lemas mendengar ucapan Marisda. Pasalnya, hutang mereka yang tiga juta kemarin saja belum lunas. Sekarang, darimana mereka harus mendapatkan uang untuk membiayai kepindahan mertuanya.


"Uang darimana, Bu. Ibu 'kan tahu gajiku nggak seberapa." ucap Baldy.


"Apalagi Adrina, Bu. Adrina nggak kerja, Adrina cuma mengharap gaji dari Mas Angga." keluh Adrina.


"Bu. Pinjaman yang kemarin aja belum lunas, Andra harus cari uang kemana." ucap Andra.


"Sejak kapan kamu punya hutang, Ndra? Dulu kamu nggak pernah bikin hutang, kenapa sekarang kamu sampai punya hutang segala. Bikin malu aja, makanya kasih tahu isterimu belajar- belajar atur uang dari Mely." Cecar Marisda.


"Sudahlah, Bu." tegur Marlon.


"Aku cuma punya simpanan uang satu juta tiga ratus, aku hanya mampu membantu segitu selebihnya aku nggak bisa bantu apa-apa." ucap Baldy.


"Mana cukup uang segitu untuk pindahan, untuk kirim barang lewat truck aja udah lima juta lebih, belum lagi untuk biaya tiket pesawat kami berlima karena nenekmu juga kami bawa." Marisda kesal.


"Kenapa harus naik pesawat, naik kapal kan lebih murah, Bu." sahut Baldy.


"Ya malu lah, masa naik kapal." ujar Marisda.


"Lantas bagaimana lagi, Bu. kami benar-benar nggak punya uang lagi." sahut Baldy yang diiyakan oleh Adrina.


"Ya sudah, hutangmu sama ibu kan masih delapan juta. Itu aja yang ibu minta Ndra untuk biaya pindahan nanti." ucap Marisda kepada Andra.


Andra hanya diam, dia tak ingin berdebat dengan ibunya. Walaupun sebenarnya dia juga bingung harus mencari uang kemana.


"Bu, kami pamit dulu." pamit Andra pada Marisda keesokan harinya.


"Kalian mau kemana?" tanya Marisda heran.


"Kami mau ke rumah ibunya Regina, Bu. Mungkin nanti kami langsung kembali ke Kutai Barat dari sana nggak mampir ke sini lagi." terang Andra.


Marisda diam tak menanggapi, dia sibuk dengan Baldy dan Mely yang juga berpamitan.

__ADS_1


"Mel, ini oleh-oleh untuk ibumu. Titip salam buat ibumu ya, maaf ya cuma ini aja yang bisa ibu kasih untuk oleh-oleh." Marisda menyerahkan satu plastik besar berisi oleh-oleh.


"Oh, iya hati-hati. Jangan lupa tanggung jawab mu, ingat itu." ucapnya pada Andra lalu ia sibuk menggendong dan mencium anak Baldy.


Katarina langsung mengambil Algi dari gendongan Regina ketika Regina baru tiba di depan rumahnya. Ia membawa Algi ke dalam rumah dan langsung mengajak Algi bermain-main dengan cucunya yang lain.


Andra langsung beristirahat di dalam kamar, karena semalam suntuk ia bergadang saat berkumpul bersama keluarga besarnya. Regina duduk bersama dengan ibunya di ruang keluarga.


"Kak Nata belum pulang, Bu." sapa Regina.


"Belum, paling bentar lagi pulang." sahut Katarina.


"Gimana kabar mertuamu, sehat?" tanyanya lagi.


"Sehat, Bu. Oya ada salam dari mertuaku untuk ibu." Bohong Regina.


"O ya, salam balik ya." ucap Katarina tulus.


"Gimana mertua mu sekarang, apakah dia memperlakukanmu dengan baik?" tanyanya lagi.


"Iya, Bu. Mertuaku sangat baik sekali, memang awalnya dia agak cuek sama Regina tapi itu wajar mungkin dia masih belum menerima kesalahan kami. Tapi, ibu tenang aja. Sekarang udah nggak lagi kok, sekarang dia sudah baik sama Regina bahkan dia sangat memanjakan Algi." ucap Regina berbohong.


"Syukurlah, Re. Ibu sempat khawatir dengan sikap ibu mertua mu." sahut Katarina.


"Tenang aja, Bu. Ibu nggak usah khawatir." ucap Regina.


"Tapi, kamu nggak bohong sama ibu kan." selidik Katarina.


"Nggak Bu, ibu percaya kan sama Regina." tanya Regina balik.


"Re, kalau ada apa-apa jangan disembunyikan, cerita ya sama ibu." ucap Katarina.


"Duh ... kangennya sama cucu nenek." ucap Katarina sambil bermain-main bersama Algi dan Dion.


Regina membatin, ''Maaf, Bu. Regina harus membohongi ibu."


Regina terharu melihat perlakuan ibunya terhadap Algi. Ia berharap suatu saat ibu mertuanya ada di posisi ibunya saat ini, bermain-main dengan Algi dan menyayangi Algi dengan tulus.


Selama di rumah mertuanya, Marisda tak pernah menyentuh apalagi bermain-main dengan Algi. Hingga mereka pamit tadi pagi, sedikit pun ia tak menoleh pada Algi. Sementara anak-anak Baldy dan Adrina selalu diberikan hadiah dan di gendong kesana kemari.


Regina tak mengharapkan hadiah apa-apa, ia hanya berharap mertuanya bisa menyentuh dan mencium Algi walau hanya sekali saja.

__ADS_1


__ADS_2