Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
6. Tapa Baskara


__ADS_3

Baskara melompat ke dalam air dan berenang menuju titik jatuh air terjun tersebut dengan susah payah Baskara memanjat naik melewati bebatuan yang licin terlapis lumut untuk sampai ke dalam lubang tersebut.


Bulu kuduk Baskara sedikit berdiri ketika melihat tulang belulang manusia dan hewan berserakan di dalam gua kecil tersebut kelelawar berterbangan kesana kemari karena terkejut dengan kedatangan Baskara. Baskara melangkah ke arah batu besar yang berada ditengah-tengah tulang belulang yang berserakan itu.


Baskara mengambil posisi untuk memulai tapanya, udara dingin serta biasan air terjun yang menyentuh tubuhnya yang terbalut baju basah tentu saja membuatnya bergetar namun sekuat tenaga ia melawan rasa itu demi cinta yang sudah mengalahkan logikanya.


Hingga mentari bersinar Baskara masih kokoh bertahan pada posisinya. Samar-samar terdengar suara seorang wanita tua sedang berbincang dengan cucunya pada indera pendengaran Baskara.


"Cu, duduk disitu ya jangan kemana-mana. Nenek mau nyuci sayuran dulu." Ucap si Nenek pada cucu lelakinya yang berumur lima tahun.


"Baik Nek," sahut si cucu sambil duduk di pinggir kolam air terjun dan memainkan kakinya ke dalam air.


Terdengar suara si Nenek sedang mencuci sayuran di air kolam terjun tersebut. Sementara si cucu dengan asyik memainkan kakinya ke dalam air, seekor kupu-kupu yang cantik terbang dihadapan si cucu tersebut.


"Ayo Cu, kita pulang. Nenek sudah selesai," ajak si Nenek ketika sudah selesai mencuci sayuran.


"BYURR.'' Cucu si Nenek terjatuh ke dalam kolam air terjun karena berusaha menangkap kupu-kupu yang cantik itu.


"Tolong, tolong cucuku, tolong." Teriak Nenek dengan histeris.


Tangan Baskara mengepal menahan gejolak dari dalam hatinya yang ingin melompat ke dalam air dan menolong anak kecil tersebut namun raganya tertahan karena mengingat ucapan kakek Muhdar.


Cucu si Nenek meronta-ronta di dalam air sambil sesekali berteriak minta tolong ditengah sengalnya nafas karena rongga paru yang mulai terisi oleh air, detik kemudian si Nenek melompat ke dalam air hendak menolong cucunya.

__ADS_1


Kini keduanya sama-sama meronta di dalam air karena si Nenek bukan perenang ulung, jeritan pilu keduanya memanggil nama Baskara untuk meminta pertolongan.


Baskara semakin mengepalkan tangannya, matanya semakin erat terpejam menahan jiwa kemanusiaannya yang meronta ingin menolong kedua orang tersebut.


Jeritan pilu si Nenek dan cucunya semakin menyayat hati Baskara namun ia berusaha menahan gejolak kemanusiaannya, beberapa saat kemudian sunyi sepi tak ada suara apa pun lagi.


"Mungkinkah?" Batin Baskara, buliran bening menetes dipelipisnya.


Baskara kembali meneruskan tapanya hingga suara binatang malam saling sahut menyahut menandakan hari sudah gelap. Semenjak jeritan pilu itu menghilang suasana menjadi sunyi sepi dan tenang tak ada suara apa pun lagi.


Suara lolongan Anjing Hutan saling sahut menyahut dengan suara berisik hewan hutan lainnya entah mengapa malam ini seluruh hewan di hutan nampak gelisah dan ketakutan, Baskara dengan tenang memejamkan matanya berusaha untuk fokus pada tapanya.


Hari ini sudah menginjak hari ketiga, tak ada gangguan apa pun dihari kedua hingga hari ini. Baskara dengan tenang melanjutkan tapanya dengan menahan rasa haus dan lapar yang menggerogoti lambung dan tenggorokannya.


Menjelang senja terdengar beberapa orang sedang berbincang dan berisik melakukan sesuatu disekitar kolam air terjun, beberapa saat kemudian aroma ba*bi bakar menguar di seluruh gua tempat ia bertapa. Perut Baskara meronta dan berdemonstrasi meminta untuk diisi dengan aroma harum tersebut.


"Jangan, bertahanlah sebentar lagi. Hanya tinggal beberapa hari tapamu akan selesai," bisik hati yang lainnya.


"Ayolah ambil satu potong saja untuk mengisi kekuatanmu, bagaimana engkau bisa kuat menyelesaikan tapa jika dalam kondisi lapar," bisik hati yang satunya lagi.


Pertahanan Baskara mulai runtuh, rasa lapar di perutnya semakin membuat otaknya tak bisa berpikir lagi ingin rasanya ia berlari keluar dan menerkam ba*bi bakar yang sangat menggoda aromanya itu.


"Ingatlah tujuanmu Baskara, ingatlah hinaan dan cacian yang selalu engkau kecap saat keluarga Sania dan warga lainnya menghina kemiskinanmu," bisik salah satu hatinya ketika Baskara hendak membuka mata.

__ADS_1


Baskara mengepalkan tangannya dengan erat dan tak menghiraukan lagi hasutan dari salah satu sudut hatinya yang terus memaksa ia untuk makan bersama-sama orang yang ada diluar itu.


Sunyi dan sepi tak ada lagi suara berisik orang-orang diluar yang sedang berpesta, malam ini pun hutan itu amat tenang tak ada suara kegelisahan binatang hutan seperti malam sebelumnya.


Pada hari kelima Baskara masih bertahan dengan tapanya, entah mengapa rasa lapar dan haus tak ia rasakan lagi. Tubuhnya seperti bugar kembali.


Suara desis dan mirip bengisan Kucing samar-samar terdengar di telinga Baskara perlahan suara itu semakin mendekat dan mendekat, sesuatu yang licin dan berlendir perlahan naik ke atas paha Baskara. Jantung Baskara berdegup dengan kencang saat sesuatu itu mulai mengelilingi tubuhnya.


Sesuatu yang licin dan berlendir serta besar sebesar pohon pisang perlahan melilit tubuh Baskara, bau anyir dari lendir tersebut membuat perutnya mual. Semakin lama lilitan itu semakin kuat membuat paru-parunya serasa sulit untuk bersirkulasi.


"Keluar ini rumahku," ucap sebuah nada suara yang serak dan berat diantara desisan. Baskara tak bergeming ia tetap diam dalam tapanya.


"Keluar sebelum engkau kujadikan makan malamku," ancam suara itu. Baskara tetap diam diantara nafasnya yang semakin sesak.


"Jangan keras kepala ini kesempatan terakhirmu, pergilah atau kau akan berakhir seperti tulang-tulang itu," ancam suara itu lagi seiring dengan lilitannya yang semakin erat.


Baskara tetap diam nafasnya sudah semakin sulit untuk dicapai, ia pasrah dengan keadaan. Ucapan kakek Muhdar terus terngiang di kepalanya, ia tak akan pergi walau apa pun yang terjadi.


"Kau cukup hebat juga dari yang sebelumnya, hatimu cukup teguh," ucap suara itu lagi.


Lilitan itu tiba-tiba melonggar secara perlahan dari tubuhnya. Paru-parunya mulai bersirkulasi dengan baik, suara desisan perlahan menjauh dari indera pendengarannya namun bau busuk dan anyir dari lendir yang melekat ditubuhnya masih menusuk indera penciumannya.


Baskara terus bertahan dalam tapanya di tengah aroma busuk dan anyir tersebut sepanjang malam, saat cahaya mentari mulai menerobos air terjun tersebut aroma busuk dan lendir yang melekat itu tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


Dari luar terdengar suara cekikikan beberapa gadis yang sedang bercanda, tak lama kemudian terdengar suara beberapa orang yang terjun ke dalam kolam dan berenang dengan riang. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah seseorang yang mendekat ke mulut gua itu.


"Hei lihat! Ada lelaki tampan disini, cepatlah kemari." Teriak suara seorang gadis memanggil temannya.


__ADS_2