
Dengan perasaan yang was-was dan takut Baskara menyeruak semak demi semak di belakang Lamin--rumah adat suku Dayak--hingga akhirnya ia menemukan jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan rimba yang konon dijaga oleh siluman Macan Dahan.
Menurut cerita yang beredar siluman Macan Dahan tersebut adalah saudara kembar kakek Muhdar yang menjelma menjadi seekor Macan Dahan dan hidup di hutan yang tak seorang pun berani memasukinya kecuali kakek Muhdar.
Kakek Muhdar orang yang paling tua di desa Pondok Labu ia tinggal seorang diri dalam pondok sederhana yang ada di tengah hutan di belakang Lamin tersebut.
Tak ada yang tahu apa sebabnya kakek Mudar memilih untuk tinggal seorang diri semenjak ia remaja, saat kedua orang tuanya meninggal secara mengenaskan dan adik kembarnya ikut terbunuh pada malam perampokan yang terjadi dirumahnya. Ia memilih untuk mengasingkan diri di dalam hutan. Dan menurut cerita pula adiknya yang terbunuh itu menjelma menjadi siluman Macan Dahan karena suatu kesalahan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Ada pula rumor beredar yang mengatakan bahwa kakek Muhdar memilih tinggal di dalam hutan untuk mengurung dan menjaga siluman Macan Dahan itu agar tak menggangu ketentraman desa serta tidak keluar untuk memangsa korban. Tak ada yang tahu pasti hingga saat ini, semuanya hanya sebatas rumor.
Baskara menarik nafas pelan lalu menghembuskannya dengan berat ketika sebelah kakinya mulai masuk dan menapaki jalan setapak itu. Hawa dingin mulai menyentuh kulit tubuhnya yang bercucuran keringat sebesar biji jagung, jika tak terjerat oleh cinta buta terhadap Sania ia tak akan memasuki tempat itu.
Suasana semakin gelap dan mencekam, suara-suara binatang kecil berkeriapan saling sahut menyahut seolah menyambut kedatangannya. Belum ada seperempat perjalanan namun ia sudah tak bisa melihat apa pun.
Baskara menghentikan langkahnya, ia menurunkan berangka--tas yang terbuat dari anyaman rotan--yang sedari tadi menempel di kedua pundaknya. Ia mengeluarkan obor dan korek api kayu yang tinggal setengah isinya, ia menggesek korek api kayu itu ke arah benda yang berwarna cokelat yang ada disamping kotak korek api.
Obor pun menyala ketika Baskara menautkan korek api itu ke obor yang ia pegang, langkah Baskara pun kembali dilanjutkan. Masuk dan terus masuk ke dalam hutan rimba yang mencekam.
Kabut berwarna abu-abu pun hadir menyelimuti perjalanan Baskara yang hampir mencapai tengah hutan. Gelap, tiba-tiba obor yang dipegang Baskara padam seolah ditiup oleh sesuatu. Baskara terdiam dengan nafas yang tersengal dan jantung yang berdegup kencang.
Baskara tak tahu harus bergerak kemana, kegelapan hadir menyelimutinya. Ia hanya pasrah berdiri di atas tanah yang ia pijak sekarang.
"Aaaauuummmmrrggghh."
Suara auman yang serak tiba-tiba terdengar pada indera pendengarannya semakin lama semakin jelas. Persendian kaki Baskara seketika melemah, ia lunglai tersimpuh di tanah.
__ADS_1
Sesuatu yang berat dan besar menerkamnya tubuhnya tergeletak diantara jemari yang sangat besar dan memiliki kuku yang tajam dan runcing. Nafas yang hangat dan aroma busuk menguar dihadapan wajahnya, lendir berbau busuk nan lengket menetes ke pipinya.
"Siapa kau?" Seseorang bertanya dengan suara yang berat dan serak menggema di telinganya.
"Bbas, Baas, Baskara." Ucap Baskara ketakutan.
"Siapa yang menyuruhmu kemari?" Tanya suara itu lagi.
"Ki, Kilana." Baskara menyebutkan nama ibu Sania.
"Pergi." Ucap suara itu dan sesuatu yang berat mencengkeram Baskara perlahan menghilang.
Kabut sedikit menghilang samar-samar terlihat lelaki tua yang memakai baju dari kulit kayu Jomok dan memakai ikat kepala merah di kepalanya, kalung yang terangkai dari berbagai taring seperti taring Babi hutan, Macan dan kuku Beruang melingkar di lehernya. Gelang berbentuk lingkaran naga yang terbuat dari akar menghiasi kedua pergelangan tangannya.
Dari ciri-cirinya ia meyakini kalau itu adalah kakek Muhdar karena lelaki tua ini mirip sekali dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh mertuanya.
Baskara mengikuti langkah lelaki tua yang memegang tongkat untuk membantunya melangkah, walaupun lelaki tua itu memakai tongkat untuk berjalan Baskara masih kesulitan untuk mengejar langkahnya.
Dengan nafas yang sudah tersendat-sendat akhirnya mereka tiba di sebuah pondok sederhana ditengah hutan. Baskara semakin yakin kalau lelaki tua itu adalah kakek Muhdar karena hanya dialah satu-satunya yang memiliki pondok di tengah hutan.
"Apa yang diinginkan oleh Kilana lagi?" Tanya kakek Muhdar.
"Ibu mertuaku sudah meninggal seminggu yang lalu," sahut Baskara.
Kakek Muhdar terdiam sejenak sambil memandang wajah Baskara dengan serius. "Lalu?"
__ADS_1
"A, aku kesini untuk mendapatkan ini." Dengan bergetar Baskara meletakkan botol minyak itu di depannya.
Kakek Muhdar mendengkus sinis. "Kilana, Kilana seharusnya engkau mengakhiri semua ini bukannya malah melanjutkannya."
"Apa kau siap dengan segala resiko yang ada?" Kakek Muhdar menatap tajam pada Baskara setelah berpikir beberapa saat.
"Si, siap Kek." Tanpa berpikir panjang Baskara mengiyakan ucapan kakek Muhdar.
"Istirahatlah dan makan yang banyak hari ini karena engkau akan menjalani hari yang berat tanpa makanan lagi," ucap kakek Muhdar.
"Tapi Kek-"
Baskara tak bisa melanjutkan lisannya karena kakek Muhdar sudah tak berada di tempatnya lagi ia menghilang begitu saja. Baskara mengedar pandangannya ke sekitar, ia terkejut sejak kapan ia berpindah ke dalam ruangan yang mirip seperti kamar itu.
Di dekat tikar pandan ada buah-buahan yang sangat banyak tersusun rapi dalam wadah piring yang besar sebesar alat penampi beras. Piring tersebut terbuat dari bahan keramik dan memiliki bentuk serta ornamen yang unik. Selain buah-buahan ada pula daging bakar yang tersedia di atas nampan kecil.
Baskara mengambil tempat air minum yang terbuat dari labu tersebut, menenggak isinya yang segar bagaikan air es. Ia mengambil beberapa buah dan melahapnya setelah buah ia lalu mengambil ayam bakar dan melahap ayam tersebut hingga tak bersisa.
Kantuk pun mendera matanya setelah perutnya kenyang, ia merebahkan tubuhnya yang lelah dan kekenyangan di atas tikar pandan berwarna cokelat, perlahan matanya yang sayu mulai terpejam.
"Bangun." Sentuhan ujung tongkat di kakinya membuat Baskara terbangun dengan cepat.
"Ikut aku!" Sambil mengumpulkan energi sebanyak mungkin Baskara mengejar langkah kakek Muhdar.
Mereka berjalan meninggalkan pondok di malam yang gelap, jauh dan jauh hingga sampai ke sebuah air terjun yang cukup tinggi. Pada pangkal jatuhnya air terjun itu terdapat lubang yang besar sehingga dari tempat Baskara berdiri terlihat seperti mulut gua.
__ADS_1
"Kau harus berpuasa dan bersemedi selama tujuh hari tujuh malam di dalam sana dan kau tidak boleh keluar apa pun alasannya. Pada hari yang ke tujuh engkau akan mendengar suara gong tiga kali itu artinya semedi mu sudah usai, maka keluarlah. Sekarang berenanglah ke sana dan masuk ke dalam gua itu." Perintah kakek Muhdar.
Tanpa banyak bertanya Baskara segera melompat ke dalam air dan berenang menuju ke arah yang di sebut oleh kakek Muhdar.