My Annoying Chef

My Annoying Chef
Chapter 15


__ADS_3

“Baik, Farah? Bagaimana dengan tantangan daging sapi kali ini?” Dia menatap gadis di hadapannya dengan raut wajah berbeda.


Loka maju lebih dulu, dengan kedua tangan dilipat di atas dada, sambil terus menatap hidangan dan wajah Farah bergantian. Pembawaannya tenang, terlihat kalem, dan itu membuat beberapa perempuan berdebar-debar saat melihatnya, apalagi bertatapan langsung.


Namun, tidak dengan Farah. Baginya Loka hanyalah seorang pria dengan sejuta gaya dan tebar pesona hanya untuk memikat para wanita.


“Sejauh ini masih bisa di handle, Chef. Meskipun awalnya bingung mau masak apa, … soalnya yang lain pada sibuk bikin steak dengan berbagai macam saus. Tapi saya ingin membuat hidangan yang berbeda.” Jawab Farah.


Dan itu terbukti, Farah satu-satunya peserta yang mempresentasikan sate sebagai hidangan terbaiknya.


Loka mengangguk-anggukan kepala, seraya memasakan ekspresi wajah yang terlihat sedikit meledek. Kedua alisnya terangkat ke atas, lalu tersenyum miring penuh ejekan.


Dan ekspresi itu yang membuat Farah semakin merasa muak saja di setiap harinya.


“Sate apa yang kamu buat?” Tanyanya, dia berusaha memperpanjang dialog.


Kemudian Loka membungkuk, untuk membawa sebuah piring kecil, juga satu buah sendok.


“Sate Maranggi, Chef. Khas Cianjur.”


Loka membawa satu tusuk sate, dengan tampilan yang cukup menyita perhatian. Warna coklat yang indah, daging sapi yang dipotong dadu dengan ukuran sedang, belum lagi aroma khas dari sate itu sendiri sungguh menggugah selera saat Loka mempertajam indra penciumannya.


Dia melepaskan setiap potongan daging dari tusuknya. Pertama mencoba tanpa menambahkan apapun, dan Loka mengunyahnya perlahan-lahan, seraya meresapi apa saja yang terkandung di dalam sana. Setelah itu barulah Loka menambahkan sambal oncom yang tersedia, dan rasanyanya benar-benar luar biasa nikmat.


“Kamu memilih sirloin?” Sekilas Loka menatap Farah, sebelum akhirnya kembali menikmati satu tusuk sate yang pria itu ambil kembali.


“Iya, Chef. Sate kan cenderung guring karena lemaknya itu sendiri, dan menurut saya Sirloin adalah bagian yang tepat.”


Loka mengangguk setuju.


“Kamu sudah mulai pandai, sekarang?” Pria itu tersenyum samar.


Farah diam tidak menyahut. Namun, tidak dengan batin dan isi kepalanya. Mereka seolah terus berteriak, menyanggahnya ucapan Loka dengan kata-kata kasar.


“Dasar gila!”


“Sok pintar!”

__ADS_1


“Memangnya hanya dia yang pandai memasak? Sementara kamu tidak!?”


Dan suara-suara itu terus bersahutan di dalam dirinya.


“Kayaknya Chef Loka suka nih!” Alia berbicara kencang. Sehingga menimbulkan suara riuh di dalam studio sana.


“Dari sikapnya saja sudah bisa di tebak. Dia sedang berusaha memancing umpan. Aku ini pria, jadi tahu bagaimana pria lain yang sedang berusaha menarik perhatian gadis yang kami incar.” Andrew berbisik kepada Alia.


Alia menggelengkan kepala.


“Pemilihan daging yang tepat, seasoning yang kamu bubuhkan juga pas. Garam, gula, asam, … bahkan wangi ketumbarnya sangat terasa, saya suka. Sayang, ada satu kondimen yang kurang. Yaitu sambal kecap, selebihnya tidak ada masalah.”


Setelah mengatakan itu Loka berbalik badan, membiarkan rekannya yang lain untuk mencicipi, dan komentar positif pun Farah dapatkan, sehingga membuat bibirnya tersenyum sumringah karena merasa sangat bahagia. Tidak seperti biasanya, saat Loka selalu membuat banyak drama, seolah sedang membuatnya menjadi sangat pelik.


***


“Kontestan semakin berkurang, kita juga harus mempersiapkan banyak materi setelah ini. Soal berikutnya tidak hanya tantangan, … banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menuju lima belas besar.” Andrew berusaha mensejajarkan langkah kakinya.


Mereka keluar dari studio memasak, berniat untuk segera menyambangi kediaman masing-masing untuk beristirahat setelah melakukan syuting seharian.


Loka berjalan santai, sambil menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana. Dia menoleh sekilas, lalu mengangguk dan tersenyum ketika bertatap muka dengan rekannya itu.


“Kapan kita akan memberikan materi kepada mereka? Dimana? Siapa saja?” Loka dengan semangat.


“Hey, kau lupa? Nanti malam lah. Kapan lagi? Kita sudah merundingkan tentang hal ini. Apa kamu ada janji di luar, urusan pribadi atau bertemu orang untuk urusan iklan atau syuting?” Andrew mencercanya dengan banyak pertanyaan sekaligus.


“Tidak ada. Tidak ada urusan pribadi, ataupun urusan bisnis. Aku sudah membatasi diri sekarang, aku fokus menjadi juri, dan memperhatikan kedai yang sedang dijalankan kedua adikku!”


Andrew mengangguk.


Mereka berhenti tepat di hadapan lift, dan menunggunya setelah Loka menekan tombol yang tersedia lebih dulu.


“Jadi malam ini bisa?”


“Ya, jam delapan sampai selesai, kan?”


“Hemmm, … kita hanya ikut menghadiri saja. Karena malam ini Alia akan memberikan materi lebih dulu, challenge besok tentang makanan penutup, dan itu dikuasai oleh Alia.”

__ADS_1


Tring!!


Bunyi itu terdengar, dan terbukalah pintu beli itu dengan perlahan. Dengan segera Loka melangkah masuk, di susul Andrew setelahnya.


“Baik, nanti kabari saja. Kalau tidak diingatkan kadang aku lupa. Kau tahu? Apartemen menjadi tempat kedua yang paling nyaman setelah rumah.”


Obrolan mereka kembali berlanjut.


Lift terasa mulai bergerak, turun dari lantai 17 menuju lantai dasar, dimana lobby berada.


“Sabar, hanya tinggal beberapa Minggu lagi, setelah itu kami bisa pulang ke Batam.”


“Ya, aku sudah penat”


Andrew terkekeh.


“Gimana nggak penat, kau hanya menghabiskan waktu luangmu di dalam apartemen. Temuilah beberapa gadis, ajak mereka berkencan, lalu menginap di salah satu hotel seperti biasa, … atau mau kau bawa ke apartemen juga tidak ada masalah, tidak ada yang melarang bukan?”


Loka hanya melirik, tanpa menanggapi ucapan rekannya sedikitpun.


“Ah kau berubah sekarang!”


“Dunia hiburan ini rumit, Ad. Salah langkah sedikit, makan kekacauan akan terjadi.”


Loka mengingat beberapa hal yang terjadi. Dan itu di akibatkan oleh kelalaiannya sendiri. Selain buta karena cinta, namun dia juga salah perhitungan kepada salah seorang wanita yang sempat dia jadikan tambatan hati, sehingga mantan kekasihnya dulu memperalatnya persis seperti mesin uang.


“Kalau begitu carilah dengan sungguh-sungguh untuk kau catat kisah yang baik setelahnya, bukan scandal seperti yang sebelumnya.”


“Bicaramu persis seperti ibuku. Seolah dunia ini hanya tentang umur dan pernikahan.”


Andrew tertawaan.


Kotak besi itu berhenti, dan tidak lama setelah itu pintu segera terbuka.


“Baiklah, sampai bertemu nanti malam.” Pamit Loka, ketika dia melihat mobilnya sudah berada terparkir tepat di depan pintu lobby.


“Bye!” Andrew melambaikan tangannya.

__ADS_1


“Kunci mobilnya, Pak.” Seorang petugas valet parking menyerahkan kunci kepada Loka setelah jarak mereka cukup dekat.


Pria itu mengangguk, kemudian meraih kunci yang diserahkan, untuk segera masuk ke dalam kendaraan roda empat itu, tentunya setelah memberikan beberapa lembar uang untuk upah, karena sudah membantunya.


__ADS_2