Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
Bab 10 Kehadiran Si Buah Hati


__ADS_3

"Belum ada pembukaan. Kamu nggak usah pulang Re, nginap di sini aja dulu." ucap Tante Widi setelah selesai memeriksa Regina.


Nata yang duduk di kursi menghampiri Regina yang terbaring di atas ranjang pasien dan mengelus pundak Regina.


"Iya, Re. Kamu di sini aja dulu biar kakak yang pulang ambil perlengkapanmu sekalian jemput ibu."


Regina yang meringis menahan sakit yang mulai meningkat hanya mengangguk pelan.


"Ya, sudah. Kakak pulang dulu besok pagi kakak kembali ya." lanjut Nata.


Tante Widi ikut keluar mengantar Nata dan mengunci pintu. Lalu ia pergi ke dapur membuat segelas teh hangat untuk Regina.


"Ini Re, diminum dulu."


Regina menyambut pemberian Tante Widi  dan menyesapnya sedikit "Makasih Tante."


"Tante, masuk dulu ya. Kalau ada apa-apa panggil aja Tante di sebelah.''


Pamit Tante Widi sebelum pergi ke kamarnya yang berada di sebelah. Tante Widi membuka praktek bersalin di rumahnya, kamar untuk praktek memang berada di depan rumah dan berdampingan langsung dengan kamar tidur Tante Widi agar ia lebih mudah memantau pasien.


Pukul lima subuh kontraksi di perut Regina  semakin  tak tertahan ia pun segera memanggil Tante Widi dengan memencet tombol di samping kepalanya. Tak lama kemudian Tante Widi datang dan langsung memeriksa Regina.


"Sudah pembukaan satu Re."


"Baru satu Tan-te Regina pi-kir sudah mau melahir-kan ah ... aduh sakit Tan-te." ucap Regina terbata menahan sakit yang luar biasa.


Tante Widi mengelus kepala Regina "Iya, sabar ya Re." 


Terdengar suara ketukan, Tante Widi segera keluar dan membuka pintu. Katarina muncul dengan wajah panik dan langsung menuju ke arah Regina.


"Gimana Regina?"


"Nggak papa, Kak. Baru pembukaan satu.'' jawab Tante Widi.


"Kenapa nggak bangunin ibu tadi, Re." tanya Katarina dengan khawatir.


"Nggak pa-pa bu, Regina nggak mau bu-at ibu pa-nik." ringis Regina.


Tante Widi tersenyum memandang Katarina.


"Betul, Kak. Kakak kan orangnya panikan yang ada nanti malah sibuk urus kakak daripada Regina."

__ADS_1


Katarina mendengus kesal dengan jawaban Widi dan kembali bertanya pada Regina.


"Kamu sudah menghubungi Andra?"


"Belum sempat, Bu. Tolong ambilkan handphone Regina di situ." jawab Regina, setelah Handphone di tangan ia segera mengirim pesan untuk Andra.


>>Aku sudah mau melahirkan Yang<<


Handphone Regina langsung berdering, Regina menjawab suara Andra yang panik di seberang sana.


"Halo, Yang."


"Kamu dimana Yang, sudah mau lahiran sekarang, aku turun ke Kukar nanti." ucap Andra bertubi-tubi.


"Aku sudah di rumah Tante Widi, Yang. Kamu tenang aja nggak usah panik gitu." sahut Regina sambil menahan rasa sakit yang mulai muncul kembali. 


"Iya, Yang. Aku sudah terlanjur turun kerja, tapi nanti aku mau ngajukan ijin ke kantor dulu habis itu baru aku turun, kamu yang kuat ya tunggu aku ya." ucap Andra tak beraturan.


"Iya, Yang. Kamu yang tenang ya jangan panik gitu, ntar malah kamu yang kenapa-kenapa di jalan." ucap Regina.


"Iya, Yang kamu yang kuat ya." ucap Andra.


Regina menutup pembicaraannya dengan Andra di telepon, bibirnya tersenyum sambil menahan sakit mengingat kata-kata Andra yang tak beraturan karena panik.


Katarina duduk di kursi teras, di belakang Regina. Ia pun terlihat lebih resah dari Regina, tak terhitung berapa kali sudah ia bolak- balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Bila Regina meringis kesakitan saat kontraksi tiba, maka Katarina pun merasakan perutnya ikut sakit dan mules.


Tante Widi muncul dengan pakaian rapi bersama paman Johan, Katarina yang melihat adiknya rapi langsung bertanya dengan panik.


"Lho. Kalian mau kemana ini? Regina mau melahirkan begini kenapa malah mau ditinggal?"


"Maaf, Kak. Kami pergi melayat sebentar, ada dua jemaat yang meninggal dan Mas Johan harus memimpin ibadahnya karena Pastor Vincent sedang memimpin ibadah duka di sektor tiga. Saya hanya hadir sebentar, setelah itu saya kembali lagi." ucap Widi.


"Tapi, Regina gimana, Wid?"  tanya Katarina cemas.


"Tenang, Kak. Sebentar lagi Nata datang." jawab  Widi.


"Oh, iya. Tapi kamu jangan lama-lama loh, Wid." ucap Katarina.


"Iya, Kak. Saya cuma sebentar hadir, saya nggak enak kalo nggak datang karena Mas Johan ketua sektor dua." sahut Widi.


Tante Widi dan Paman Johan segera berangkat, selang beberapa menit kemudian Nata muncul di hadapan Katarina dan Regina.

__ADS_1


"Gimana Regina, Bu." tanya Nata.


"Itu kami lihat sendiri, dari tadi terus meringis kesakitan tapi baru pembukaan dua." jawab Katarina.


"Ayo, kita periksa lagi di dalam." ucap Nata sambil menuntun Regina ke dalam ruang bersalin.


Baru pembukaan tiga yang di dapat oleh Nata saat memeriksa jalan lahir Regina. Nata melepaskan Hands Scoonnya sambil berucap pada Regina.


"Kamu kurang gerak sih, Re. Makanya lambat pembukaannya."


"Kak, aku mau buang air besar." ucap Regina.


"Di situ aja, Re. Nanti dibersihkan." sahut Nata.


Regina berusaha untuk bangun dari tempat pembaringannya. "Nggak, aku nggak biasa kak. Aku mau ke kamar mandi."


"Jangan keras kepala, Re. Apa kamu mau anakmu jatuh ke dalam kloset nantinya saat kamu mengejan." Nata berusaha melarang Regina untuk ke kamar mandi.


"Nggak, Kak. Aku benar-benar mau buang air besar, ini bukan kontraksi." ujar Regina bersikeras.


"Sok tahu kamu, sedangkan kamu aja baru mau melahirkan. Ya, sudah. Sini Kakak antar." ucap Nata sambil menuntun Regina ke kamar mandi.


"Masuk sana, tapi pintunya nggak usah di tutup." Lanjut Nata lagi.


"Tapi, aku nggak bia--"


"Jangan banyak tapi-tapi! Turuti perintah ku!" Bentak Nata.


Regina akhirnya masuk ke dalam kamar mandi tanpa berani bicara apapun lagi. Ia tahu kalau saat ini Nata sedang marah padanya. Ia pun menahan rasa malunya, baru kali ini ia buang air besar harus di awasi oleh orang lain.


Beberapa saat kemudian Regina sudah kembali lagi ke ruang bersalin, Tante Widi datang pukul dua belas siang. Kini Regina sudah tak mampu untuk bangun dari tempat tidurnya, ia terus meringis dan mengerang kesakitan. Pukul setengah empat sore Regina tertidur, baru setengah jam dia tertidur dia terbangun karena perutnya mengalami kontraksi yang cukup hebat. 


Terdengar suara seperti balon air yang pecah, Regina yang berbaring  dengan posisi miring menoleh ke bawah. Ia panik melihat air yg berwarna kuning kehijauan mengalir dari selangkanganya.


"Bu ... itu apa Bu ... Bu bangun." ucap Regina panik.


Katarina yang tertidur di tepi ranjang pun panik ia segera berlari memanggil Nata dan Widi yang sedang duduk di ruang tamu. Nata dan Widi segera masuk ke ruang bersalin, saat Katarina hendak masuk ke dalam ruang bersalin Nata mendorong pelan tubuh ibunya dan segera menutup serta mengunci pintunya.


Di dalam ruang bersalin Regina sedang berjuang untuk mengeluarkan bayinya, sementara di luar ruangan Katarina berusaha membuka pintu. Katarina menggedor- gedor pintu, menggoyangkan gagang pintunya sambil berteriak-teriak. 


Nata tak mengijinkan ibunya untuk masuk karena ibunya mudah panik dan latah. Nata khawatir kalau ibunya akan mengganggu konsentrasinya dan Widi seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


Akhirnya, pukul empat lewat sepuluh menit lahir seorang bayi laki-laki yang tampan yang diberi nama Alganio Vixie. Regina menangis haru menatap bayi mungil yang ada di  tangan Tante Widi.


__ADS_2