Minyak Pesugihan

Minyak Pesugihan
Bab 16 Kemelut Hidup 4


__ADS_3

"Kamu kenapa kayak anak kecil main kabur segala, bawa-bawa Algi lagi. Kamu nggak kasian sama Algi, dasar egois!" ucap Andra.


"Kamu yang egois, marah-marah tanpa alasan." sahut Regina.


"Tanpa alasan? Harusnya kamu menyadari kenapa aku sampai semarah ini. Selama ini aku diam Re setiap ibuku mengadu yang nggak-nggak tentang kamu, tapi kemarin aku benar-benar malu Re. Kenapa kamu sampai minta beras ke Melly? Kamu apain uang gaji ku sampai-sampai kamu minta beras ke Melly, ternyata benar yang diucapkan ibuku kamu boros dan nggak bisa ngatur keuangan dengan baik, Re. Aku malu dan aku kecewa sama kamu Re." ucap Andra.


"Astaga, Ndra! Jadi kamu marah-marah nggak jelas selama ini karena itu. Ya, ampun. Aku kemarin memang minjam beras ke Melly dua kilo karena apa? Karena beras kita habis sementara Pak De langganan beras kita lusa baru datang. Jadi ku pikir daripada beli di warung yang kamu tahu sendiri keadaan di sana itu seperti apa serba mahal jadilah aku ke rumahnya Melly minjam berasnya sebentar, lusa Pak De beras datang barulah ku ganti." sahut Regina.


"Tapi kamu juga terlalu boros, Re. Kalau belanja selalu berlebihan untuk apa kamu setiap hari beli ikan atau ayam berkilo-kilo dan belanja yang lainnya secara berlebihan." ucap Andra lagi.


"Ndra! Aku memang belanja dengan berlebihan karena apa? Kamu tahu sendiri kita punya bayi jadi tak mungkin aku setiap hari harus berbelanja ke warung jadi aku memang sengaja belanja yang berlebih untuk stok jadi aku tak harus setiap hari pergi ke warung. Lagian kamu sendiri tahu di rumah ada berapa orang yang harus kita nafkahin. Jadi, kamu marah-marah nggak jelas sama aku hanya karena itu. Bukan aku yang kayak anak kecil, tapi kamu Ndra." sahut Regina.


Andra terdiam sesaat, menarik lalu menghembuskan nafas berat "Maafkan aku, Re. Aku stres ibuku hampir setiap hari menelepon dan mengadu yang nggak-nggak tentang kamu, awalnya aku nggak terpengaruh tapi lama-lama aku jadi terpengaruh. Apalagi kemarin, saat aku sangat lelah bekerja seharian ibuku menelepon dan marah-marah katanya kamu sering minjam beras ke Melly bikin malu ibu saja."


"Astaga, Ndra. Aku memang minjam beras ke Melly tapi itu nggak sering, baru sekali dan itu yang kemarin. Entahlah apalagi yang ibumu aduin ke kamu, aku capek. Aku capek Ndra dengan semua tingkah ibumu, aku bingung ibumu berada jauh di kampung tapi kenapa dia bisa tau semua gerak gerik ku dan melaporkannya ke kamu." ucap Regina.


"Entahlah ... maafkan aku, Yang. Kita pulang ya, malu sama ibumu kalau dia sampai tahu." ucap Andra.


"Kamu tenang aja, aku bukan ibumu yang selalu lapor apa pun ke kamu, Ndra. Ibuku nggak tahu tentang permasalahan kita, dia hanya tahu kalau aku datang untuk menengoknya." sahut Regina.


"Kita pulang besok ya, soalnya aku kabur dari kerjaan nggak ada minta ijin. Tadi aku bohong sama ibu." ucap Andra lagi.


"Astaga. Kenapa kamu begitu, Ndra." Regina kaget.


"Habisnya aku panik kamu tiba-tiba pergi begitu." jawab Andra.

__ADS_1


"Darimana kamu tahu kalau aku pergi?" tanya Regina.


"Mirna yang nelepon aku, Yang." jawab Andra.


"Sudahlah, Yang. Aku capek, besok kita pulang." ucap Regina.


"Iya, Yang. Yuk, kita istirahat sudah malam Maafin aku, ya.'' sahut Andra.


Regina hanya mengangguk pelan, Lalu keduanya beristirahat melepaskan segala rasa lelah yang mendera.


Keesokan harinya setelah makan siang mereka pun kembali ke Kutai Barat.


Sesampainya di Kutai Barat Regina langsung masuk ke dalam rumah untuk meletakkan Algi yang sudah tertidur pulas ke dalam kamar, saat melewati kamar Mirna dan Milka Regina tak sengaja mendengar pembicaraan Mirna di telepon.


Regina terkejut mendengar pembicaraan mereka yang lainnya, ia meletakkan Algi ke kamar lalu kembali ke kamar Mirna. Mirna yang sedang asik melaporkan semua kejadian pada Marisda terkejut melihat Regina tiba-tiba muncul.


"Kak Regina, kapan datang Kak." Mirna tergagap sambil mematikan ponselnya.


"Barusan." jawab Regina singkat.


Mirna salah tingkah dan malu pada Regina.


"Nggak papa aku nggak marah, Mir. Kamu belum berkeluarga jadi kamu nggak paham bagaimana rasanya berumah tangga, kelak saat kamu berumah tangga aku harap kamu nggak mengalami dan merasakan apa yang aku alami saat ini." ucap Regina.


"Maaf, kak." Mirna tertunduk malu.

__ADS_1


"Aku hanya sedikit kecewa sama kamu, Mir. Aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri tapi kami tega buat aku begini." ucap Regina.


"Maaf, Kak. Tante yang maksa Mirna dan menelepon Mirna tiap saat untuk menanyakan semua kegiatan yang Kakak lakukan dan apa saja yang Kakak beli."


Regina terkejut mendengar pengakuan Mirna, ia tak menyangka kalau mertuanya sampai sejauh itu.


Dan setiap kali setelah mendapat laporan dari Mirna maka Marisda akan langsung menghubungi Andra dan memarahi Andra. Awalnya Andra tak pernah merespon setiap aduan yang datang dari ibunya, namun lama kelamaan Andra mulai terpengaruh dan akhirnya keributan-keributan pun sering terjadi dalam rumah tangga mereka.


"Ya sudah, Mir. Semuanya sudah terjadi, aku harap kamu nggak ngulanginnya lagi." ucap Regina.


"Maaf ya, Kak."


Regina segera keluar menemui Andra, ia tak menceritakan ap yang ia ketahui kepada Andra karena ia tak ingin masalahnya menjadi besar kembali.


Dua tahun telah berlalu semenjak kejadian itu, namun Marisda terus saja melaporkan hal yang tidak-tidak kepada Andra. Dan tentu saja pertengkaran-pertengkaran kecil sering terjadi akibat ulah Marisda.


Akhir tahun 2014 proyek perusahaan tempat Andra bekerja sudah selesai dan mereka kembali tinggal di Kutai Kartanegara. Mereka tinggal di rumah orang tuanya Andra yang berada lima kilometer dari rumah Katarina. Dan selama Andra menganggur Marisda tak pernah menghubungi mereka.


Berat hati Regina untuk tinggal di rumah mertuanya karena ia tahu bahwa hal itu pasti akan menimbulkan masalah suatu hari nanti. Namun mengingat Andra yang baru saja berhenti bekerja dan tidak mempunyai penghasilan Regina terpaksa mengikuti keinginan Andra untuk tinggal di situ.


Selama menganggur Andra dan Regina mengisi waktu dengan berkebun disamping rumah, berbagai macam sayuran mereka tanam. Kadang, hasil tanaman di bawa oleh Regina dan di jual keliling kampung.


Sudah tiga bulan Andra menganggur, keuangan pun semakin menipis dan untuk menyambung hidup Regina bekerja pada salah satu wahana permainan anak-anak. Dan Andra mengasuh Algi di rumah.


Selama Andra menganggur tak pernah keluarganya menghubungi mereka walau hanya sekedar menanyakan kabar.

__ADS_1


__ADS_2