Multiworld Merchant

Multiworld Merchant
Balas Dendam "Kecil" (2)


__ADS_3

"Mundurkan mobilmu itu. Jika Kau tidak mau memundurkannya, aku nggak bisa ngejamin mobil itu akan baik-baik aja," ancam Brian.


Laki-laki itu kini mengeluarkan sebuah pisau saku dari tangannya. Ia lalu menggerak-gerakkan pisau tersebut sembari berjalan mendekat ke arah mobil milik Adam. Dari gerakannya, terlihat Brian ingin menggores mobil milik Adam.


Pandangan mata Adam langsung berubah menjadi lebih dingin melihat apa yang Brian lakukan. Tidak masalah jika sepupunya ini menganggap bahwa Adam hanya sopir. Tetapi, mengancam akan merusak mobil milik Adam hanya karena tidak mendapatkan tempat parkir, itu adalah hal yang keterlaluan.


"Coba lakukan kalau bisa. Kita tinggal melihat mana yang akan rusak duluan, mobilku atau tanganmu itu. Mungkin, tanganmu akan patah terlebih dahulu sebelum Kamu bisa merusak mobilku ini," ucap Adam dingin.


Meski belum sestabil itu, perekonomian Adam sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Ia tidak lagi takut akan ancaman dari keluarga paman dan bibinya. Jika mereka akan melakukan sesuatu kepadanya, Adam sudah lebih dari siap untuk melakukan perlawanan. Tidak ada lagi Adam yang hanya diam dan membiarkan orang lain merundungnya.


Brian langsung mundur selangkah mendengar ucapan Adam. Laki-laki itu tahu Adam tidak main-main dengan perkataannya. Jarak di antara mereka berdua cukup dekat. Dari yang Brian ingat, Adam bisa bergerak cepat untuk meringkusnya. Bruan tidak akan memiliki kesempatan untuk mengelak jika Adam sampai menyerang.


"Jangan macam-macam denganku. Apa Kamu lupa bahwa keluargaku ini adalah pengusaha terkaya di kota ini. Jika Kamu macam-macam, maka Kamu tidak akan sanggup menerima konsekuensinya," ancam Brian.


Ketika berucap demikian, Brian membusungkan badannya. Dagunya juga ia angkat tinggi-tinggi. Brian hampir melupakan identitasnya karena telalu takut dicelakai oleh Adam. Dengan latar belakang keluarganya, Adam tidak akan bisa berbuat macam-macam. Sekali pun ia melakukan sesuatu, keluarganya pasti akan membalas dendam lebih cepat.

__ADS_1


"Aku sama nggak takut dengan ancamanmu itu, Brian. Pengusaha kaya raya di kota ini adalah Almarhum Kakek. Sekarang, setelah Kakek meninggal, kekayaannya sudah dibagi untuk ebberapa paman dan bibi."


"Mungkin kalian sangat akur dan bisa bekerja sama untuk menyingkirkan aku agar nggak dapet warisan dari Kakek. Namun, sekarang kalian pasti kembali saling sikut buat ngehatuhin satu sama lain bukan?" tanya Adam sembari


Adam sangat paham watak paman dan bibinya. Mereka menganggap Adam sebagai seseorang yang sangat mudah dirundung karena sudah tidak memiliki orang tua. Mereka bekerja sama untuk membuat Adam mendapatkan sedikit mungkin warisan, atau bahkan tidak mendapatkan apa-apa.


Sekarang, setelah tujuan mereka tercapai, peperangan perebutan warisan itu berubah. Sekarang paman dan bibinya berusaha menjatuhkan satu sama lain untuk merebut saham milik saudara mereka.


Brian sebagai anak tertua dari paman tertuanya tentu tahu mengenai hal ini. Beberapa paman dan bibinya yang lain sangat berharap saudara mereka mengalami masalah.


"Itu memang benar. Tapi untuk apa Kamu bilang seperti ini?" tanya Brian waspada. Laki-laki itu yakin Adam tida membahas hal ini tanpa alasan kuat. Pasti ada sesuatu yang sepupunya ini rencanakan.


"Tentu saja aku ingin Kamu berhati-hati. Jika Kamu tertangkap kamera karena berbuat semena-mena, maka citramu akan berubah menjadi buruk. Ada kemungkinan proyek yang Kamu tangani bermasalah dan perlu penggantian penanggung jawab proyek. Paman dan bibi yang lain pasti sangat mengharapkan ini," ucap Adam yang sekarang memperlihatkan seringai lebar.


Brian lalu mengikuti arah pandangan Adam yang beberapa kali melihat ke arah mobil yang dia kendarai. Baru sekarang laki-laki itu sadar bahwa di mobil itu ada kamera dasbor. Semua yang ia lakukan jelas terekam di kamera tesebut.

__ADS_1


"Sial," umpat Brian dengan keras. Ia tidak menyangka sekarang Adam jauh lebih cerdik daripada sebelumnya. Sepupunya ini sudah tidak lagi mempan dengan ancamannya. Bahkan, dia sekarang mengancam balik Brian.


"Awas saja, Adam. Urusan kita belum selesai. Aku akan membuat perhitungan denganmu di lain hari," ucap Brian cukup kesal.


Laki-laki itu lalu kembali memasuki mobil sport miliknya. Ia tadi melihat adanya lahan parkir yang kosong. Daripada berdebat dengan Adam, lebih baik ia segera memarkirkan mobilnya. Setelah ini, ia masih harus menghadiri pertemuan dengan rekanan bisnis untuk membahas proyek yang sekarang ia tangani.


Tentu saja Brian tidak bisa telat. Seperti yang Adam bilang, proyek yang sekarang ia tangani adalah proyek besar. Orang yang ingin Brian temui adalah perwakilan perusahaan besar dari ibukota, yang berniat berinvestasi di proyek ini. Brian harus bisa meyakinkan mereka untuk mau berinvestasi di proyek ini.


Adam menatap Brian dengan tatapan dingin. Sekarang, Brian memang mundur dan tidak kembali mengganggunya. Namun, Adam masih sangat kesal. Kemenangan kecil ini tidak bisa memuaskannya.


Adam bukanlah orang baik. Ia seorang pendendam. Laki-laki itu ingin memberi pelajaran berharga untuk Brian. Setelah memarkirkan mobilnya, Adam memandangi mobil milik Brian. Mobil itu di parkir di tempat yang cukup kosong. Tidak ada mobil lain di sekitarnya.


Adam langsung berkonsentrasi. Ia memfokuskan pandangannya ke arah mobil Brian. "Fireball," gumam Adam pelan.


Sebuah bola api kecil keluar dari ujung jari Adam. Ukurannya sangat kecil, itu lebih kecil dari nyala api lilin. Dengan ukurannya yang kecil, cukup mudah untuk Adam mengontrol bola api tersebut. Apalagi, cahaya terik mentari membuat bola api tersebut cukup sulit dilihat.

__ADS_1


"Kamu benar, Brian. Urusan kita memang belum selesai. Ini adalah hukuman kecil untukmu. Kamu sangat suka dengan mobil ini bukan? Jadi, akan aku buat barang yang Kamu sukai hancur. Ini sama seperti yang sering Kamu lakukan padaku," gumam Adam.


__ADS_2