
Seorang perempuan berjalan mendekat ke arah mereka. Ia datang dari balik mobil yang terletak tidak jauh dari mereka. Ukuran mobil yang cukup besar membuat keberadaan perempuan itu tidak bisa dilihat dengan mudah.
"Bu Agnez!" sapa Budi dengan sebuah senyuman kecil.
Sementara itu, pelayan perempuan yang sebelumnya memperlihatkan "kesedihannya", kini ekspresinya telah berubah menjadi takut. Perempuan itu bahkan secara tidak sadar mundur beberapa langkah setelah melihat kehadiran Agnez, yang tiba-tiba muncul dari mobil di dekat mereka.
"Sejak kapan Bu Agnez ada di sana? Apakah dia mendengar semuanya dari awal? Atau dia hanya mendengar sebagian saja?" tanya pelayan perempuan itu dalam hati.
Dia memang mendengar bahwa Agnez memintanya untuk mengemasi barangnya. Namun, jika Agnez tidak mendengar semuanya, ia masih bisa mengelak dan mempertahankan pekerjaannya ini. Perempuan itu masih sangat berharap bisa mendapatkan pacar orang kaya. Dengan bekerja di sini, kesempatannya untuk bisa mencapai impiannya semakin besar.
"Apa maksud Bu Agnez dengan memintaku mengemasi barangku?" tanya perempuan itu, berlagak tidak tahu apa yang tengah terjadi.
"Heh." Agnez mendengus mendengar ucapan dari salah satu karyawannya, ah tidak calon mantan karyawannya, yang sekarang bersikap seolah-olah tidak tahu apa yang sekarang ia maksudkan. Agnez sangat yakin perempuan ini tahu. Barusan saja, Agnez bisa menangkap perubahan ekspresi pada perempuan ini.
"Nggak perlu bersikap kayak nggak tahu apa pun. Aku emang ngelindungin karyawanku dari pelecehan seksual. Tapi, aku nggak pernah ngelindungin penipu. Jangan kira aku nggak denger semuanya."
"Dari awal pelanggan kita ini menjaga jarak aman denganmu. Seperti yang dia katakan tadi, dia sama sekali nggak nyentuh Kamu. Lalu, setelah tahu pelanggan kita ini mampu membeli mobil lunas, Kamu justru mendekatinya."
"Dari yang aku perhatikan tadi, pelanggan ini langsung menjauhkan diri ketika Kamu dekati. Dia bahkan mengatakan kalo dia memiliki tunangan. Kamu nggak nggak hanya nipu, tapi juga fitnah orang."
__ADS_1
"Tokoku terlalu kecil untuk bisa menampung orang sebesar dirimu. Sekarang, selagi aku masih berbaik hati, lebih baik Kamu kemasi barangmu dan segera pergi dari sini. Apa Kamu mau menunggu surat pemecatan dariku," jelas Agnez panjang lebar.
Mendengar ucapan Agnez yang mendetail, tidak memberikan sedikit pun ruang bagi perempuan itu untuk membantah. Agnez benar-benar mengetahui semuanya dari awal hingga akhir. Sekarang, mau tidak mau ia harus mengemasi barangnya.
Agnez sudah cukup baik dengan menyuruhnya pergi dan tidak mengeluarkan surat pemecatan. Ini berarti, bosnya itu masih memberinya kesempatan untuk meminta surat pernyataan bahwa ia pernah bekerja di sini. Ia bisa dianggap keluar dengan terhormat. Dengan begitu, masih akan ada tempat lain yang mau menerimanya segelah ini.
"Baik, Bi Agnez. Aku akan segera mengemasi barang-barangku. Maafkan aku sudah mengecewakanmu, Bu Agnez," ucap perempuan itu sembari menundukkan kepalanya, masih belum berani menatap langsung ke arah Agnez, karena rasa bersalah miliknya.
"Heh." Agnez mendengus sekali lagi.
"Kamu udah sadar ya kalo apa yang Kamu lakuin itu salah. Tetapi, lagi-lagi Kamu ngelakuin hal yang salah. Seharusnya orang yang Kamu mintai maaf bukan aku, tapi pelanggan ini. Dia yang Kamu fitnah, sudah seharusnya Kamu meminta maaf padanya bukan?"
"Maafkan aku. Aku nggak seharusnya bersikap seperti itu padamu," ucap perempuan itu.
Namun, Adam tidak mengatakan apa pun kepada perempuan ini. Meski pemilik toko mobil ini mengatasi masalah ini dengan baik, tetapi Adam tidak memiliki niatan untuk memaafkan mereka. Apalagi, ketika melihat ketidak seriusan perempuan ini.
"Bisakah Kamu memaafkanku?" ucap perempuan itu sekali lagi, setelah tidak mendengar jawaban dari Adam. Jika saja Agnez tidak memandanginya, maka ia akan langsung pergi tanpa meminta maaf kepada Adam dan menunggu respon laki-laki itu.
"Pergilah! Aku nggak mau liat wajahmu di sini lagi," ucap Adam dingin.
__ADS_1
Mendengar jawaban Adam, perempuan itu langsung bergegas pergi. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan Agnez. Toh setelah ini dirinya tidak akan lagi bekerja di sini. Lebih baik ia sekarang pulang dan memikirkan pekerjaan apa yang harus ia pilih setelah ini.
"Bu Agnez, maafkan aku. Aku nggak bisa ngontrol bawahanku dengan baik," ucap Budi setelah kepergian karyawan perempuan tadi.
"Kamu juga membuat kesalahan yang sama? Kamu ini manager loh, baru aja aku ngingetin dia buat minta maaf ke orang yang tepat. Sekarang, Kamu justru mengulangi kesalahan itu. Ini ngebuat aku berpikir, apakah semua yang kerja di tokoku ini nggak becus semua?" tanya Agnez.
Ucapan Agnez merupakan tamparan keras untuk Budi. Bisa-bisanya ia melakukan kesalahan yang sangat fatal. Seperti kata Agnez, sebagai seorang manager, tidak seharusnya ia membuat kesalahan seperti ini.
Budi langsung menghadap ke arah Adam. Laki-laki itu lalu sedikit membungkukkan badannya ke arah Adam. Maafkan aku, Tuan. Tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi. Aku minta maaf karena telah membuatmu tidak nyaman ketika berada di toko ini."
"Tidak perlu meminta maaf. Aku nggak butuh permintaan maaf kalian. Dan, aku juga nggak akan datang ke sini lagi kalo nyari mobil. Pelayanan kalian ternyata nggak sebaik itu. Masih ada tempat lain yang menjual mobil di kota ini," ucap Adam, yang langsung membalikkan badannya, berniat pergi. Toko ini benar-benar mengecewakannya.
"Jangan pergi dulu, Pak. Kita bisa membicarakan semuanya. Aku bisa memberikanmu potongan harga sebagai permintaan maaf kami. Kamu suka mobil itu tadi kan? Kamu bisa membawanya pulang hanya dengan harga tujuh ratus juta saja. Lalu, Kamu juga akan mendapatkan potongan harga sebanyak lima persen jika nanti membeli mobil di sini lagi," ucap Agnez.
Sebagai pemilik toko, tentu saja Agnez harus melakukan sesuatu untuk bisa mempertahankan pelanggannya. Apalagi, tokonya memiliki kesalahan besar dalam kejadian ini. Setidaknya ia harus memberikan kompensasi berupa potongan harga untuk Adam.
Potongan seratus juta cukup menyakitkan, bagi Agnez. Apalagi, janjinya memberi potongan harga lima persen untuk pembelian kedua. Semua itu bisa membuatnya rugi cukup besar. Namun, Agnez merasa perlu melakukan ini.
Intuisinya mengatakan Adam bukan orang biasa. Dia bisa menjadi pelanggan tetap yang memberikan pembelian besar mobil di tokonya. Agnez sangat mempercayai intuisinya ini.
__ADS_1