Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
Bab 15 Kemelut Hidup 3


__ADS_3

"Kamu benar ikhlas, Yang?" Regina menatap Andra dengan sedih.


Andra hanya mengangguk pelan, lalu diam seribu bahasa. Ia sebenarnya berat melepaskan motor kesayangannya untuk di jual. Namun karena desakan dari ibunya ia terpaksa harus merelakan sepeda motor yang ia beli dengan mengumpulkan hasil keringatnya ketika belum menikah dengan Regina.


"Cuma segini, Ndra? Masa nggak ada uang jajan untuk di jalan." Protes Marisda ketika Andra menyerahkan uang kepadanya.


"Maaf, Bu. Andra cuma punya segitu aja, itupun Andra terpaksa menjual sepeda motor Andra." ucap Andra.


"Apa?! Sepeda motormu kamu jual? Astaga Andra! Kemana aja gaji kamu selama ini. Dulu waktu ATM kamu ibu yang pegang uangmu selalu awet kenapa sekarang semenjak menikah uangmu jadi seret begini? Makanya kasih tau isteri mu itu pintar-pintar ngatur uang jangan boros jadi orang!"


Netra Regina mengembun, hatinya nyeri mendengar ucapan Marisda. Ia hanya bisa terdiam sambil menahan tangisnya yang ingin pecah, ia tak ingin seluruh keluarga yang ada di ruangan itu melihat air matanya jatuh.


Seluruh keluarga besar Andra berkumpul malam itu di rumah orang tuanya Andra untuk melepas kepergian orang tuanya yang akan berangkat ke kampung halaman di salah satu kota di pulau Sulawesi.


Esok paginya pukul delapan orang tua Andra, Nenek, dan kedua adik Andra berangkat menuju ke kampung halaman satu per satu Marisda memeluk dan berpamitan dengan keluarganya kecuali Regina. Ia masih acuh dan tak terlalu merespon Regina. Akhirnya, Marisda menjauh dari Regina untuk selamanya.


Namun, walaupun Marisda telah berada jauh dari Regina hal itu tak membuat kehidupan rumah tangga Andra dan Regina tenang. Justru hal itu membuat Marisda semakin intens meminta uang pada Andra.


"Kamu kenapa, Yang?" Regina bingung melihat Andra yang sedang termenung di teras seakan suatu beban sedang bersarang di kepalanya.


Andra menarik nafas berat dan menghembuskannya dengan malas, "Tadi Bapak nelepon Yang."


"Terus?" ucap Regina lesu karena ia sebenarnya sudah tahu kemana arah pembicaraan itu.


"Bapak minta dikirimi uang, katanya untuk nambahin beli peralatan bengkel." jawab Andra.


"Bukannya kemarin ibu bilang kalau uang pensiun Bapak mau dipakai untuk buka usaha makanya semua biaya kepindahan ditanggung oleh kalian anak-anaknya?"


Andra hanya terdiam tanpa bisa menjawab ucapan Regina, isterinya.


"Bukannya aku nggak setuju, Yang. Tapi kan kamu tahu sendiri hutang kita yang kemarin aja belum lunas, terus kita harus gimana masa kita mau ngutang lagi?" Lanjut Regina.


"Entahlah, Yang." ucap Andra lesu.

__ADS_1


Dan pada akhirnya mereka terpaksa meminjam uang lagi untuk memenuhi permintaan orang tuanya Andra.


Sebulan telah berlalu semenjak kepindahan orang tuanya Andra ke kampung, tak pernah sedikit pun orang tuanya menelepon menanyakan kabar Algi. Setiap kalimat yang diucapkan atau ditanyakan hanyalah uang, uang dan uang.


Regina dan Andra tak lagi tinggal di kosan Regina, sekarang mereka menempati kontrakan bekas orang tuanya Andra. Di sana ada tiga orang sepupu Andra yang ikut tinggal bersama mereka Mirna, Milka, Marvel.


Akhir-akhir ini, Andra sedikit berubah ia lebih sering menanyakan uang belanja dan sedikit kasar pada Regina. Hingga suatu malam, saat Andra baru pulang bekerja ia marah-marah tanpa alasan kepada Regina


"Pantas selama ini uang belanja tak pernah cukup bahkan selalu kurang. Ternyata kamu boros sekali jadi orang." cerca Andra.


"Apa sih, Yang? Datang-datang kok marah nggak jelas gitu?" tanya Regina bingung.


Andra tak menghiraukan kebingungan Regina, ia terus saja melayangkan kata demi kata amarah pada Regina. Dan tentu saja hal itu semakin membuat Regina tak mengerti dengan amarah Andra, dan apa kesalahan yang telah ia perbuat sehingga membuat Andra semarah itu. Pertengkaran pun terjadi diantara mereka pada malam itu.


Keesokan harinya, saat Andra sudah berangkat bekerja Regina bergegas kabur bersama Algi dan pulang ke rumah ibunya.


"Lho. Kak Regina mau kemana?" tanya Mirna keheranan.


"Kakak mau pulang ke rumah Nenek Algi." jawab Regina.


Regina hanya tersenyum menjawab ucapan Mirna lalu bergegas pergi, Mirna dan sepupu Andra yang lainnya tentu saja mendengar pertengkaran yang terjadi antara mereka tadi malam. Mirna menatap sedih kepergian Regina lalu segera menghubungi Andra.


Andra yang mengetahui kepergian Regina bergegas pulang untuk mencegah kepergiannya namun sayang, kedatangan Andra terlambat. Regina dan Algi sudah menjauh pergi.


Katarina yang melihat kedatangan Regina dan Algi secara tiba-tiba merasa terkejut.


"Lho. Kok kalian cuma berdua? Nggak ngasih kabar lagi." Katarina segera mengambil Algi dari gendongan Regina.


"Sengaja Bu. Algi mau ngasih kejutan untuk Nenek." jawab Regina.


"Kamu nggak bohong kan, Re. Terus Andra mana? Kok dia nggak ikut, jangan-jangan kalian berantem ya?" selidik Katarina.


"Nggak kok, Bu. Regina memang sengaja datang nggak ngasih kabar, Regina mau ngasih kejutan ke ibu. Andra lagi kerja, nanti dia nyusul kok." Bohong Regina.

__ADS_1


"Ya, sudah. Kamu istirahat sana, biar Algi sama Ibu."


Regina mengangguk, lalu bergegas masuk ke kamar.


"Maaf Regina terpaksa bohong sama ibu, Regina nggak mau buat ibu sedih." Lirih Regina dalam hati.


Malam harinya Katarina bermain-main dengan Algi sementara Regina masih mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya masih kalut memikirkan pertengkarannya dengan Andra dan perubahan sikap Andra yang sering marah tanpa sebab.


"Aduh, baru sebentar ditinggal udah disusul sama Ayah."


Regina terkejut mendengar ucapan ibunya, ia bergegas keluar dari kamar untuk memastikannya. Regina segera menghampiri Andra dan mengambil tas ransel yang dipegangnya sambil berbisik.


"Tolong jangan cerita apa pun, orang di rumah ini tak ada yang tahu tentang permasalahan kita."


Regina kembali masuk ke kamar untuk meletakkan tas itu, sementara Andra masih duduk di ruang tamu dan mengobrol bersama Katarina. Regina kembali sambil membawakan teh hangat untuk Andra.


"Kamu nggak kerja, Ndra?" tanya Katarina.


"Kebetulan besok Andra off, Bu. Makanya tadi siang habis istirahat Andra ijin terus langsung turun kesini untuk jemput Regina, Regina katanya kangen sama ibu sampai nggak sabaran nunggu Andra off." ucap Andra.


Katarina tertawa, "Re ... Re, kamu kayak anak kecil aja."


"Regina kangen banget sama ibu, Algi juga tuh." jawab Regina manja.


"Alasan aja kamu, Re. Terus kapan kalian kembali ke Kubar?" tanya Katarina lagi.


"Lusa, Bu." jawab Andra.


"Ya, sudah. Kalian istirahat aja dulu, kalian pasti capek habis menempuh perjalanan yang jauh. Ibu juga mau istirahat." ucap Katarina.


"Iya, Bu." sahut Regina.


"Algi biar tidur sama ibu ya, Re."

__ADS_1


Katarina berlalu masuk ke kamarnya sambil menggendong Algi, Andra dan Regina pun ikut masuk ke kamar mereka. Di dalam kamar pertengkaran pun kembali terjadi hanya saja mereka menjaga volume suara agar tak di dengar oleh Katarina dan yang lainnya.


__ADS_2