
Adam memandang Firza dengan harap-harap cemas. Menjual emasnya ke pengerajin perhiasan atau tempat semacamnya, bukanlah solusi yang baik. Ia tidak bisa terus menerus berpindah-pindah tempat untuk menjual emasnya bukan?
Jadi, Adam berpikir untuk membayar semua transaksinya yang bernilai besar menggunakan emas. Dengan begini, jumlah emas yang perlu ia jual, agar bisa membeli beberapa barang lain, bisa berkurang.
Namun, Adam tidak tahu apakah perusahaan produsen jam tangan ini mau menerima pembayaran dengan menggunakan emas. Jika mereka menolaknya, maka Adam perlu berpikir keras mencari solusi terbaik untuk menjual emas miliknya.
"Membayar dengan menggunakan emas?" tanya Firza ingin memastikan kembali apa yang ia dengar.
"Ya. Aku ingin membayar semua jam tangan yang aku pesan dengan memggunakan emas. Apa aku boleh melakukan itu?" tanya Adam sekali lagi.
"Maaf, kami nggak menerima pembayaran dengan menggunakan emas," jawab Firza.
"Aku sudah menduganya. Kalo gini, apa yang harus aku lakukan? Nggak semua orang mau ngebeli emas dalam jumlah banyak terus menerus bukan? Ini juga bisa nimbulin kecurigaan baru buatku," gumam Adam dalam hati.
"Seperti itu rupanya. Kalau begitu, aku masih belum memiliki uang untuk bisa membayar semua pesananku. Aku perlu menundanya," jelas Adam.
"Kalo Pak Adam perlu menjual emas terlebih dahulu, kenapa nggak ngejual emas ke bank aja? Bank juga nerima kalo ada yang ngejual emas ke mereka," ucap Dion tiba-tiba.
"Benarkah? Bank juga nerima pembelian emas?" tanya Adam tidak percaya.
Ini adalah informasi baru yang tidak pernah Adam ketahui. Ternyata, menjual emas tidak hanya bisa dilakukan di toko emas atau penggadaian. Bank juga menerima hal ini.
"Tentu saja, Pak Adam. Bahkan Kamu juga bisa membeli emas lewat bank."
__ADS_1
"Tapi, emas milikku nggak ada sertifikatnya. Ini bukan emas batangan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang biasa ngeluarin emas batangan. Itu adalah emas leburan milikku," jelas Adam.
Laki-laki itu merasa perlu menjelaskan hal ini. Kebanyakan emas yang dijual di lembaga resmi, memiliki sertifikat yang menyatakan bahwa itu adalah emas murni.
"Aku dengar ada bank yang bisa menerimanya, Pak Adam. Mereka bisa mengecek lagi emas milikmu untuk melihat keasliannya sebelum membeli. Kamu bisa mencoba menjual ke sana, Pak Adam," jelas Dion.
"Kalo gitu, aku akan mengunjungi bank ini. Pak Firza, aku akan memberimu kepastian dalam tiga hari mengenai jumlah jam tangan yang aku pesan. Apalah nggak masalah dengan ini?" tanya Adam.
Adam takut Firza menganggapnya penipu karena tidak langsung memberi kepastian. Apalagi alasannya yang tidak memiliki uang untuk membayar. Jadi, Adam memberikan janji ini kepada Adam.
"Tentu saja, Pak Adam. Itu nggak terlalu jadi masalah. Kalo Pak Adam udah memutuskan, Anda bisa menghubungiku," jawab Firza.
...
Sedikit rasa gugup menyerang Adam. Ia sangat berharap bank ini mau membeli emas miliknya. Dengan begitu, ia tidak perlu lagi pusing mencari pembeli emas. Bank ini memiliki reputasi yang sangat bagus. Ini membuat Adam merasa aman jika berhasil menjual emasnya di sini.
Ketika bank tersebut buka, Adam langsung mendekati satpam bank. Tentunya satpam tersebut bisa memberinya informasi mengenai siapa yang harus ia temui untuk membahas urusannya ini.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya satpam tersebut.
"Ya. Aku dengar bank ini bisa membeli emas. Aku ingin menjual emas milikku. Apa yang harus aku lakukan, Pak?" tanya Adam.
"Ah, menjual emas rupanya. Tunggu di sini sebentar, Pak."
__ADS_1
Satpam tersebut lalu berjalan menuju meja customer service. Sepertinya dia tengah menginformasikan mengenai permintaan Adam yang satu ini. Tidak lama kemudian, satpam tersebut kembali menemui Adam.
"Bagaimana, Pak?"
"Mari ikuti saya menemui Pak Heru. Dia yang bertanggung jawab akan urusan seperti ini," ucap satpam yang Adam lihat bernama Ismail itu.
Ismail lalu membawa Adam memasuki area khusus pegawai. Meski ini masih lagi, pegawai di bank ini terlihat sudah sibuk dengan urusan mereka. Adam juga tadi melihat pelayanan di bagian depan bank ini, sudah dimulai sejak bank buka.
Jika ini bank negara, kemungkinan besar pelayanannya akan sedikit terhambat. Ada beberapa urusan yang perlu mereka selesaikan dan sering membuat nasabah menunggu sangat lama. Ini sangat berbeda dengan bank swasta yang Adam kunjungi ini.
"Pak Heru, ini ada yang ingin menjual emasnya," ucap Ismail ketika mereka sampai di sebuah ruangan. Seorang laki-laki paruh baya dengan kacamata tebal terlihat sibuk mengurusi berkas di depannya.
"Menjual emas, ah silahkan duduk dulu. Saya Heru, dengan Bapak siapa ya?" tanya Heru.
"Adam, Pak."
"Jadi, ada yang bisa saya bantu?"
Adam lalu merogoh tas ransel yang ia bawa. Sekilas, ia terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas tersebut. Namun, pada kenyataannya Adam mengambil emas dari cincin ruang miliknya. Tas ini hanya kamuflase yang Adam buat untuk mengelabui orang-orang di semitarnya.
Semenjak mendapatkan cincin ruang, Adam merasa tempat paling aman untuk menyimpan barang berharga miliknya, hanya cincin ruang. Jika nanti dirinya dirampok, maka mereka tidak akan mendapatkan barang berharga darinya.
"Tapi emasku kayak gini. Apa kalian menerimanya?" tanya Adam yang sekarang memperlihatkan emas miliknya, dengan harap-harap cemas.
__ADS_1