
Regina menatap sedih wajah Algi yang tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit, selang infus terpasang di tangan kanannya setelah sebelumnya dua kali gagal. Andra belum kembali dari ruang administrasi.
"Kok lama, Yang." tanya Regina ketika Andra sudah muncul di hadapannya.
"Tadi keliling dulu nyari foto copy buat berkas pendaftarannya, Yang." ujar Andra.
Andra menyerahkan sebungkus nasi, "Nih, makan dulu. Kamu belum makan dari pagi."
Regina menerima dan meletakkan bungkusan itu di atas lemari kecil di samping bed. "Nanti aja, aku belum lapar."
"Makanlah Yang biar sedikit, nanti kamu ikut sakit. Kalau kamu sakit siapa yang bantu aku jagain Algi." ucap Andra.
Regina terdiam sejenak, lalu ia mengambil bungkusan itu dan memakannya.
Pukul lima sore jam kunjungan pasien di buka, satu per satu tamu mulai berdatangan untuk menjenguk dua orang pasien lainnya yang ada di dalam ruangan tersebut. Hingga malam tiba tamu terus silih berganti datang menjenguk.
Regina melamun sedih di samping Algi yang tertidur. Ia sedih di saat seperti ini, ia sendirian tanpa satu pun saudara yang menemaninya dan menyemangatinya.
"Dari mana, Dek?" Seorang Ibu pasien menyapa Regina.
"Saya dari kampung bawah, Bu." jawab Regina.
"Oh ... asli kampung itu atau bagaimana?" tanya Ibu itu lagi.
"Saya dari Tenggarong, Bu. Cuma suami kerja di situ." jawab Regina.
Keduanya pun terlibat dalam suatu obrolan dan terhenti ketika ponsel Regina berdering.
"Halo, Re. Gimana Algi." Suara Katarina terdengar khawatir.
"Udah mendingan, Bu. Sekarang udah bisa tidur nyenyak dia." ucap Regina.
"Syukurlah, Re. Kamu sama siapa di situ?" tanya Katarina.
"Berdua sama Andra, cuma Andra lagi keluar nyari makanan sama susu Algi?" jawab Regina.
__ADS_1
"Mertua mu nggak ikut nemanin kamu?" tanyanya lagi.
"Nggak, Bu. Ibu mertuaku juga lagi nggak enak badan, kasihan kalau di bawa takutnya sampai sini sakitnya tambah parah." Bohong Regina.
"Oh iya, Re. Kasihan dia, titip salam ya buat mertuamu. Maaf ya, Re. Ibu nggak bisa jenguk dan bantuin kamu jaga Algi, seandainya kalian dekat ibu sudah berangkat dari tadi." Sesal Katarina.
"Nggak papa, Bu. Ibu nelepon gini Regina sudah senang, makasih ya Bu." ucap Regina.
"Iya, Nak. Walau gimana pun Ibu belum puas rasanya kalau belum lihat cucu Ibu langsung, Kamu hati-hati di sana ya. Jangan sampai kamu nggak makan ntar kamu ikutan sakit juga yang sabar di sana ya, Re. Ibu paham apa yang kamu rasakan sekarang, jangan sedih walau kamu sendirian di sana tapi kami selalu mendukungmu dalam doa." sahut Katarina.
"Makasih, Bu." ucap Regina menahan tangis.
"Ya sudah, Ibu tutup dulu teleponnya ya. Ingat, jaga kesehatan mu. Titip cium buat cucu Ibu ya."
Katarina menutup teleponnya berbarengan dengan kemunculan Andra, setelah Andra tiba Regina langsung berjalan menuju keluar meninggalkan Andra yang kebingungan melihat isterinya keluar sambil meneteskan air mata.
Andra menyusul Regina dan duduk di sampingnya di teras ruangan rawat inap.
"Kamu kenapa, Yang. Kok nangis gitu?'' tanya Andra.
"Nggak papa, Yang. Aku sedih aja kita sendirian di tempat orang seperti ini, satu pun nggak ada kerabat yang kita kenal di sini." ucapnya berbohong.
"Nggak papa, Yang. Emang udah waktunya Algi sakit, ini bukan kesalahan kamu." ucap Regina.
"Maaf, Yang. Kita masuk ya Yang, kasihan Algi sendirian di dalam." ajak Andra.
"Kamu duluan aja ya, Yang. Aku mau cari udara segar dulu, aku bosan seharian di dalam." jawab Regina.
Andra pun masuk ke dalam meninggalkan Regina yang masih duduk di teras. Air mata Regina menetes karena ia terharu dengan perhatian dan kepedulian ibunya yang tak pernah putus padanya padahal ibunya berada jauh darinya.
Sedangkan Marisda yang berada di dekatnya tak memperdulikan cucunya yang sedang sakit jangankan untuk menelepon menanyakan kabar cucunya. Saat Algi masih di rumah, sedetik pun tak ada kehadiran mertuanya itu untuk menjenguk Algi sampai Algi akan di bawa pun ia tak kunjung menjenguk.
Setelah lima hari dirawat Algi akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Saat mereka tiba di rumah ibu-ibu kosan dan tetangga mertuanya sudah menunggu di depan rumah mereka.
"Maaf ya, Re. Kami nggak bisa jenguk Algi ke sana."
__ADS_1
Ucap Bu Ani yang diikuti ucapan maaf dan ucapan doa dari ibu-ibu yang lainnya saat sudah berada di dalam rumah Regina.
"Nggak papa, Bu. Saya ngerti, lagian tempatnya lumayan jauh. Makasih ya ibu-ibu atas doanya." ucap Regina.
"Ini Re untuk Algi, terima ya."
Ibu Sinta memberikan bingkisan kue dan amplop untuk Regina dan di susul oleh ibu yang lainnya sambil berpamitan pulang. Ketiak mereka sudah di depan pintu mereka berpapasan dengan Marisda.
"Wah Ibu Marisda. Nengok cucu ya Bu, senangnya lihat Algi punya Nenek yang perhatian. Banyak sekali kuenya Algi beruntung deh, Gi ... kalau nggak habis bagi-bagi ke Tante Ani di sebelah ya." ucap Bu Ani.
"Iya, Bu. Namanya juga cucu ya harus di jenguk." ucap Marisda sambil berlalu.
"Ndra, Ibu ada perlu sebentar sama kamu." ucap Marisda kepada Andra.
"Ya Bu, ada apa ngomong aja." sahut Andra.
"Ibu mau pulang kampung Minggu depan, kamu tambahin ya uang Ibu." ucap Marisda.
"Andra nggak ada uang, Bu. Apalagi Algi baru keluar rumah sakit." jawab Andra.
"Bukannya biaya rumah sakit udah di tanggung perusahaan, kamu nggak usah bohong deh sama Ibu." ucap Marisda kesal.
"Memang di tanggung perusahaan, Bu. Tapi keperluan selama di sana nggak di tanggung perusahaan, biaya makan, biaya loundry, dan biaya lainnya lah selama di rumah sakit." terang Andra.
"Kamu sih, Ndra. Ikut-ikutan manjain anak seperti Regina, anak masuk angin dikit udah main rumah sakit padahal kan dikasih minyak kelapa sama bawang merah udah turun kok panasnya. Ibu nggak mau tahu pokoknya kamu harus siapin tiga juta untuk Ibu pulang kampung."
Ucap Marisda sambil berdiri dan melangkah keluar tanpa menoleh ke arah Algi yang ada di pangkuan Regina. Hati Regina sakit mendengar ucapan Marisda namun ia tak mau menampakkan kesedihannya di hadapan Andra.
Marisda melenggang melewati ibu-ibu yang masih duduk di depan kosan tanpa memberi salam atau pun menyapa mereka.
"Lha kuenya kok dibawa lagi, nggak di tinggal untuk Algi. Kirain untuk cucunya tadi." ucap Bu Ani
"Lho Bu ... Bu ... kayak nggak tahu Bu Marisda aja." jawab Bu Sinta.
"Emangnya kenapa sama Bu Marisda." tanya Bu Ani penasaran.
__ADS_1
"Bu Marisda itu kan ...."
Ibu-ibu yang duduk di depan kosan langsung menggelar acara gibah dengan tema Ibu Marisda