
Baskara menatap puterinya Liana yang tertidur pulas disamping isterinya Sania, sudah dua minggu ini Liana tak pernah tidur dengan pulas, ia selalu menjerit dan menangis ketakutan seperti orang gila. Ia duduk di sofa yang menghadap ke tempat tidur Liana, tak lama kemudian ia pun tidur dengan tenang di atas sofa itu.
"Pagi Ayah, pagi ibu tumben kalian tidur di sini bareng aku," sapa Liana dengan riang.
"Pagi Nak, kamu udah bangun," sahut ibunya. Baskara yang tertidur di sofa terbangun dengan keributan yang dibuat oleh puterinya tersebut.
"Pagi anak ayah," ucap Baskara.
"Pagi." Balas Liana sambil mencium kening ayahnya.
"Bu, Liana laper. Perut Liana keroncongan kayak dua minggu nggak makan," celoteh Liana.
Baskara dan Sania saling pandang, "Liana mau di masakin apa untuk sarapan?" Tanya Sania kemudian.
"Nasi goreng telor ceplok disiram kecap manis yang banyak," ucap Liana bersemangat.
"Ya udah ibu ke dapur dulu ya." Sania meninggalkan puterinya dan suaminya itu untuk pergi ke dapur.
"Bik Ros, bikinin sarapan kesukaan Liana yah." perintahnya pada Rosita pembantunya.
"Siap, Bu." Rosita bergegas menyiapkan permintaan majikannya.
Sania menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Miranda dan Felix anaknya.
"Pagi Bu," sapa keduanya.
"Pagi." Sania mengambil roti tawar gandum dan mengolesinya dengan selai berperisa hazelnut.
"Gimana keadaan Liana?" Tanya Miranda.
Sania menghentikan olesan yang ia lakukan pada roti dan menatap tajam pada kedua anaknya. "Jangan menceritakan apa pun yang terjadi selama dua minggu ini pada Liana, paham!"
"Termasuk kamu, Bik." Ancam Sania lagi.
Bik Rosita mengangguk dengan cepat sementara Miranda dan Felix membuang pandangan mereka pada ibunya. Tak lama kemudian Baskara muncul bersama Liana ke ruang makan.
"Pagi," sapa Liana.
"Pagi," balas Miranda dengan ceria.
Felix hanya tersenyum dan menyalami ibunya lalu ayahnya. " Bu, Yah, Felix berangkat kuliah dulu ya."
"Hati-hati Nak," ucap Sania membalas pamitan anaknya.
"Ini non sarapanya." Bik Rosita meletakkan nasi goreng permintaan Liana.
"Asyiik, Bik Rosita emang the best deh makasih ya Bik," ucap Liana senang.
"Bik, tolong siapain baju kerja untuk Bapak yah," perintah Sania pada Rosita.
__ADS_1
"Siap Bu, yang mana untuk hari ini?" Tanya Bik Rosita.
"Celana warna hitam sama kemeja warna maroon, dasinya yang hitam garis gold ya Bik, kaos kakinya udah ada di dekat sepatu tinggal Bibik lap aja sepatunya sebentar," ucap Sania memberi perintah.
"Baik Bu, saya permisi dulu," Sania mengangguk pada pamitan dari Rosita.
"Bu, ntar malam nggak usah tungguin ayah, ayah nggak pulang ada kerjaan sedikit," ucap Baskara.
"Iya Yah," ucap Sania memahami.
Setelah sarapan dan berganti pakaian Baskara segera meluncur ke kantornya yang berdiri megah di pusat ibukota Kalimantan Timur tersebut.
PT. TAKA JAYA adalah perusahaan kontraktor yang cukup terkenal di kota itu, ratusan tender yang ia menangkan dan tak pernah gagal dalam membangun sesuatu menghantarkannya menjadi orang terkaya di Kalimantan Timur.
Ratusan hektar perkebunan kelapa sawit dan karet miliknya berjejer luas di pedalaman Mahakam, beberapa tongkang batu bara yang melintas di sungai Mahakam juga tertera atas nama PT-nya. Walau memiliki kantor di Samarinda namun ia tetap memilih tinggal di kota Tenggarong.
Sebuah rumah megah yang berdiri tegak di pinggiran kota adalah tempat untuknya beserta keluarganya bernaung. Dua puluh kilo meter dari pusat kota Tenggarong ada sebuah Villa yang ia miliki yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Sania isterinya.
Baskara termenung mengingat adiknya Sabina yang meninggal beberapa hari lalu, kenangan masa kecil yang indah di desa kecil Pondok Labu tempat kelahiran mereka membuat air matanya sedikit mengalir.
Ketukan di pintu membuatnya dengan cepat menghapus air mata yang membasahi pipi.
"Masuk," ucapnya.
"Permisi Pak," ucap Fery asistennya dengan hati-hati.
"Duduk," jawab Baskara.
"Terouble apa!" Potong Baskara dengan nada tinggi.
"Itu Pak, Abah Agus menolak dan bersikeras tidak mau melepas lahanya untuk proyek pembangunan Mall, yang lain sudah beres hanya dia saja yang sulit diatasi," ucap Fery dengan takut.
"Gobl*k! Hanya satu akik-akik saja kalian tidak bisa atasi!" Baskara menggebrak meja dengan keras.
"Ma-maaf Pak," ucap Fery semakin takut.
"Bawa aku kesana." Perintah Baskara.
Fery pun membawa Baskara ke rumah Abah Agus yang berada di Tenggarong seberang. Baskara menatap rumah Abah Agus dari dalam mobil cukup lama.
"Kamu tunggu di luar," perintah Baskara pada Fery.
Setelah Fery keluar Baskara mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya. Sebuah botol kecil berisi minyak yang berwarna hitam kemerahan, ia mengambil minyak itu dengan cuttom bud kecil lalu mengoleskan minyak itu pada telapak tangannya.
Ia menggosok-gosok minyak itu pada kedua telapak tangannya lalu mengusap pada kedua alisnya dan pipinya. Ia mengambil sekali lagi isi minyak yang hampir habis itu lalu menaruhnya di telapak tangan.
Baskara keluar dari mobil dan langsung menuju ke rumah Abah Agus yang sederhana khas rumah bahari tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Fery memberi salam.
__ADS_1
"Wallaikumsalam," sahut Abah Agus, wajah Abah Agus seketika berubah tegang ketika melihat wajah Fery.
"Selamat siang, Abah." Baskara mengulurkan tanganya ke arah Abah Agus.
"Selamat siang," Abah Agus menyambut dengan ragu tangan Baskara.
Baskara menggenggam tangan Abah Agus cukup lama dan erat ketika bersalaman.
"Silahkan duduk," Abah Agus mempersilahkan dengan ramah tamunya untuk duduk di atas tikar pandan.
"Mak, Mamak," panggil Abah Agus pada isterinya.
"Iya Bah," sahut Isterinya sambil menyingkap tirai kamar.
"Tolong polahkan teh untuk tamu etam," perintah Abah agus pada isterinya.
( Tolong buatkan teh untuk tamu kita )
"Iya Bah." Isteri Abah Agus beranjak ke dapur.
Fery bingung dengan perubahan sikap Abah Agus, sebelumnya jangankan menawarkan minum melihat wajahnya di depan pintu saja ia sudah mengusirnya dengan kasar.
"Begini, tujuan kami datang ke sini pasti Abah sudah tahu untuk itu saya ingin menanyakan kembali bagaimana keputusan Abah selanjutnya, apakah Abah bersedia melepas lahan Abah sesuai dengan yang ditawarkan oleh perusahaan kami atau tidak." Tembak Baskara langsung ke poin pembicaraan.
"Silahkan di minum tehnya," ucap Isteri Abah Agus sambil menyorongkan teh pada tamunya.
"Bagaiman Abah?" Tanya Baskara sekali lagi.
"Abah." Isteri Abah Agus memegang tangan suaminya dengan erat dan menatap dengan tatapan menolak tawaran Baskara.
Abah Agus menatap isterinya cukup lama, sementara Fery juga nampak gelisah di samping Baskara menanti jawaban Abah Agus. Sudah dua bulan ia mencoba membujuk Abah Agus agar mau melepaskan lahannya untuk pembangunan Mall di kota Tenggarong namun selalu gagal.
"Baiklah." Ucap Abah Agus.
Isteri Abah Agus masuk ke dalam kamar sambil menangis ia tak menyangka suaminya yang begitu kokoh dan tegas mempertahankan tanah warisan dari mertuanya itu begitu mudahnya menyerahkan tanah tersebut kepada Baskara.
Sementara Baskara tersenyum puas sepanjang perjalanan kembali ke kantor karena berhasil menyelesaikan masalah yang menghambat pembangunan Mall yang akan dilakukan oleh perusahaannya.
"Ini segera selesaikan sisanya dan mulai pembangunannya secepat mungkin." Baskara mendorong berkas yang sudah di tanda tanganinya itu kepada Fery.
"Baik Pak, permisi." Pamit Fery lalu berjalan ke arah pintu.
"Tunggu," panggil Baskara. "Batalkan semua pertemuan hari ini dan alihkan besok, aku ada urusan penting. Jadi jangan ganggu aku sampai besok," lanjut Baskara.
"Siap Pak.'' Fery menutup pintu dengan pelan.
Baskara teringat akan minyak di dalam botol yang mulai menipis ia segera mengambil kunci mobilnya dan melaju kencang menuju villa tersembunyi miliknya.
Ia merebahkan tubuhnya pada sofa yang menghadap ke perapian menatap kosong bara api yang mengeluarkan percikan halus yang berterbangan ke atas cerobong asap, sedikit penyesalan hadir dalam relung hatinya.
__ADS_1
Teringat jelas olehnya permintaan berat yang harus ia lakukan, ia sempat menolak dan mengulur waktu namun akibatnya Liana menjadi gila akibat penolakan tersebut. Dan dengan terpaksa ia memenuhi permintaan berat itu
Baskara mengacak kasar rambutnya lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Memori dikepalanya memutar kejadian yang terjadi beberapa tahun ke belakang.