
Malam ketiga setelah kematian Sabina.
Malam semakin larut Anastasia tak bisa memejamkan matanya, ia masih syok dengan kematian kakaknya Sabina yang begitu tiba-tiba.
Dalam dekapannya Rosa tertidur dengan mata yang sembab, semenjak pulang dari pemakaman ia tak mau pulang ke rumahnya. Kini gadis kecil itu tinggal sementara waktu di rumah Anastasia.
Galih berusaha keras membawanya pulang namun gadis itu menolak bahkan sampai pingsan tak sadarkan diri. Oleh sebab itu ia mengalah karena tak ingin anaknya sakit.
"Rosa ... Rosa ... anakku Rosa." Samar- samar Anastasia mendengar suara seseorang yang sedang menangis.
Anastasia memejamkan matanya namun suara itu kembali terdengar bahkan semakin jelas. "Rosa ... kasihan anakku Rosa ... jahat dia orang jahat."
Mata Anastasia membulat besar bibirnya terkunci rapat tubuhnya bergetar ketakutan manakala Sabina muncul dengan perlahan dari balik tembok rumahnya. Wajahnya pucat menghitam, lingakaran hitam kemerahan nampak jelas di kedua matanya, bibirnya pun menghitam serasi dengan kukunya yang hitam panjang serta runcing, rambutnya mengembang seolah melayang di tiup angin.
"A ...nas," lirih Sabina berat dan panjang.
"A, apa yang kamu mau Sabina?" Ucap Anastasia yang berusaha membuka tenggorokannya yang tercekat.
"Anakku ... anakku ...." lirih Sabina.
"Jangan Sabina, jangan. Tolonglah Sabina jangan bawa Rosa, dia masih kecil tak tahu apa-apa." Teriak Anastasia.
Sabina terus maju ke arah mereka dan mengambil Rosa yang ada di dekat Anastasia, ia berjalan mundur sambil menggendong Rosa yang tertidur pulas perlahan Sabina menghilang dibalik tembok seiring dengan jeritan Anastasia yang melengking.
"SABINAAA HENTIKAN KEMBALIKAN ROSA!"
"Bu, Ibu bangun Bu. Bu bangun, ibu kenapa?" Anis mengguncang tubuh isterinya.
Anas terbangun dengan keringat yang basah membanjiri sekujur tubuhnya, ia menoleh ke arah Rosa anak itu masih tertidur pulas disampingnya.
"Oh, Tuhan. Ternyata cuma mimpi." Anastasia memeluk suaminya, "Ibu mimpi buruk Yah," ucapnya kemudian.
"Ibu mimpi apa sampai teriak-teriak histeris gitu?" Tanya Anis. Anastasia menceritakan apa yang ia alami di dalam mimpi barusan kepada Anis suaminya.
__ADS_1
"Yah jangan-jangan benar dugaan ibu, pasti ada sesuatu dibalik kematian Sabina yang tiba-tiba," ucap Anastasia kemudian.
"Entahlah Bu jangan berpikir yang macam-macam, kasihan Sabina tambah nggak tenang nanti," sahut Anis.
"Yuk tidur udah malam, ayah ngantuk bentar lagi ayah harus kerja." Anis mendekap isterinya lalu memejamkan matanya yang lelah.
Butuh beberapa waktu akhirnya Anastasia bisa memejamkan matanya kembali hingga ia bangun karena alarm ponselnya yang terus berdering. Ia membangunkan suaminya dan menyuruhnya untuk bergegas mandi.
Setelah suaminya beranjak ke kamar mandi ia melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal yang akan dibawa oleh suaminya ke Tambang PT. RPP tempat suaminya bekerja sebagai Operator alat berat.
Saat sedang menyambal ikan Anastasia lupa menaruh kecap manis, ia berdiri sedikit jinjit hendak mengambil botol kecap yang berada di lemari atas kompor ia menjerit sekali lagi karena wajah seram Sabina kembali muncul pada kaca lemari. Ia tertunduk lemas di lantai ketika ia menoleh ke belakang tak ada siapa pun di sana.
"Apa salahku Sab, mengapa kau terus menggangguku," lirih Anastasia.
Dengan perlahan ia kembali bangkit dan melanjutkan masakannya, Anis keluar lalu sarapan setelah itu ia berangkat untuk bekerja.
Anastasia menutup pintu rapat-rapat setelah Anis pergi lalu setengah berlari ia masuk ke kamarnya.
Katarina bingung dengan anak gadisnya Adara yang berusia enam belas tahun tersebut, tepat jam dua belas malam Adara tiba-tiba menangis dan menjerit ketakutan. Suara Adara perlahan berubah menjadi lebih berat dan samar mirip dengan suara Sabina.
"To-long a-ku, tolong a-ku Kak to-long."
"Dia jahat, dia ja-hat." Adara tiba-tiba menjerit dan menangis lagi.
"Oh, Tuhan. Sabina tolong jangan ganggu anakku, kasihan dia. Apa yang kau inginkan Sabina?" Mohon Katarina yang menyadari bahwa Sabina sedang berada di tubuh anaknya Adara.
"To-long aku, to-long." Adara terus merintih meminta tolong yang sebenarnya itu adalah rintihan arwah Sabina. Setelah satu jam akhirnya arwah Sabina pergi dari tubuh Adara.
Kediaman Mandala.
Mandala Kakak ketiga Sabina sedang menyesap kopi hangat yang ia buat sendiri di dapur pada tengah malam, sebenarnya ia sudah tertidur namun karena bermimpi buruk tentang Sabina yang mendatanginya ia akhirnya terbangun dan sulit untuk memejamkan mata.
Ia menaruh cangkir kopi di meja dan mengambil korek api elektrik untuk menyalakan sebatang rokok ketika korek api menyala tiba-tiba sosok Sabina sedang menyeringai seram diantara keremangan cahaya korek api pada kursi yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Dengan cepat ia menyambar saklar lampu dan menyalakannya kosong tak ada siapa pun di sana, ia terduduk dengan lunglai di kursi.
"Pasti ada yang tak beres dengan kematianmu Sabina sehingga engkau tak tenang seperti ini," lirih Mandala.
Kediaman Sabina.
Galih baru pulang dari bar dalam keadaan setengah mabuk ia memasuki rumah sambil menggendong Diana wanita selingkuhannya, wanita itulah yang menelepon Galih saat pemakaman Sabina.
"Sayang, kapan kita menikah bukankah tak ada lagi yang menghalangi kita?" Ucap Diana manja dalam gendongan Galih.
Galih berhenti dan mencium Diana sesaat. "Sabar sayang jangan takut, aku pasti menikahimu. Isteriku baru saja meninggal tiga hari yang lalu tidak mungkin kita langsung menikah apa kata orang nanti, tunggulah beberapa bulan lagi."
"Baiklah, awas kalau kamu berani macam-macam denganku." Diana semakin bergelayut manja dalam gendongan Galih.
Galih terus melangkah memasuki kamar, ia meletakkan Diana di atas kasur, Diana hendak membuang selimut tebal supaya permainan yang akan mereka lakukan semakin leluasa di atas ranjang yang empuk itu.
"Aaaahhhhh!"
Diana melompat dari kasur, ketika ia mengangkat selimut itu dan hendak membuangnya seekor ular King Kobra berwarna hitam dengan mata yang merah menyala melingkar dengan tegak menatapnya.
"Ada apa sayang?" Ucap Galih yang baru keluar dari kamar mandi.
"I-itu, U-lar, itu ada Ular," ucap Diana ketakutan sambil menunjuk ke atas kasur
Galih menoleh ke kasur tak ada apa pun di sana, ia membuka selimut dan menggoyang-goyangkannya juga kosong tak ada apa pun. Galih berjalan mengitari ranjang dan menengok ke bawah ranjang tetap kosong tak ada apa pun.
"Kamu mabuk kali Yang, mungkin yang kamu lihat itu ikat pinggangku ini." Galih mengangkat ikat pinggangnya yang tergeletak di lantai.
"Sumpah itu tadi benaran Ular, Yang." Diana masih yakin dengan apa yang dilihatnya barusan.
"Sudah yuk, ntar mood kita hilang," rayu Galih.
"Nggak, mood ku emang sudah hilang. Aku mau pulang, aku takut." Ketus Diana yang berlari meninggalkan kamar dengan kasar.
__ADS_1