
“Maaf, Pak. Di depan ada seseorang yang meminta izin untuk masuk, dan menanyakan keberadaan Non, Farah.”
Seorang asisten rumah menghadap kepada Adam, yang saat ini tengah duduk santai di ruang tengah, dengan televisi yang menyala.
“Perempuan?” Pikirannya tertuju kepada Devi, sahabat dari putrinya. “Biarkan dia masuk, dia sudah seperti penghuni tetap rumah ini, Bibi tahu kan?” Lanjut Adam tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
“Bukan, Pak. Bukan Non Devi!”
Adam beralih menatap asisten rumahnya.
“Artis, Pak. Yang suka jadi juri galak itu.” Katanya sambil tersenyum-senyum, apalagi saat membayangkan wajah tampan dari pria itu.
Adam menatap asisten rumahnya lekat-lekat, dengan pikiran menerka-nerka, kemudian mengingat siapa yang ia maksud. Dan ya, dia mengingat seorang artis, dengan profesi juri di salah satu acara, dengan pembawaan ketusnya.
Pria itu? Batinnya.
“Mau apa dia kesini? Dan tau dari mana alamat rumah kita?”
“Beliau hanya menjelaskan ingin bertemu dengan Non Farah saja, Pak. Selebihnya tidak bilang lagi.”
Adam tampak berpikir.
Perasaannya jelas kesal, karena pria itu sudah jelas membuat putrinya menyerah, padahal acara masih berlangsung, dan sudah jelas putrinya sangat berpotensi. Namun, ia memilih untuk menyerah, hanya karena perlakuan dari juri bernama Loka Paramayoga
“Dia memang begitu, atau Farah yang terlalu ambil hati ya? Namanya juga shooting, ya pasti ada yang di buat-buat. Apa putriku yang salah sangka?” Batin Adam bermonolog.
“Jadi tidak diizinkan masuk, Pak? Kalau begitu saya kasih tahu satpam di depan dulu.”
Wanita itu mundur beberapa langkah, berbalik badan, dan segera melangkah pelan menjauh dari ruangan dimana Adam berada. Namun, panggilan Adam membuat sang asisten menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Tidak, biarkan dia masuk!” Ujar Adam.
“Oh, baik Pak Adam.” Ia menganggukan kepala.
Dan setelah itu dia berlari ke arah luar dengan penuh semangat. Tentu saja, kapan lagi dirinya akan bertemu dengan sosok publik figur yang sudah sangat terkenal.
***
[Lo jadi kesini nggak sih? Capek bener nungguin kabar dari lo, Dev. Nge chat aja susah bener, berasa jadi seleb lo sekarang!]
Farah menekan tombol kirim, tentunya dengan perasaan kesal. Karena sang sahabat tidak kunjung datang, padahal beberapa hari sebelumnya mereka sudah memiliki janji untuk bertemu.
Bukan tidak mengerti, Farah tahu betul Devi adalah seorang pekerja keras. Sehingga gadis itu harus kerja banting tulang hanya untuk membantu sang ayah mencukupi ekonomi keluarga. Sudah berapa kali dirinya menawarkan bantuan, tapi tampaknya Devi tidak pernah ingin mendapatkan uluran tangan dari Farah, selain merasa malu karena kebaikan keluarga sahabatnya. Sudut pandang orang-orang juga membuat Devi mempertimbangkan semuanya.
“Kalo butuh duit kenapa nggak bilang aja sih! Kalo dengerin komentar orang kagak bakalan ada habisnya. Seengaknya kita tau kalau kamu itu tulus, masa bodoh dengan mereka yang selalu mengatakan jika kamu mau berteman denganku hanya karena aku memiliki banyak uang, … sementara kamu tidak.” Farah bermonolog.
Lalu dia meletakan handphone miliknya di atas nakas begitu saja, sambil berharap Devi akan segera membalas pesan yang sudah puluhan kali ia kirimkan.
Tok tok tok!!
Tok tok tok!!
Ketukan itu kembali terdengar, dan kali ini bersahutan dengan suara asisten rumah yang memanggil-manggil dirinya.
“Kenapa Bi?”
Farah berteriak.
“Ada tamu.” Katanya.
__ADS_1
Farah diam sebentar, dengan ekspresi bingung. Namun, dengan segera dia menyingkirkan selimut yang menggulung tubuhnya, turun dari atas tempat tidur, lalu kemudian berlari mendekati pintu kamar yang tertutup rapat.
Tidak tahu kenapa, dia terlihat sangat bahagia. Karena yang ada di dalam pikirannya Devi lah yang datang untuk menemui dirinya.
Klek!!
“Kenapa Bi?” Wajahnya berbinar.
“Ada yang menunggu di depan.”
Farah segera mengangguk, dan tanpa banyak bertanya dia berlari menjauh dari area kamar miliknya, meninggalkan sang asisten rumah, dengan raut bingung. Bahkan satu tangannya terangkat, seperti ingin menahan Farah dan mengatakan hal yang belum sempat dia ucapkan.
“Non!”
“Ah aku tahu itu Devi, Bi.” Balas Farah dengan suara berteriak.
Gadis itu berlari dengan keadaan riang.
Samar-samar suara obrolan ayahnya terdengar di area ruang tamu. Sehingga Farah terus mendekat, dengan perasaan tidak sabar, karena di dalam pikirannya, sang sahabat lah yang datang untuk saling melepas rindu setelah beberapa Minggu tidak bertemu.
Deg!!
Tubuhnya membeku seketika, saat seorang pria menoleh, dan wajah itulah yang Farah hindari. Sehingga dia selalu menutup sosial medianya, karena tahu Loka mulai terus mengangguk, dan itu cukup membuat semua ingatan pahitnya kembali berputar-putar di dalam isi kepala.
Dan itu cukup mengganggu, sehingga Farah memilih untuk mendiamkan Loka, dari pada harus banyak berbasa-basi.
Pria tampan itu, dengan setelan pakaian santainya. Kaos putih, jaket kulit, dengan celana jeans hitam. Jauh dari kesan mewah, seperti halnya yang selalu Loka pakai jika sedang menjalankan tugas sebagai salah satu juri di acara memasak.
Tidak ada kemeja, atau setelah jas seperti biasanya. Bahkan rambut pria itu pun tidak di tata serapih biasanya.
__ADS_1
“Oh, Hay?” Dia menyapa dengan senyuman manis yang di perlihatkan.
Farah bungkam, seraya menatap dua pria yang duduk saling berdekatan itu silih berganti.