My Annoying Chef

My Annoying Chef
Chapter 10


__ADS_3

Studio menjadi sangat sunyi, tampaknya para kontestan berusaha fokus untuk mendengarkan aba-aba dari para juri.


"Ambil garlic, … kupas, … lalu cincang halus." Loka berjalan mengelilingi bench para peserta.


Kontestan terlihat semakin tegang.


"Waktunya dimulai dari, …" Andrew berteriak.


Namun, pria itu menggantung kata-katanya, sehingga membuat suasana semakin menegangkan.


"Sekarang!!" Teriak Alia.


Andrew dan Alia saling menatap, kemudian tersenyum. Sementara Loka tampak memutar mata dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Tatapan tajam, juga seringai penuh ejekan, namun selalu terlihat tampan.


Farah membawa beberapa siung bawang putih, memukulnya menggunakan pisau terlebih dulu, memisahkannya dari kulit, lalu kemudian mulai mencincangnya.


Loka berjalan memutari bench, melihat para peserta satu persatu. Ada yang terlihat sangat menguasai hal tersebut, ada juga yang terlihat gugup sampai tangannya bergetar kencang.


"Kalau sudah ada yang selesai, boleh angkat tangan!" Ujar Loka.


"Siap Chef!!" Mereka menjawab bersamaan.


Farah mencoba fokus, dia melihat orang-orang di sekitarnya, lalu menengadahkan pandangan untuk melihat mesin waktu yang terletak di atas langit-langit ruangan tersebut.


"Oke, stop!" Andrew berteriak, ketika dia melihat salah seorang dari peserta mengangkat tangannya.


Dia berjalan melewati beberapa bench peserta, lalu melihat hasil bawang putih cincang yang kontestan tunjukan.


"Kurang halus!" Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka saling menatap, lalu tersenyum penuh arti.


"Oke, lanjutkan." Kata Alia.


Dan setelah itu kontestan kembali mulai mencincang bawang putih sehalus mungkin. Sampai pada akhirnya Farah mengangkat tangan, yang segera mencuri perhatian Loka.


"Stop!" Loka berteriak.


Pria itu berjalan mendekati Farah, dengan kedua tangan yang di lipat di atas dada. Dan benar-benar berhenti tepat di samping Farah, melihat hasil cincangan bawang putih milik gadis itu.


Gadis yang sempat membuat emosinya naik turun karena ejekannya yang selalu dia jawab tanpa merasa takut ataupun canggung.


Farah terdiam dengan perasaan berdebar-debar, lalu memberanikan diri untuk menatap pria tinggi yang berdiri di sampingnya. Loka yang menyadari itu segera menoleh, dan keduanya saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.


"Oke, Nex!" Loka berteriak kencang.


Kemudian dia pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, membuat Farah sedikit kebingungan.


"Lah? Terus harus apa ini?" Farah celingukan.


Seorang kontestan kembali mengangkat tangan, membuat juri kembali datang dan memastikan halus cincangan bawang putih miliknya.


"Oke, nex!" Alia berteriak.


Suasana menjadi sangat mendebarkan, ketika beberapa orang mulai mendapatkan hasil yang juri inginkan. Sementara Farah masih diam dan belum diperintahkan untuk melakukan hal selanjutnya.


"Bagi kalian yang sudah menyelesaikan challenge pertama. Silahkan ambil bawang bombay, potong dadu, dan sisihkan sebanyak seratus gram." Loka memberi arahan.

__ADS_1


"Farah, kamu lolos. Dan boleh lanjut pada tantangan selanjutnya." Loka mengarahkan pandangan kepada gadis yang terus terdiam.


Farah mengangguk, begitu juga dengan peserta-peserta lain yang sudah menyelesaikan tantangan pertama.


"Ingat! Tidak boleh menimbang terlebih dulu. Bawang Bombay akan di timbang setelah di potong dadu dan kami datang ke babch kalian. Jadi kalian harus menggunakan feeling disini, … cara mainnya masih sama, jika sudah selesai angkat tangan, jika kalian lolos lanjut ke step selanjutnya, dan jika gagal mengulanginya lagi sampai benar-benar dapat menghasilkan graman yang tepat." Ujar Andrew.


"Siap Chef!!" Farah berteriak penuh semangat.


Pertama dia memilah bawang Bombay dengan ukurang sedang, menimbang-nimbang menggunakan tangan, dan setelah merasa yakin, barulah Farah mengupas bawang tersebut, dan mulai memotongnya sampai membentuk dadu-dadu kecil.


Seorang peserta pria yang juga sudah memulai tantangan kedua mengangkat tangannya. Membuat Juri meminta semua perserta berhenti.


"Aih, … bisa pulang kalo nggak bisa-bisa!" Peserta yang belum dapat menyelesaikan tantangan pertama mulai mengeluh.


Nyatanya bawang membuat dirinya juga beberapa peserta lain kesulitan.


"Oke Nex!!" Alia kembali berteriak.


Sementara kontestan yang lolos ke tantangan selanjutnya meninjukan tangan ke udara sambil berteriak girang.


Loka tersenyum penuh arti, saat melihat beberapa peserta cukup kesulitan menaklukan tantangan bawang-bawangan. Sekilas memang terdengar mudah, hanya saja butuh kecekatan dan fokus yang cukup tinggi sehingga, mereka mampu melewati setiap tantangan yang juri berikan.


Farah mengangkat tangan.


Membuat Andrew datang menghampiri, kemudian menundukan pandangan untuk menatap hasil yang Farah perlihatkan. Segera Andre meletakan wadah berukuran kecil itu di atas timbang, lalu mengarahkan tatapan tajam dengan senyuman jahil kepada Farah saat timbangan bawang bombay gadis itu tidak sesuai.


"Fokus, Farah. Kurangnya masih sangat banyak!" Andrew tertawa mengejek.


Farah menghela nafasnya, dengan wajah yang tampak memerah karena merasa malu. Dia pikir Loka lah Juri yang suka bersikap seenak jidat, nyatanya Andrew pun begitu, bahkan lebih terang-terangan daripada Loka yang hanya suka menyindir.


"Ulangi, gunakan feelingmu dengan benar, … kalau tidak, kamu bisa tereliminasi hari ini!" Andrew menjentikkan jari telunjuk ke arahnya.


"Jika kalian sudah menyelesaikan challenge garlic dan anion. Kalian sudah boleh melanjutkan step selanjutnya. Bawa lima ratus gram bawang merah, dan iris tipis!" Loka berbicara sambil berkeliling, memperhatikan para peserta yang terlihat sangat serius dan bersungguh-sungguh.


Challenge bawang merah sudah di mulai, dan hampir semua yang menjalaninya mengalami perih di bagian mata, sehingga dapat beberapa kali teriakan diselingi tawa penuh ke seruan.


Satu-persatu kontestan mulai menyelesaikan tantangannya. Sehingga Juri persilahkan untuk naik dan memperhatikan dari atas.


Perasaan Farah mulai campur aduk. Nyatanya mengikuti acara bergengsi itu tidak semudah yang dia pikirkan, selain kemampuan, mental juga di pertaruhkan disana, karena tidak bisa di pungkiri, ada rasa sedikit minder ketika melihat orang-orang dapat menyelesaikan tantangan dengan waktu singkat.


"Oh astaga!" Farah menatap penghitung waktu yang berada tepat di hadapannya. "Ayolah Farah, fokus! Kamu harus bisa, … masa baru masuk mau out lagi? Nggak lucu tahu!" Dia bermonolog.


Kegelisahan di dalam hatinya semakin menjadi-jadi, sehingga membuat pisau mengenai jari telunjuk sebelah kiri.


"Astaga!" Farah melepaskan pisau di dalam genggamannya begitu saja. Sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.


Prankk!!


Farah meraih tisu sebanyak dua lembar, dan membalut jarinya yang meneteskan banyak darah dari luka goresan pisau secara tidak sengaja.


Semua perhatian juri tertuju ke arahnya, yang memang menempati bench paling depan.


"Medis, … medis tolong medis?" Crew yang menyadari segera berteriak.


Perempuan dengan pakaian yang cukup mencolok, dan berbeda dari orang-orang yang ada di sana segera berlari mendekati Farah, sambil membawa kotak dimana alat-alat yang diperlukan petugas medis berada di dalam sana.


Loka bersedekap, lalu melangkahkan kaki untuk mendekati bench Farah.

__ADS_1


Dia menatap wajah Farah yang terlihat pucat, bahkan ekspresi kesakitan dia perlihatkan, sehingga membuat Loka terus memperhatikan hanya untuk memastikan.


"Ah konyol sekali!" Gumam Loka.


Petugas medis berdiri di dekat Farah cukup lama, berusaha menghentikan darah yang terus keluar dari jari gadis di hadapannya.


"Aw!"


"Sebentar ya, Ka. Lukanya cukup dalam, dan darahnya terus keluar!"


Perban yang di lilitkan di luka Farah terlihat cukup tebal, yang tentunya benar-benar dapat menghentikan pendarahan yang Farah alami.


"Terimakasih, Ka." Ucap Farah pada perempuan di hadapannya.


"It's okay. Lain kali lebih hati-hati, … kerjakan semuanya lebih tenang, agar semuanya dapat kamu kendalikan, oke Farah?"


"Baik."


Petugas medis itu tersenyum, kemudian beranjak pergi.


Farah kembali mendekati bench, dia memasukkan irisan bawang bombay ke dalam sebuah mangkuk alumunium, dia mengira-ngira, terkadang terus menambah jumlah, dan setelahnya mengurangi sedikit demi sedikit.


"Chef!" Fara mengangkat kedua tangannya.


Loka menoleh, kemudian berjalan mendekati bench Farah dengan cepat. Dia mengangkat mangkuk berbahan alumunium itu, lalu meletakkannya di atas timbangan.


"Oke, kamu boleh lanjut ke challenge selanjutnya."


Farah tersenyum sumringah, dan dengan semangat penuh gadis itu mulai membuka kulit bawang merah satu persatu.


Dia menoleh ke arah belakang, dan terlihat beberapa orang masih berusaha menyelesaikan challenge ke 2. Bukan cara memotong dadu yang membuat mereka kesulitan, melainkan perkiraan mereka dalam timbangan, terkadang lebih, ataupun kurang.


Dan Farah beruntung dapat segera menyelesaikannya, sehingga dia dapat melanjutkan tantangan ketiga, dan harapan ia untuk lolos ke babak selanjutnya sudah terlihat.


Setelah beberapa saat, Farah kembali mengangkat tangannya, meminta Juri untuk mendekat, dan melihat apa yang sudah dia selesaikan. Ada sedikit perasaan lega, bahkan perempuan itu beberapa kali menghembuskan nafasnya. Farah merasa bangga kepada dirinya sendiri, meskipun satu jari tangannya terluka, tapi dia dapat melakukan challenge ketiga dengan sangat baik.


Alia menatap Farah lebih dulu, lalu dia tersenyum.


"Bagaimana dengan jari telunjuknya? Saya dengar lukanya cukup dalam sehingga mengalirkan banyak darah tadi?"


Farah mengangguk.


"Sedikit perih, … dan agak mengganggu. Tapi itu bukan masalah, Chef!"


Alia mengangguk, seraya meletakan wadah berisikan irisan bawang merah ke atas timbangan.


"Oke, selamat. Kamu boleh naik ke atas dan bergabung bersama teman-teman yang lain." Ujar Alia sambil tersenyum manis.


Membuat Farah berjingkrak, dan berlari mendekati tangga.


"Ada ya orang yang berat banget bilang terimakasih!" Loka menyindir.


Farah berhenti di tengah-tengah tangga, menatap Alia, kemudian membungkukan sedikit tubuhnya.


"Terimakasih, Chef." Dan setelah itu Farah melanjutkan langkahnya.


"Nah, … begitukan bagus!" Loka tersenyum meledek saat pandangannya bersama Farah bertemu, kemudian mendelik seperti yang selalu pria itu lakukan.

__ADS_1


"Ish, dasar Chef rese!!" Farah membatin.


__ADS_2