Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
4. Baskara


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


Dua puluh tahun yang lalu.


Baskara seorang pria yang cerdas namun karena keterbatasan orang tuanya yang kurang mampu ia terpaksa menamatkan pendidikan hingga ke tingkat SMA saja. Hari-hari Baskara ia jalani dengan membantu pekerjaan kedua orang tuanya di ladang.


Desa Pondok Labu tempat tinggal Baskara heboh dengan kedatangan anak juragan beras yang baru pulang dari kota yang bernama Sania, Sania baru saja menamatkan pendidikannya di kota Tenggarong.


Baskara pun tak menyangka kalau Sania kecil yang menjadi teman mainnya itu kini berubah menjadi gadis yang sangat cantik nan jelita sehingga membuat para pemuda di kampung berebut untuk meminangnya.


Sania menjadi kembang mahal di desanya banyak pemuda melakukan banyak cara untuk mendapatkan kembang yang mahal seperti Sania. Ya, semua pemuda kecuali Baskara. Baskara sadar pemuda biasa sepertinya tak akan mungkin bisa memetik kembang desa seperti Sania.


Baskara selalu menghindar bila bertemu dengan Sania namun semakin Baskara menghindar Sania justru semakin penasaran dibuat olehnya. Ibarat mendapatkan durian runtuh mungkin itulah kata yang tepat untuk Baskara karena ternyata Sania justru jatuh cinta padanya.


Gayung pun bersambut ternyata orang tua Sania mau menerima Baskara yang miskin itu untuk menjadi menantunya. Dengan pesta yang meriah yang ditanggung oleh orang tua Sania, Sania dan Baskara pun kini resmi menjadi suami isteri.


Kebahagiaan pun di uji saat mereka sudah memiliki Miranda anak mereka yang baru berusia tiga tahun, Sania yang terbiasa hidup serba berkecukupan ternyata tak mampu bertahan untuk hidup serba kekurangan bersama Baskara.


Karena dibutakan oleh cinta maka Baskara pun sanggup melakukan segala cara agar Sania tak meninggalkan dirinya walaupun cara yang dilakukan sangatlah membahayakan hidupnya kelak.


"SANIA! SANIA! BASKARA! Cepatlah pulang, cepat!" Tetangga ayah Sania bernama Rumi berteriak dengan panik.


"Ada apa ini, kenapa teriak-teriak begitu?" Sania yang sedang mengayun Miranda di dalam pondok keluar dengan panik.


"A, ayahmu, ayahmu mati di tebas perampok." Ucap Rumi bergetar.


"APA! Ayaaah." Sania berlari pulang sambil menangis histeris.

__ADS_1


Baskara meletakkan mandau yang dipakai untuk membersihkan ladang dan segera menggendong miranda lalu mengejar Sania isterinya.


Ayah Sania meninggal, ia dirampok sehabis menjual hasil panen di kota lalu kemudian di susul oleh ibunya yang sakit--sakitan. Sudah dua bulan ibu Sania terbaring lemah di kasur tanpa makan dan minum apa-apa sehingga hanya tinggal kulit pembalut tulang saja yang tersisa.


"Nak, panggil Baskara." Ucap Ibu Sania dengan susah payah berlomba dengan nafasnya yang tersengal. Sania pun segera memanggil suaminya.


"Ada satu hal penting yang ibu ingin sampaikan pada kalian." Ucapnya masih tersengal.


"Iya Ibu, pelan-pelan bicaranya," sahut Sania.


Dengan tersengal dan nafas yang tersendat Ibu Sania menceritakannya. "Di dalam lemari itu ada kotak tembaga dan ada sebuah botol kecil di dalam kotak itu, botol itu berisi minyak yang akan membuat kalian sukses dan tak akan kekurangan apa pun, apa pun yang kalian usahakan pasti akan berhasil. Tapi untuk mendapatkannya salah satu dari kalian harus melakukan ritual agar minyak itu menyatu dengan tubuh kalian. Bila kalian ingin mendapatkan minyak itu kalian harus menemui Kakek Muhdar yang ada di dalam hutan belakang Lamin itu."


"Apakah kami tidak bisa menggunakan minyak yang ada itu Bu?" Tanya Sania.


"Tidak bisa Nak, minyak itu hanya bisa digunakan oleh Ayahmu karena minyak itu sudah menyatu dengan tubuhnya, kalian harus membuat minyak yang baru." Nafas ibu Sania semakin sesak ia tak sanggup untuk berbicara lagi.


"Bagaimana Yah, apa ayah mau melanjutkan minyak itu?" Tanya Sania.


Baskara menggeleng, "Nggak Bu, aku takut hal itu akan membahayakan untuk keluarga kita. Bukan kah yang ada jauh lebih dari cukup untuk kita makan."


"Hanya cukup untuk makan saja. Iya cukup untuk makan terus untuk masa depan anak-anak gimana? Masa tua kita gimana? Dan kebutuhan yang lainnya gimana?" Paksa Sania.


"Sudahlah Bu, aku tetap tidak akan meneruskannya. Bahaya," tegas Baskara.


"Aku menyesal kembali ke kampung ini, seandainya tahu begini maka aku tak akan menolak pinangan dari Anhar anak Camat di Tenggarong," ketus Sania sambil berlalu meninggalkan kamar.


Keesokan harinya ibu Sania meninggal sebelum meninggal ia sempat mengatakan satu hal kepada Sania di ujung sisa nafasnya.

__ADS_1


"Aku mau kita pisah," ucap Sania setelah upacara penguburan ibunya selesai.


"Tapi kenapa? Apa salahku Sania?" Tanya Baskara.


"Salah? Untuk apa kau menanyakan salah yang sudah pasti kau mengetahuinya," ketus Sania.


"Tapi-"


"Tapi apa? Aku tak mau hidup susah denganmu, aku ingin kita berpisah karena Anhar sudah menungguku." Ucap Sania semakin ketus.


"Tolonglah Sania, aku akan bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Ingatlah pada Miranda, kasihan dia Sania." Baskara berlutut dan memeluk kedua kaki Sania.


Sania mendorong Baskara dan menepis tangan Baskara. " Masa bodoh, kau bisa urus Miranda sendirian aku tak akan membawanya."


Didorong oleh rasa cintanya dan takut akan kehilangan Sania Baskara akhirnya menuruti kemauan Sania. Baskara sempat menghilang selama satu tahun lebih setelah itu ia kembali dengan membawa kejayaan untuk Sania.


Baskara yang baik hati dan penyayang pada keluarganya kini berubah semenjak ia pindah ke kota ia jarang menemui orang tuanya dan adik-adiknya. Janjinya untuk membantu menyekolahkan adik-adiknya pun ia lupakan sehingga Katarina harus berhenti sekolah dan banting tulang menghidupi ketiga adik-adiknya karena kedua orang tua mereka meninggal karena sakit.


Sabina dan Mandala memilih tidak bersekolah mereka lebih memilih untuk membantu Katarina, kini mereka bertiga dengan penuh semangat mengurus Anastasia dan menyekolahkannya hingga menjadi seorang dokter.


"Yah, apakah Ayah sudah yakin?" Tanya Sania pasa Baskara.


"Mau tidak mau harus yakin, Bu."


"Ya sudah, Besok Ayah hati-hati ya ," Ucap Sania


"Iya Bu, doakan saja." Sahut Baskara, Sania mengangguk khawatir.

__ADS_1


Besok Baskara berencana untuk menemui kakek Muhdar di hutan belakang Lamin dan berburu minyak yang disebut oleh mertuanya.


__ADS_2