My Annoying Chef

My Annoying Chef
Chapter 08


__ADS_3

Suara volume televisi yang cukup kencang terdengar memenuhi salah satu ruangan yang tidak terlalu luas, namun terlihat sangat nyaman dengan barang-barang yang tertata dengan rapi. Farah muncul dari arah dapur, membawa satu toples berisikan kue coklat hasil kreasinya hari ini, lalu meletakkannya di atas meja kaca berukuran kecil yang berada diantara tatanan sofa-sofa berukuran minimalis.


Klek!!


Pintu utama rumah itu terbuka, membuat Farah mengalihkan perhatiannya dengan segera.


Dan disanalah Devi, berdiri di ambang pintu, sembari melepaskan sepatunya, dan menyimpan benda itu di dalam lemari yang tersedia.


"Hai?" Gadis yang berdiri di ambang pintu itu melambaikan tangannya ke arah Farah.


"Aku kira kamu tidak akan datang." Kata Farah kepada temannya.


"Tadinya aku masih mau diam di rumah orang tuaku saja. Tapi sudah bisa aku pastikan, jika petang tiba, … kamu akan menghubungiku sampai aku terlihat seperti buronan!" Tukas Devi. "Telepon dan pesan singkat akan masuk di setiap detiknya." Gadis itu melanjutkan.


Dia berjalan mendekati sofa, lalu menjatuhkan diri tepat di atas sofa ruangan itu, yang terasa begitu nyaman.


Farah menatap temannya, lalu tersenyum sumringah.


"Kamu sudah mulai pinter sekarang. Lagi pula tidak ada salahnya terus tinggal disini, toh tidak ada yang pernah mempermasalahkannya. Bahkan Mami dan Daddy aku minta kamu jagain aku kan?" Ujar Farah, seraya mengingat beberapa momen dimana kedua orang tuanya memberikan kepercayaan penuh kepada Devi.


"Memangnya aku harus bagaimana lagi? Jika tidak melakukan apa yang orang tuamu minta, … maka harus dengan apa aku membalas setiap jasa keluarga kalian? Aku dapat kuliah dengan lancar tanpa harus memikirkan biaya itu karena kalian." Katanya, dengan kedua bola mata yang mulai terpejam.


Sementara Farah hanya terus tersenyum, beringsut mendekat, lalu memeluk tubuh sahabatnya dengan erat. Membuat Devi meronta, berusaha menyingkirkan Farah dari dekapannya.


"Aaaaaaaa, … kamu manja sekali! Sahabat rasa Kakak!" Farah membuat suaranya mirip seperti anak kecil.


"Mana ada Kakak! Orang tua-an kamu daripada aku." Balas Devi.


"Cuma satu bulan, Devi! Ya masih bisa lah di akalin." Dia menatap sahabatnya, lalu menggerakan alis naik-turun, membuat Devi menyentuh seluruh wajah Farah menggunakan telapak tangannya, dan mendorong sampai gadis itu benar-benar menjauh.


"Tetap saja, biasanya yang lahir lebih dulu itu di sebut Kakak!" Devi mendelik.


Sementara Farah hanya tertawa kencang.


"Eh, apaan nih!?" Perhatian Devi beralih pada toples berukuran besar yang ada di atas meja sana.


Dimana didalamnya terdapat kue kering berwarna coklat, dengan kacang mete di atasnya. Terlihat cantik, dan menggiurkan di waktu yang bersamaan.


Plak!!

__ADS_1


Farah menepuk tangan Devi cukup kencang, membuat gadis yang duduk di sampingnya mengaduh dan mengusap-usap bekas pukulan temannya itu.


"Astaga, Farah! Masih pelit aja sampai sekarang. Padahal kita sahabat sejak masih jadi zigot."


"Hih! Zigot apanya?" Farah merengut. "Sana cuci tangan dulu, baru boleh makan! Datang dari luar bukannya cuci kaki sama tangan, … malah males-malesan!"


Devi tersenyum sumringah, sampai memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"Sana cuci tangan pakai sabun!"


"Iya iya iya! Dasar induk semang." Kata Devi.


Dan setelah itu dia bangkit, lalu berjalan ke arah dapur, yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk, karena memang rumah yang Farah tempati tidak terlalu luas, tapi tentu saja sangatlah nyaman saat furniture tertata dengan baik.


Farah menaikkan kedua kakinya, setelah dia meraih toples berisikan kue tadi, dan mulai menikmatinya saat acara yang gadis itu tunggu-tunggu sudah tayang.


Kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman penuh arti, dengan sorot mata berbinar.


Opening yang terlihat luar biasa seperti biasa. Diawali dengan ketiga juri yang disorot, lalu para kontestan, yang salah satu diantara mereka adalah dirinya sendiri. Dimana semua peserta berakting sesuai arahan yang sudah ditentukan. Ada yang melipat kedua tangan di dada dengan ekspresi datar, berakting memotong sayur-sayuran, menaburkan tepuk, sementara Farah memberikan simbol love menggunakan jempol dan jari telunjuk, tak lupa senyuman manis yang gadis itu perlihatkan.


"Luar biasa!" Farah bersorak, dia menepuk tangannya kencang saat merasa bangga pada dirinya sendiri.


Farah melirik sekilas, kemudian tersenyum dan kembali mengarahkan pandangan ke arah televisi sana.


"Aku harus telepon, Daddy!"


Gadis itu bangkit, kemudian berlari kencang ke arah kamar, dimana dia menyimpan handphone nya di sana. Sementara Devi mematung, menatap heran sikap temannya yang berubah drastis.


"Awal-awal overthink. Lah sekarang malah kelihatan seneng banget! Kenapa? Apa Chef Loka kalo di liat dari Deket ganteng yah?" Devi tampak berpikir. "Ah emang dia ganteng, cuma dua aja kekurangannya, jutek sama galak, selebihnya oke." Gadis itu terus meracau.


Dia meraih satu kue coklat di dalam toples, lalu mengunyahnya perlahan-lahan. Merasakan kenikmatan yang terdapat di dalam kue sana. Rasa manis, bercampur sedikit pahit yang Devi ketahui berasal dari bubuk coklat, lalu gurih dan renyah dari kacang mete di atasnya.


"Mmmmm, … nggak salah daftar kontes memasak!" Devi memuji.


Tuuttttt …


Farah kembali dengan handphone di dalam genggaman tangannya.


"Ya sayang?"

__ADS_1


Suara bariton itu langsung menyapa, ketika sambungan telepon segera terhubung.


"Dad, sedang sibuk?" Farah menempelkan benda pipi itu kepada daun telinganya.


"Tidak, kenapa? Hari ini hanya mendatangi satu pertemu saja. Ada apa? Uang jajanmu habis, sayang?" Adam segera bertanya.


Karena Farah selalu menghubunginya jika sesuatu yang sudah darurat terjadi.


Namun, Farah segera menggelengkan kepalanya, seraya mengulum senyum seolah Adam akan melihat apa yang dia lakukan dari kejauhan.


"Daddy ingat kompetisi memasak di salah satu stasiun televisi?"


"Ya, tentu saja. Kenapa memangnya?"


"Coba hidupkan tv nya sekarang, lalu cari siaran itu, dan lihatlah! Dad pasti terkejut." Ujar Farah sambil terus tersenyum-senyum sendiri.


Tidak ada sahutan dari seberang sana dalam waktu yang cukup lama. Hanya terdengar suara gerakan-gerakan samar, dan Farah tahu jika sang ayah sedang menuruti apa yang dia minta.


"Ada apa?" Suara seorang wanita terdengar.


"Farah meminta untuk menghidupkan televisi. Entah apa yang mau dia kasih tunjuk!" Pria bersangkutan menjawab.


Mereka sama-sama diam.


Suara acara yang Farah maksud sudah mulai terdengar. Farah sibuk menatap televisi di hadapannya, dengan handphone yang terus menempel di daun telinga, sampai gadis itu mampu mendengar percakapan antara kedua orang tuanya yang masih kebingungan hingga saat ini.


"Astaga!!" Keduanya bereaksi.


Saat video-video pendek setiap peserta yang sedang memasak di putar. Dimana terdapat Farah didalamnya, tengah berkutik dengan kreasi yang dia hendak hidangkan.


"Kamu mengikuti kontes memasak ini diam-diam?" Sang ibu berteriak.


"Mami senang?"


"Yang benar saja, ibu mana yang tidak bahagia saat melihat anaknya mempunyai bakat yang luar biasa!"


Kedua sudut bibir Farah saling tertarik berlawanan, membuat sebuah senyuman tipis yang begitu manis, dengan raut wajah berbinar yang dia perlihatkan.


Pun dengan Devi. Meskipun dia terus diam, nyatanya rasa kagum tidak dapat gadis itu sembunyikan, hingga membuat mulutnya menganga karena tidak percaya sahabatnya mulai melangkah untuk mewujudkan mimpi.

__ADS_1


__ADS_2