
“Hey Farah, kamu tahu tidak? Aku ahli lho membuat hidangan penutup.”
Pria yang akrab disapa Luki itu berbisik, disela penjelasan yang sedang Alia berikan.
Farah menoleh sekilas, menatap pria yang duduk tidak jauh darinya, kemudian tersenyum sambil menganggukan kepala.
“Aku bersungguh-sungguh. Aku bisa mengajarimu kalau kau mau.”
“Hmmm, … mungkin kapan-kapan aku mau minta di ajarin. Sekalian coba hidangan penutup buatan kamu.”
Luki mengangguk dengan raut wajah berbinar, apalagi saat Farah terus tersenyum. Sehingga wajah cantiknya bertambah berkali-kali lipat, dan itu sungguh membuat siapapun yang melihatnya berdebar-debar. Pun dengan Loka, jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena senang, melainkan kesal karena melihat interaksi di antara dua kontestan itu.
“Mereka itu sedang apa?” Baginya bertanya-tanya.
“Kalian paham? Hidangan penutup itu identik dengan yang manis-manis segar. Sebenarnya tidak terlalu sulit, … tidak gampang juga, karena kalian harus bisa memilih bahan agar menjadi satu-kesatuan. Tahu maksudnya apa?”
“Tahu, Chef!" Semua kontestan berteriak.
“Coba sebutkan satu contoh!” Andrew ikut berbicara setelah sekian lama diam dan menyimak.
Dia mengedarkan pandangan, menatap semua peserta pada malam ini dengan tampilan yang tentunya berbeda. Tidak ada apron, tidak ada riasan wajah, bahkan mereka cenderung memakai pakaian tidur. Jelas, karena acara yang diadakan hanya untuk memberikan bimbingan dan materi, bukan acara makan malam romantis, sehingga tidak mereka harus berpenampilan menarik juga memukau.
“Memilih komposisi dengan tepat, Chef. Karena kalau tidak, rasa manis dari hidangan itu sendiri akan too much. Hidangan penutup ada banyak jenisnya, dan yang saya gambarkan adalah sebuah ice cream rasa coklat dengan buah-buahan tambahan yang tentunya memiliki rasa yang segar, seperti strawberry, jeruk atau kiwi.” Luki mengutarakan pendapatnya.
Alia tersenyum.
“Saya setuju. Dan jika kamu memilih coklat untuk dijadikan ice cream. Maka ambilah bahan coklat yang masih menyisakan rasa pahit, … agar tidak terlalu manis, dan semuanya dapat menyatu.”
Semua kontestan mengangguk.
“Keren!” Farah menepuk-nepuk pundaknya.
Dan tanpa merasa canggung pria itu langsung merangkul Farah.
Yang seketika membuat Loka mempertajam tatapannya. Entah kenapa dia merasa tidak terima, apalagi saat melihat Farah tidak protes atau menolak sedikit pun. Sebuah rasa marah tiba-tiba muncul, walaupun sudah pasti Loka tidak pantas mempunyai perasaan tersebut, karena memang mereka tidak ada hubungan apapun.
Jangankan hubungan, untuk kenal dekat saja seperti sangat sulit. Alasannya apa? Entahlah karena hanya Loka yang tahu.
“Baik kita bahas soal membuat cake dan es krim.”
Alia pun kembali menjelaskan beberapa hal, yang disambut baik oleh semua peserta. Mereka mendengarkan dan memperhatikan dengan baik. Farah bahkan terlihat begitu antusias, mencoba memahami setiap penjelasan Alia dengan wajah berbinar.
Namun, berbeda dengan Loka. Dia hanya diam mendudukan diri di kursi yang tersedia, melipat kedua tangannya di dada, sambil terus memperhatikan tingkah Farah juga teman pria di sampingnya.
***
Keesokan harinya.
Semua peserta sudah berada di studio memasak. Mereka bersiap dengan tantangan yang sebelumnya sudah Alia beritahukan materi dan metode apa saja yang harus dipakai.
Dari campuran bahan, takaran, metode memanggang jika mereka hendak membuat sebuah cakes. Dan Alia juga memberikan sedikit ilmu bagaimana membuat ice cream yang baik dan benar.
“Kalian sudah siap?”
Alia mengedarkan pandangannya, menatap setiap peserta dengan bibir tersenyum.
“Siap, Chef!”
__ADS_1
“Baik, buatlah hidangan penutup versi kalian. Yang pastinya selain enak, … harus menarik.”
“Hah lucu sekali, kalau tampilannya menarik tapi rasanya tidak enak!” Loka tersenyum miring.
“Yaudah, … kalian boleh mulai membuat dessert dari, … sekarang!!” Andrew berteriak, berbarengan dengan suara bel yang berbunyi nyaring.
Membuat semua peserta berlarian ke arah pantry untuk membawa bahan-bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan tantangan pada hari ini.
“Hey dengar! Saya mau hidangan super istimewa hari ini. Semuanya harus sempurna, tidak ada pengecualian, kalian sudah ada di lima belas besar, tidak mungkin jika hanya membuat es krim rasa coklat saja.” Loka berteriak cukup kencang.
Membuat kontestan yang masih sibuk berlari kesana dan kemari berteriak tak kalah kencangnya untuk menjawab ucapan salah satu Chef Judges. Namun, tidak dengan Farah, gadis itu berusaha tidak memperdulikan Loka, karena menurutnya pria itu terus berusaha mengintimidasinya. Dan kini Farah hanya cukup fokus, agar tidak terkecoh oleh kata-kata Loka.
Waktu terus bergulir dan itu membuat para kontestan tak hentinya menatap ke arah alat pengukur waktu. Suara obrolan, mesin-mesin yang dipakai terus terdengar saling bersahutan, membuat ruangan itu terdengar sedikit bising.
Dan setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Juri segera meminta para peserta untuk berhenti, tentunya setelah menghitung mundur seperti biasa.
Mereka semua mengikat kedua tangannya.
Juri memanggil para kontestan satu-persatu, meminta mereka membawa hidangan ke depan untuk di nilai seperti biasa. Dimulai dari tampilan, lalu rasa, dan konsep dari hidangan itu sendiri. Tidak jarang mereka yang lolos dengan komentar baik, dan banyak juga dari mereka yang mendapatkan komentar buruk, bahkan Andrew sampai mengeluarkan hidangan salah satu kontestan dari dalam mulutnya.
Dan itu cukup buruk, membuat Farah sedikit ketakutan. Apalagi kali ini ia tidak dapat memaksimalkan kemampuannya. Jelas, karena Farah tidak terlalu menguasai olahan untuk hidangan penutup.
“Tidak Farah, jangan berpikiran buruk! Atau sesuatu akan terjadi.” Dia berbicara di dalam hatinya, dengan kedua bola mata yang tertutup.
Gadis itu mencoba mengatur nafasnya, menghirup dan menghembuskan dengan teratur, berusaha membuat rasa paniknya sirna, meskipun pada akhirnya Farah tetap merasakan rasa takut dan panik saat satu-persatu kontestan mulai di meninggalkan bench.
“Baik, selanjutnya, … Farah!” Panggil Andrew.
Deg!!
Farah terhenyak.
Farah mengangguk, lalu dia membawa hidangan miliknya ke depan, dan meletakkannya di atas meja yang tersedia.
Seperti biasa, Loka maju lebih dulu daripada kedua rekan jurinya. Dia berjalan menatap hidangan yang Farah buat, lalu beralih pada wajah gadis itu. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi kesal, apalagi ketika ingatannya berputar, saat Farah dan teman prianya bercengkrama dengan sangat akrab.
“Apa ini?”
Loka melihat satu piring berwarna hitam, dengan tiga adonan berbentuk bulat merah muda berbalut tepung berwarna putih, tidak lupa hiasan coklat cair diatasnya dan sedikit potongan strawberry, sehingga membuatnya menjadi sangat cantik.
“Ichigo Daifuku, Chef.” Jelas Farah.
Dia mulai merasakan sesuatu yang tidak enak, apalagi saat melihat tatapan Loka. Padahal pembawaan pria itu memang sedikit dingin dan ketus, tapi kali ini Farah merasakan hal berbeda.
“Moci?”
“Iya, Chef.”
Loka membungkuk untuk membawa piring, tak lupa dengan garpu dan pisau, sebelum akhirnya dia memindahkan hidangan penutup yang dibuat Farah ke atas piring kecil di hadapannya, dan tidak lupa membagi moci itu menjadi dua bagian.
Dan terlihatlah apa yang ada di dalamnya, satu buah strawberry utuh, dengan lelehan coklat.
Loka meletakan garpu dan pisau di genggamannya begitu saja, lalu meraih moci itu dengan tangan. Dan dengan sekali suapan makanan itu masuk ke dalam mulut Loka.
Awalnya terlihat biasa saja, tapi setelah mengunyah beberapa kali Loka diam.
Keadaan menjadi semakin tegang.
__ADS_1
“Kamu memasukan garam?” Loka bertanya lebih dulu.
Farah mengangguk.
“Sedikit, Chef. Untuk mengimbangi rasa manis dari coklatnya itu sendiri.”
Loka tidak menjawab, dia kembali membungkuk, lalu membawa tisu, dan mengeluarkan moci itu dari mulutnya.
“Oh God!” Beberapa kontestan bereaksi.
“Sedikit katamu? Sedikit itu bagaimana? Satu sendok? Dua sendok? Atau tiga sendok?” Sentak Loka dengan tatapan tajam.
Farah tidak menjawab.
“Kamu ini niat nggak ikutan acara ini? Kenapa saya lihat kamu sedang main-main yah? Lima belas besar lho ini! Masa moci rasanya asin. Di campur manis dan asam pulak, kan jadinya bikin orang mual!” Loka memaki.
Dia melemparkan tisu itu kedalam tong sampah, dan membiarkan dua rekannya mencoba hidangan yang Farah berikan.
“Ini aman, Loka!” Alia bereaksi, dia menatap rekannya yang tampak memasang ekspresi wajah masam.
“Asinnya, pas.” Andrew ikut bereaksi.
“Oh ya? Berarti itu kesalah dia! Mengaduk agar semuanya tercampur dengan benar saja tidak becus. Tidak usah banyak basa-basi, … kamu masuk pressure test!!” Tegas Loka dengan mimik wajah marah.
“Tapi, Chef. Kata Chef Alia dan Chef Andrew hidangan saya tidak terlalu buruk."
“Jawab terus, jawab! Saya sampai muak mendapatkan sangkalan dari kamu. Masuk pressure test atau mau langsung pulang juga silahkan.” Loka mendelik.
Mata Farah mulai terlihat memerah dan berkaca-kaca.
“Emmm, … tapi memang ada beberapa bagian yang rasa asinnya sedikit berlebihan.” Alia menatap Andrew, lalu beralih pada Loka yang terlihat sangat kesal.
“Mungkin itu bagianmu, ya? Kalau aku aman.”
Andrew melahap habis moci miliknya.
“Benar bukan? Dia tidak becus. Tidak pantas ada di lima belas besar ini.”
Semua orang diam.
“Makanya kalau orang sedang memberi materi itu diam, di dengarkan. Bukan sibuk bergosip!”
“Ya saya juga melihat semalam kamu lebih banyak berbincang daripada memperhatikan materi yang saya berikan.”
Alia menyahut, dia mengira jika Loka sedang berakting untuk membuat suasana sedikit lebih seru.
“You're so f*cking stupid!!” Loka berteriak, seraya mengarahkan jari telunjuknya kepada Farah.
Sehingga membuat gadis itu tidak lagi dapat membendung air matanya. Ucapan Loka benar-benar membuat perasaan dan hati Farah hancur, bagaimana tidak? Seumur hidupnya Farah tidak pernah diperlakukan buruk, baik itu teman, maupun kedua orang tuanya, ia benar-benar diperlakukan layaknya seorang putri.
Namun, Loka? Dia berbicara dengan nada tinggi, bahkan menggunakan kata-kata kasar. Dan itu benar-benar membuat batin Farah terguncang, sehingga isak tangis pun tak dapat dia sembunyikan.
......................
😱😱😱😱
Kenalan dulu nic sama Chef Loka~
__ADS_1