Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
Bab 11 Kedatangan Andra


__ADS_3

Sudah dua jam Andra mondar-mandir tak tentu arah di depan kosannya, matanya terus memandang ke arah hulu kabupaten mencari mobil travel yang akan lewat dan membawanya turun ke hilir kabupaten yaitu Kutai Kartanegara.


Biasanya, mobil travel selalu lalu lalang tak pernah berhenti melewati kosannya, namun entah mengapa hari ini dari pukul sepuluh sampai pukul dua belas satu pun belum ada yang nampak ujung mobilnya.


"Aduh ... kasian calon bapak udah nggak sabar mau ketemu dedek bayi." Goda Bu Yanti, salah satu ibu-ibu yang sedang bersantai di teras kosan.


"Jangan begitu, Bu Yanti. Kasian Mas Andra udah gelisah nggak karuan gitu." Bu Ani ikut menggoda Andra.


"Gimana Ndra, Regina udah lahiran belum?" Lanjut Bu Ani lagi.


"Belum tahu, Bu Ani. Telepon saya nggak di angkat dari tadi." ucap Andra.


"Sabar, ya Ndra. Semoga semuanya lancar." ucap Bu Ani yang di amin, kan oleh Bu Yanti dan Bu Sinta.


"Makasih ibu-ibu." ucap Andra.


Satu jam kemudian yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, Andra bergegas menarik tas ranselnya dan masuk ke mobil travel yang akan membawanya menemui Regina dan calon bayinya.


Perjalanan yang melelahkan selama enam jam akhirnya terbayar dengan begitu sempurna saat Andra menatap bayi mungil yang ada di pangkuannya kini.


Ia terus memandang wajah bayi mungil itu dengan senyum bahagia, tak terhitung berapa kali sudah ia mencium pipi anaknya.


Andra meletakkan kembali bayi mungil yang baru lahir itu ke samping Regina, kemudian berdiri lalu menghilang menuju ke dapur. Katarina muncul kemudian duduk di samping Regina sambil bermain dengan cucu ke enamnya itu.


"Andra kemana, Bu?" tanya Regina setelah satu jam lebih Andra menghilang.


Ibunya tersenyum lucu, "Ada di belakang."


"Ngapain?" Regina menatap heran pada ibunya.


"Kamu beruntung, Re. Punya suami kayak Andra." ucap Katarina tersenyum bahagia.


"Memangnya kenapa, Bu. Terus apa yang Andra lakuin di belakang kok lama banget nggak muncul?" tanya Regina yang masih keheranan.


"Andra lagi di belakang membersihkan kotoran --kotoran sehabis melahirkan--mu dan ari-ari si dedek. Tadi ibu lagi membersihkan kotoran mu di belakang tiba-tiba Andra muncul, Ibu sempat meragukan dia tapi saat Ibu perhatikan ternyata dia pintar sekali membersihkan kotoran mu dan ari-arinya. Kayak orang yang sudah punya anak aja dia." ucap Katarina kagum.

__ADS_1


"Dia sudah terbiasa, Bu. Bantuin ibunya ngurus ke empat adiknya." jawab Regina.


"O, ya. Kamu beruntung Re. Walau sebenarnya kasihan juga ibu lihatnya, baru turun dari mobil sudah langsung membersihkan kotoran mu." Kagum ibunya lagi.


Tak lama kemudian Andra muncul lalu bergabung dengan Regina dan ibunya. Saling bercerita tentang ketegangan dan kelucuan saat Regina lahiran dan hambatan yang di alami Andra.


"Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat, Ndra. Apalagi semenjak datang tadi kamu nggak ada istirahatnya." ucap Katarina sambil beranjak pergi dari kamar anaknya.


Andra merespon Katarina dengan menganggukkan kepalanya. Rasa lelah mulai merasuk ke tubuh Andra dan Regina, mereka memejamkan mata dan berharap mimpi indah hadir melengkapi kebahagiaan mereka. Tapi sayangnya, malam itu harus mereka lewati dengan bergadang karena berbagai drama yang dilakukan oleh Alganio Vixie.


Pagi harinya Andra duduk di teras rumah sambil menahan kantuk, memangku si kecil untuk berjemur.


"Ndra ...." panggil Katarina yang di sahut iya oleh Andra.


"Ari-arinya kamu yang nguburin atau Ibu?" Lanjut Katarina.


"Biar Andra aja, Bu." sahut Andra.


Setelah memberikan jagoan kecilnya pada Regina, Andra kembali ke teras dan bersiap mengubur ari-ari di halaman depan rumah. Katarina berdiri mengawasi Andra. Andra berhenti menggali setelah lubang yang ia gali di rasa cukup untuk mengubur ari-ari tersebut . Andra terdiam sejenak, menoleh ke Katarina lalu menoleh ke arah bawah lagi.


"Ya, begitu." sahut Katarina singkat.


"Terus ini disatuin sama ari-arinya atau di pisah tersendiri." Tunjuk Andra pada bungkusan yang satunya lagi.


"Hem." sahut Katarina.


"Terus, ini apa? Kok ada ini? Ini di masukkan juga?" tanya Andra tak henti.


"cepat masukin aja semuanya apa yang ada di situ, Dan jangan berisik. Lanjutkan smpai selesai." Tegas Katarina.


"Ndra, kalo lagi ngubur ari-ari nggak boleh berisik banyak tanya. Ntar anakmu ikutan berisik kalau udah gede." Terang Katarina setelah Andra menyelesaikan pekerjaannya.


"Oh, ya. Maaf Andra nggak tahu,Bu." ucap Andra.


"Nggak papa sudah telanjur, makanya Ibu nggak mau banyak bicara dari tadi." jawab Katarina.

__ADS_1


Andra memandang sedih kepada isteri dan jagoan kecilnya yang berdiri di depan pintu untuk melepas kepergiannya. Tiga hari sudah berlalu, Andra hanya diberikan waktu cuti tiga untuk menemui isteri dan jagoan kecilnya itu.


"Sabar Ndra, ntar tunggu Algi setahun atau enam bulan baru kamu ajak mereka ke sana. Sementara di sini dulu sampai Algi gede, kasihan kalau di bawa ke sana jauh dari fasilitas kesehatan." ucap Katarina melihat kesedihan Andra.


"Iya, Bu. Ntar kalo Algi enam bulanan lah Andra jemput mereka." jawab Andra.


"Hati-hati ya, Ndra. Kabarin kalau udah nyampe." ucap Regina.


"Da ... da ... jagoan Ayah, jangan nakal ya sama ibu." Kecup Andra pada jagoan kecilnya.


"Aku berangkat dulu ya, Re." pamit Andra pada Regina.


Andra mendekati Katarina dan mencium punggung tangannya. "Bu, Andra berangkat, ya."


"Hati-hati di jalan ya, Ndra." ucap Katarina.


Andra memasuki mobil yang akan membawanya kembali ke tempat ia bekerja, lambaian tangan Regina dan tatapan kesedihannya, membuat Andra merasakan sesuatu yang terasa sesak di dadanya.


Namun, hanya dua bulan setengah perpisahan itu. Andra kembali datang dan memboyong anak dan istrinya ke Kutai Barat tempat ia bekerja.


Suka duka mereka jalani saat berada di Kutai Barat, selain keterbatasan listrik air juga menjadi satu halangan saat membawa bayinya ke sana. Apalagi di saat kemarau tiba sangat sulit sekali mendapatkan air bersih.


Air hujan, air sumur, air sungai, bahkan air kemasan botol pernah dijadikan air untuk mandi si Algi kecil. Suatu hari saat Algi berumur 5 bulan.


"Halo, Yang. Gimana Algi udah ada perubahan?" Resah Andra di ujung telepon.


"Belum, Yang. Dari tadi nangis terus nggak berhenti." jawab Regina dengan gusar.


"Oke. Tunggu ya, aku ijin pulang dulu. Ntar kita bawa Algi ke klinik perusahaan." ucap Andra.


"Panasnya terlalu tinggi, badanya juga lemas sekali terlalu banyak kekurangan cairan. Sebaiknya harus segera di bawa ke rumah sakit, rumah sakit mana yang akan di tuju biar saya langsung buat surat rujukannya?" ucap Dokter yang ada di klinik perusahaan.


"Ke A.M Parikesit saja, Dok." jawab Andra.


Dokter berpikir sejenak sebelum berbicara pada Andra. "Sebaiknya ke HIS saja, karena terlalu jauh ke Tenggarong. Tubuhnya sudah terlalu lemah, saya khawatir dia nggak akan bisa bertahan." ucap Dokter itu.

__ADS_1


"Baik, Dok." jawab Andra.


__ADS_2