
Setiap hari menjalani rutinitasnya sebagai seorang juri chef master. Mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh crew, dengan pembawaannya yang dingin, jutek dan ceplas-ceplos seperti biasa. Gonjang-ganjing pemberitaan tentang dirinya di luar sana terus saja ramai terdengar, entah itu akun gosip, atau berita hot selebriti yang di tayangkan di televisi, yang tentunya tidak mengganggu Loka sama sekali, meskipun kolom komentar media sosialnya dipenuhi oleh cacian para penggemar Farah.
Pria itu seolah tidak peduli dengan berita yang digoreng sedemikian rupa, bahkan beberapa artikel memberikan informasi yang sangat berlebihan.
Tepat pukul 16.00 sore hari, Loka menapakkan kaki di salah satu tempat tinggalnya selama ia bertugas di Jakarta. Sebuah apartemen mewah, yang di siapkan pihak penyelenggara acara untuk Loka tempati.
Rasa sunyi kembali menyapa, tidak ada yang spesial di dalam sana, sehingga Loka mulai merasa jenuh.
Dia membuka jaket jeans yang melekat di tubuhnya, lalu melemparkan benda itu begitu saja ke atas sofa, dengan handphone yang terus berada di dalam genggamannya. Sementara dirinya terus melangkahkan kaki memasuki sebuah ruangan yang menjadi tempatnya melepas lelah.
Brugh!!
Loka menjatuhkan diri di atas ranjang tidur. Matanya menatap lurus kedepan, memperhatikan langit-langit kamar dengan perasaan tak menentu. Bukan tentang pemberitaan di luar sana yang mengatakan dirinya adalah salah satu juri terkejam. Melainkan pesan yang dirinya kirimkan belum mendapatkan respon apa-apa dari Farah.
Bahkan tampaknya gadis itu tidak membuka sosial media nya selama hampir satu Minggu lebih. Sehingga Loka hanya dapat melihat postingan terakhir gadis itu, dimana Farah tampak berdiri di bench miliknya, sambil menggunakan apron dan tersenyum manis.
“Kau membuat aku bingung sekarang!” Loka bermonolog.
Dia menatap layar handphonenya yang menyala, dan kembali membaca pesan yang sempat dia kirimkan kepada Farah. Dengan harapan gadis itu akan segera menerimanya, dan memberikan balasan.
[Hey]
[Ini saya, Loka.]
[Saya tahu kamu kecewa, atau mungkin marah. Terlepas dari apa yang harus saya lakukan setiap kali syuting berlangsung, … saya hanya mengharapkan pemberian maaf darimu. Mari bertemu, dan kita berbicara dengan baik, saya harap kamu bersedia menemui saya, dan kembali mengikuti chef master. Jika berkenan mungkin saya, Andrew, dan Alia akan mengundangmu langsung masuk ke 10 besar?]
“Sepertinya dia tidak akan membuka sosial medianya dalam waktu dekat. Mungkin takut diserbu netizen dengan banyak pertanyaan.” Loka berujar.
__ADS_1
Seraya menatap unggahan terakhir Farah, yang di penuhi ribuan komentar dengan berbagai macam pertanyaan yang berhubungan dengan dirinya.
Cukup lama Loka memperhatikan media sosial milik Farah. Sambil menikmati kesendirian yang memang selalu meliputi tempat itu. Sampai sesuatu tanda terlihat, dan itu cukup membuat Loka terkejut, bahkan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, kala melihat akun milik Farah yang tiba-tiba terlihat aktif.
“Oh ayolah!” Ucap Loka dengan perasaan gemas dan penuh harap.
Hatinya berdebar-debar, menunggu momen yang sangat menegangkan. Dia bahkan sudah bersiap dengan balasan paling buruk, yang mungkin saja Farah kirimkan. Karena dirinya cukup tahu diri, tidak mungkin Farah akan terus bersikap manis atas apa yang sudah Loka lakukan selama ini.
Namun, tiba-tiba saja panggilan telepon masuk dari Linda. Membuat Loka mendengus kencang karena merasa kesal.
“Ya, Ma?”
“Astaga apa ini? Berita tentang kamu terus berseliweran di televisi. Semua berita membahas tentang dirimu dengan gadis bernama Farah!”
Tanpa banyak basa-basi Linda langsung mencerca Loka dengan nada kesal.
“Jangan dilihat, jangan dibawa perasaan juga. Media memang begitu, … kaya baru pertama aja liat aku digosipin.” Jawab Loka.
“Tapi kamu membuat seorang kontestan menyabotase dirinya sendiri. Kenapa kamu terus menerus menekannya? Keadaan mental semua orang kan berbeda-beda, tidak bisa kamu sama ratakan, Loka Paramayoga!”
“Ya, aku tahu.” Pria itu menjawab singkat.
“Lalu apa yang kamu mau lakukan?” Todong Linda, seolah sedang meminta pertanggung jawaban Loka atas keributan yang pria itu lakukan.
“Ya apalagi kalau bukan meminta maaf. Ini juga aku sedang berusaha. Mama tahu? Mendapatkan alamat rumah dari seorang konglomerat itu sangat sulit!”
“Makanya kapan-kapan jangan terlalu menghayati. Sudah Mama jelaskan jangan terus seperti itu, selain kelihatan sangat jelek para gadis juga tidak akan mau mendekati kamu!”
__ADS_1
“Baik, Mama. Loka mengerti!”
“Mama tidak mau tahu, selesaikan semuanya dengan segera. Agar kami disini tidak mendapat gangguan atas apa yang kamu lakukan disana, bahkan kedai di tepi pantai saja sepi gara-gara kamu.”
Loka menghela nafasnya.
“Ya sudah, Mama mau ke kedai dulu. Si kembar sedang membuat masakan dari bahan-bahan yang tersisa banyak, terus mau di bagikan pada supir-supir taksi online atau orang yang membutuhkan.”
“Hemmm, … hati-hati!”
Dan sambungan telepon pun langsung terputus.
Loka menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, kembali menatap layar handphone yang masih berada di dalam salah satu aplikasi sosial media.
“Aih!” Cicit Loka saat melihat akun Farah kembali tidak aktif.
Dengan sebuah pemberitahuan (aktif 1 menit yang lalu). Dan itu cukup membuat Loka sedikit kecewa, karena Farah tidak melihat pesannya sama sekali.
Namun, sebuah stories tampaknya Farah tinggalkan.
[I am okay, guys. Thank you so much, tapi kalian tidak usah khawatir sampai mengirimkan banyak pesan. Notifikasi handphone aku nggak berhenti bunyi, jadi aku off dulu yah? Kapan-kapan aku balik lagi buat ngobrol sama kalian.]
Unggah Farah, di sertai sebuah emot senyum dengan kedua pipi yang merona.
Membuat seulas senyuman tipis terbit di kedua sudut bibir Loka, dengan perasaan campur aduk.
......................
__ADS_1
...Dukung terus karya othor yang satu ini yah!! Jangan lupa beri ulasan bintang 5, sama masukin rak buku kesayangan kalian, agar notifikasi berbunyi kalau Chef Loka gentayangan 😘🥰 ...
Cuyung kalian🍃