
Keesokan harinya, …
Ada sekitar tujuh peserta yang masuk pressure test, karena kurang memaksimalkan hidangan yang sempat menjadi challenge pada hari sebelumnya. Mereka berjalan memasuki galeri dengan santai, berbalut pakaian dan apron serba hitam, sambil melambaikan tangan ke arah para peserta lolos di tantangan sebelumya, yang juga ikut hadir seperti biasa.
Namun, tidak dengan Farah.
Hari ini gadis itu terlihat sangat murung dan kurang bersemangat. Bahkan tingkat kepercayaan diri Farah semakin menurun, sehingga membuat dirinya selalu menundukan pandangan. Apalagi saat melihat keberadaan Loka disana, hatinya sudah benar-benar sakit oleh perlakuan juri pria tersebut.
Beberapa temannya berusaha menyemangati, berbicara jika apa yang Loka lakukan tidaklah murni dari sikapnya, melainkan sebuah sikap yang harus selalu di perankan. Namun, Farah tetap tidak bisa menerima itu.
“Selamat datang di pressure test, … bagaimana keadaan kalian hari ini?”
Tidak biasanya Loka menyambut kedatangan mereka. Bahkan dengan senyuman samar yang terlihat di kedua sudut bibirnya.
“Harus semangat, Chef!” Ke enam Perseta menjawab secara bersamaan.
Sementara Farah hanya diam tanpa memperlihatkan respon apapun.
Loka menatap Farah untuk beberapa detik, sebelum akhirnya dia kembali berbicara. Dan menjelaskan beberapa hal penting, agar mereka dapat lolos dan menjadi pemenang di pressure test kali ini.
“Jadilah pemenang di setiap tantangan, … ingat! Disini tidak ada yang murni menjadi teman kalian. Kalian semua lawan, dan harus bersaing satu sama lain untuk mendapatkan gelar yang tentunya kalian mau, bukan begitu?” Ali menimpali.
“Siap, Chef!”
“Karena kalian gagal di tantangan kemarin. Maka kalian harus kembali membuat hidangan penutup. Belajarlah dari kesalahan sebelumnya, dan buktikan jika kalian mampu.” Alia kembali memberikan semangat.
Farah tidak bersuara sedikit pun, dia hanya terus diam mendengarkan, sambil terus menghindari kontak mata dengan Loka. Saat merasa pria itu terus mengarahkan pandangan kepada dirinya.
“Kalian boleh kembali berkreasi, … dan waktu memasak, dimulai dari sekarang!” Alia memberikan instruksi.
Semua peserta mengangguk, lalu berlari ke arah pantry untuk memilih dan mengambil bahan-bahan.
“Kenapa anak itu!” Loka menatap Farah yang tampak sangat berbeda dari biasanya.
Sosok gadis periang dan banyak berbicara, tapi kali ini Farah lebih banyak diam.
“Kau terlalu keras, Loka!” Kata Andrew sambil tertawa.
“Apanya? Aku rasa tidak, dia saja yang baperan.” Pria itu mengelak.
Bahkan Loka terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun, atas apa yang ia lakukan satu hari yang lalu.
“Apa yang anda lakukan itu jelas salah. Tidak seharusnya Farah masuk ke pressure test!” Alia ikut tertawa.
Karena dia masih mengira Loka melakukan itu hanya untuk kepentingan syuting semata. Berusaha membuat rating acaranya naik hanya dengan bersikap sedikit arogan kepada salah satu pesertanya.
“Percayalah, Farah mempunyai kemampuan untuk tetap berada di posisi aman. Dia tidak akan pernah terdepak oleh siapapun. Begitu-begitu juga kemampuannya patut di pertimbangkan, … dia memiliki kemampuan yang bagus, ilmu memasak yang baik, hanya saja kurang menonjol.” Ucap Loka sambil tersenyum.
“Ya, aku pikir juga begitu. Farah memiliki peluang yang sangat besar, … dia akan memberikan gebrakan tak terkira. Kemampuan dia memasak tidak perlu dipertanyakan lagi, dia selalu menyelesaikan tantangan dengan baik, … meskipun dia tidak terobsesi menjadi juara di setiap challenge yang kita berikan, tapi sejauh ini Farah memang bagus sekali, saking bagusnya dia masuk pressure test dengan sedikit kecurangan juri.” Andrew menimpali.
Loka mengangguk, mengamini apa yang baru saja rekannya katakan.
***
__ADS_1
Semua kontestan yang ada di studio sana sedikit tertegun. Mereka tidak menyangka apa yang Farah lakukan, sehingga membuat perhatian tertuju kepada gadis itu dengan ekspresi tidak percaya.
“Farah? Kamu keliru!” Luki sedikit berteriak.
Dan itu mampu membuat Farah menoleh.
Gadis itu hanya menatapnya lekat-lekat, mengulum senyum, dan kembali pada apa yang sedang dia kerjakan.
“Apa?” Alia sedikit penasaran.
Dia bahkan segera berjalan menghampiri bench Farah, saat semua temannya yang menunggu di atas terus meracau mengutarakan kata-kata yang cukup membuat tempat itu seketika menjadi bising.
“Oh astaga, kenapa kamu melakukan ini!” Luki tampak frustasi.
Tentu saja, dia menyadari jika gadis yang dia kagumi sudah benar-benar ada di dalam masalah besar. Bahkan Alia sampai berhenti melangkah, ketika melihat apa yang sedang Farah lakukan.
Sebuah panci yang mengeluarkan banyak uap, dan terdapat Spaghetti mentah di dalamnya.
“Farah? Kamu kurang fokus apa bagaimana?” Alia segera bertanya, lalu mengangkat satu tangan, menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Farah tidak menjawab.
“Astaga Farah, waktunya cuma tinggal lima belas menit lagi, … tapi kenapa kamu membuat hidangan yang sangat berbeda. Bahkan keluar dari tema?” Cicit Alia.
Perempuan itu terlihat sedikit kesal.
“Sorry, Chef!”
“Oh my God! What are you doing?” Andrew bereaksi.
Sementara Loka terpaku karenanya.
Ketika semua kontestan yang masuk pressure test berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan penilaian terbaik. Namun, tampaknya tidak dengan Farah. Gadis itu bahkan mengolah pasta sebagai hidangan, bukan kue atau pun desert lainnya yang menjadi tema hari ini.
“Kau membuat pasta?” Lantas Loka langsung bertanya.
Dia bahkan menatap raut sendu Farah lekat-lekat, dan sorot mata lelah jelas dapat pria itu lihat, sehingga menimbulkan rasa bersalah karena mungkin saja dia sudah melakukan hal yang keterlaluan.
“Aku nggak bisa masak hidangan penutup, Chef. Tapi aku akan memberikan hidangan terbaik.” Ujar Farah dengan suara bergetar.
Para juri saling memandang satu sama lain, kemudian mereka pergi, dan memasuki sebuah ruangan untuk berdiskusi.
Waktu demi waktu berlalu, dan bel pun berbunyi dengan sangat nyaring, lalu semua orang yang ada di sana bertepuk tangan, saat juri meminta para kontestan mengangkat tangannya ketika waktu memasak sudah habis.
“Farah? Kamu boleh maju lebih dulu.” Panggil Andrew.
Farah mengangguk, lalu dia membawa sepiring pasta yang dia sajikan sedemikian rupa di atas piring. Dengan udang yang menjadi pelengkap, yang membuat penampilannya begitu ciamik dan sangat menggugah selera.
“Sumpah nggak ngerti sama polah pikir Farah. Kan harusnya bikin hidangan penutup.”
“Kayaknya dia menyabotase dirinya sendiri deh!”
“Bisa jadi, soalnya dia kena semprot terus. Mungkin kena mental!”
__ADS_1
Dan banyak lagi bisikan-bisikan pelan, yang dapat didengar oleh Farah dari arah atas, dimana kontestan yang aman berdiam diri hanya untuk menyaksikan kekacauan yang ada di ruangan pressure test.
Farah meletakan sepiring pasta di meja yang sudah tersedia, lalu ia mundur beberapa langkah.
Loka terdengar menghela nafasnya, lalu dia maju lebih dulu.
“Spaghetti aglio olio, hum?”
Farah mengangguk.
“Iya, Chef.”
Loka mencoba tanpa banyak bicara, karena saat ini dia bingung harus mengatakan apa. Padahal sudah jelas ada banyak bahan kritikan jika dia mau. Setelah itu Alia maju, mencicipi seperti biasa.
“Al dente. Tingkat kematangan yang sangat bagus, seasoning oke, rasa pedasnya pas, belum lagi kamu berikan udang disana yang membuat rasanya komplit, saya suka. Tapi sayang, kamu benar-benar keluar dari konsep awal!” Loka berkomentar.
Farah mengangguk. Dan gadis itu hanya terus diam ketika satu juri lainnya mulai menyantap hidangan yang dia buat sebaik mungkin.
“Ini enak, mungkin kalau tantangannya tentang pasta kamu pasti menang.” Kata Andrew sambil terus mengunyah.
Farah mengangguk lagi.
“Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran kamu? Tidak mungkin jika hanya tidak menguasai tentang desert, kamu sampai melakukan hal seperti ini. Kamu tahu? Seenak apapun masakan kamu, tapi sayangnya kamu keluar dari teman, … bagaimana pun kamu akan kalah!”
“Saya tahu, Chef!” Farah pun menjawab setelah sekian lama bungkam.
“Lalu kenapa kamu melakukan ini? Setidaknya buat apapun yang akan membuat kamu aman. Berhasil atau tidak itu gimana nanti, tapi lakukanlah apa yang seharusnya kamu selesaikan.” Alia tampak kecewa.
“Apa kamu sedang menyabotase diri kamu sendiri, Farah?” Andrew menatap gadis di hadapannya lekat-lekat.
Farah bungkam.
“Katakan, apa yang membuat kamu seperti ini? Karena saat ini kamu benar-benar membuat diri kamu sendiri berada di ujung tanduk.”
Farah sempat menunduk, lalu kemudian mengangkat pandangannya kembali, menatap ketiga Judges bergantian.
“Maaf Chef, tapi sepertinya saya ingin mengakhiri perjalanan saya sampai disini. Terimakasih untuk ilmunya, dan maaf saya tidak bisa menjadi kontestan yang kalian harapkan, terutama Chef Loka. Sekali lagi saya minta maaf.”
Farah membuka apron hitam bertuliskan namanya, dia maju, lalu menyerahkan benda itu kemana Andrew, sebelum akhirnya dia berlari mendekati pintu keluar, dan tubuhnya menghilang sesaat setelah pintu kaca itu tertutup.
Semua orang tampak terkejut.
“Ada apa ini?” Alia bingung. “Apa ini ada di dalam skenario?” Wanita itu bertanya-tanya.
Semua orang tampak kebingungan.
Suasana galeri menjadi sangat riuh, mereka bertanya-tanya dengan sikap yang Farah lakukan. Yang menyerahkan apronnya sebelum keputusan terjadi, lalu keluar tanpa aba-aba.
Dan salah seorang yang paling terkejut adalah Loka. Dia bahkan hanya terus diam sambil menatap pintu keluar. Rasanya ingin sekali mengejar Farah, hanya saja dia harus berusaha untuk tetap profesional.
......................
Hayoloh Chef Loka, bikin anak orang kaya ngambek noh!!
__ADS_1