Mobile Legends System

Mobile Legends System
2. Isi Hadiah


__ADS_3

"Selamat, host mendapatkan paket hadiah pemula."


"Apakah host ingin membukanya?"


Dengan suara dan layar transparan biru terpampang jelas di hadapannya, Aldi tak lagi meragukan kehadiran sistem. Tahu bahwa dirinya telah mendapatkan hadiah, ia tanpa ragu membukanya.


"Buka!"


"Selamat, host mendapatkan Keterampilan Game [Penguasaan Hero] dan Keterampilan Game [Penguasaan Role] dengan level maksimal."


"Selamat, host mendapatkan Keterampilan Game : Penguasaan Hero [Roger]."


"Selamat, host mendapatkan Keterampilan Game : Penguasaan Role [Hypercarry Lv. Max]."


Pengetahuan dari keterampilan game ia dapatkan dari sistem mengalir masuk ke otaknya. Kelemahan, Kekuatan serta kemampuan dari hero Roger ada dalam otaknya. Perasaan ini membuat merasa seakan-akan ia telah memainkan hero ini bertahun-tahun tanpa menggunakan hero lainnya. Begitu pula dengan pengetahuan Role Hypercarry, sudah ada di otaknya dan merasa sangat ahli dalam penguasaan role ini.


Ia sudah merasa penasaran dan ingin langsung mencoba dua keterampilan yang didapatkannya, tetapi perutnya sudah mengeluarkan suara protes. Ia juga ingat dengan kekacauan yang terjadi semalam. Jadi, ia pun melepaskan rasa penasarannya untuk sementara waktu.


Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi, ia bangkit dari kasurnya dan mulai merapikan kekacauan yang telah terjadi semalam. Ia merapikan kasurnya, kemudian mengeringkan lantai serta multiplug yang masih terasa basah karena tumpahan kopi semalam. Setelah semuanya selesai, ia tersenyum melihat kamarnya yang telah rapi kembali.


Membawa cangkir dan lap beserta selembar handuk di pundaknya, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Namun, baru saja hendak melewati dapur, ia mendengar suara seorang wanita paruh baya berbicara kepadanya.


"Kebiasaan banget! Bangunnya kesiangan, terus cuma diam di rumah. Tidak bisakah kau menjadi sedikit berguna dibandingkan menjadi parasit di rumah ini?!"


Celotehan itu berasal dari bibinya dan perkataan seperti itu sudah ia dengarkan setiap harinya. Ia merasa kesal dan lelah selalu dianggap parasit oleh bibi dan sepupunya, tetapi ia tak bisa menunjukkan rasa kesalnya karena ia tinggal bersama mereka di rumah pamannya.


"Maaf, Bi. Saya tidak akan mengulanginya lagi," katanya menatap bibinya dengan ramah, menahan rasa ketidakberdayaan yang ia rasakan selama ini.


"Tsk! Untung saja suamiku orang yang sangat baik hatinya. Jika tidak, aku yakin orang sepertimu akan mati di jalanan," kata sang bibi mencela keponakannya walau telah mendengar permintaan maaf darinya.

__ADS_1


Aldi tak membalas apa-apa setelah mendengar perkataan bibinya. Ia tak bisa mengelak bahwa pamannya telah menyelmatkannya dengan tinggal bersama dengan mereka. Jika saja waktu itu pamannya tidak mengajaknya, ia mungkin akan berakhir di kehidupan jalanan yang sangat keras.


Satu tahun lalu, ia diselamatkan oleh pamannya karena rumah dan lingkungan di sekitarnya terkena musibah tanah longsor. Ia selamat dari kejadian itu, tetapi orangtua dan adiknya tidak selamat. Ditinggalkan oleh keluarga secara tiba-tiba seperti itu, pasti akan membawa luka yang sangat dalam di hatinya. Jika tidak ada pamannya, ia tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya saat itu.


Luka ditinggal oleh orangtua dan adiknya membuat dirinya jarang keluar dari kamar dan juga tak banyak bersosialisasi dengan orang lain. Tentunya, ia tak benar-benar menjadi parasit di keluarga pamannya. Melalui kemampuannya dalam bermain game, ia bisa menghasilkan uang untuk dirinya sendiri dan sedikit membantu-bantu pamannya dalam membayar kebutuhan rumah seperti beras, listrik dan yang lainnya.


Walau telah mencoba meringankan beban pamannya dengan ikut membantu membayar kebutuhan rumah, bibi dan sepupunya masih menganggap dirinya sebagai parasit. Jika ada pamannya di rumah, mereka bersikap sangat baik kepadanya. Ia sungguh tak mengerti mengapa mereka bersikap seperti itu, tetapi ia tak bisa membenci mereka karena pamannya adalah penyelamat hidupnya.


Ia juga tak bisa melaporkan tindakan bibi dan sepupunya kepada pamannya. Ia takut itu menjadi perkelahian keluarga di antara mereka hanya karena masalah dirinya sendiri yang hanya menumpang hidup di rumah keluarga mereka. Kejadian seperti itu selalu ia hindari.


"Bibi tenang saja. Dalam waktu dekat aku akan meninggalkan rumah bibi dan tak akan merepotkan paman lagi," katanya dengan nada lembut. Walau bibinya seperti itu, ia tak bisa menghilangkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.


"Heh, omong kosongmu terlalu besar! Uangmu saja tidak sampai satu juta, tapi sudah berlagak layaknya punya banyak uang!" ucap sang bibi tanpa percaya sedikit pun dengan ucapan keponakannya.


Keraguan ataupun ketidakpercayaan bibinya, ia tak akan menggubrisnya, apalagi berdebat tentang hal itu. Ia telah mendapatkan Sistem Mobile Legends dan dengan hadiah yang baru saja ia dapatkan, ia percaya dirinya bisa menghasilkan banyak uang dari game ini.


....


Rasa segar ia rasakan setelah selesai mandi. Rasa pusing yang ia derita juga telah hilang sepenuhnya. Kini, ia menatap dirinya sendiri di depan cermin kamar mandi.


Secara keseluruhan, dirinya tidak setampan bintang-bintang di dunia hiburan. Hanya saja, fitur wajahnya serta tatapannya yang lembut dengan senyum tipisnya sering ia berikan, membuatnya nyaman dipandang oleh orang lain.


"Untungnya wajahku baik-baik saja," gumamnya sembari menghilangkan kekhawatirannya tentang efek dari tersetrum listrik. Suara geraman perut kembali terdengar di telinganya saat sedang bercermin. Ia langsung menyadari betapa laparnya dirinya.


Kembali ke kamar lalu berpakaian dengan rapi, ia mencari sarapan di luar rumah. Walau hanya menyisakan sedikit uang lagi, ia tetap memilih untuk mencari sarapan di luar karena tak ingin merepotkan orang rumah, apalagi bibinya masih ada di rumah itu.


Baru saja kakinya menginjak lantai warung makan, seseorang menyambut kedatangannya. Sosok orang tersebut adalah seorang remaja sepertinya, hanya saja tinggi tubuh orang tersebut sedikit lebih pendek dibandingkan dirinya.


"Aldi, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi," kata orang tersebut sembari memegang ponselnya menghampiri Aldi. "Aku tak melihatmu aktif tadi malam. Sampai tengah malam itu kamu masih ngejoki?"

__ADS_1


"Semalam aku tidak menjokikan akun orang lain," jawab Aldi sembari menggelengkan kepalanya. Orang yang menghampirinya adalah teman bermainnya di game Mobile Legends. Walau jarang berinteraksi, ia masih bisa bersosialisasi baik dengan orang lain.


"Lalu, apa yang kamu lakukan? Apa kamu menonton itu, ya?" kata sosok pemuda tersebut dengan senyum misterius di wajahnya.


"Malik, aku tidak menonton. Tadi malam aku sangat mengantuk, jadi aku ketiduran," jawab Aldi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Ia tentu saja menyimpan rapat-rapat rahasia mengenai sistem. Kepada siapapun itu, ia tak akan mengatakan keberadaan sistem karena sistem adalah senjata rahasianya dan itu adalah hal yang ia anggap pemberian dari 'Dewa' yang akan membantunya menuju jalan menggapai mimpinya.


"Kali ini aku percaya kepadamu," ujar Malik sambil tertawa. Ia duduk di samping Aldi sembari sama-sama menunggu makanan tiba.


Aldi dan Malik menyantap makanan mereka sembari berbincang-bincang tentang turnamen serta Mobile Legends itu sendiri. Obrolan yang mengasyikan seperti ini membuat keduanya tak merasakan waktu berjalan dan makanan mereka telah habis.


"Aku sudah selesai, nih. Kamu nambah?" tanya Malik yang kemudian dijawab dengan gelengan kepala oleh Aldi. Ia pun melanjutkan bertanya, "Nanti siang aku mau push rank, kamu ada waktu buat mabar?"


"Maaf, Malik. Aku masih punya pekerjaan jokiin akun orang lain," jawab Aldi sembari berdiri dan berjalan bersama temanya.


Tahu temannya sibuk, Malik tak memaksanya untuk menemaninya bermain seperti biasanya. Ia berkata dengan nada bernyanyi, "Okelah kalau begitu, okelah kalau begitu."


Aldi tersenyum mendengar 'nyanyian' temannya. Setelah membayar harga makanannya, ia mengucapkan selamat tinggal pada Malik lalu kembali ke rumah.


Ia langsung masuk setelah sampai di sana. Di ruang keluarga, bibinya sedang menonton televisi. Mengetahui bibinya fokus menonton drama India, ia diam-diam berjalan ke kamarnya. Ia melakukan ini karena tak ingin mendengar celotehan-celotehan bibinya yang terus menghinanya.


Saat sampai di kamarnya, ia merasa sangat lega. Hadiah yang ia terima tadi pagi terus terpikirkan olehnya sehingga ia pun langsung mencabut kabel pengisian dari ponselnya. Ia tak sabar mencoba keterampilan yang ia dapatkan. Namun, ia terkejut dengan apa yang ia lihat pertama kali, itu adalah panggilan tak terjawab yang sangat banyak sekali.


Nama bos tampak jelas pada nama kontak yang meneleponnya. Ia langsung merasa khawatir, kemudian mencoba menghubungi bosnya lebih dulu untuk meminta maaf. Namun, nama bosnya muncul sekali lagi dalam bentuk panggilan telepon baru.


Layar menerima langsung digesernya dengan cepat dan ia langsung menyapa bosnya, "Halo, Bos! Saya–"


"Kamu dipecat dari tim joki!"

__ADS_1


__ADS_2