
Adam langsung berlari, ketika mendapat kabar jika Farah dan para ajudannya sudah tiba. Rasa khawatir langsung saja menyeruak, apalagi saat mendengar keadaan gadis itu yang tidak baik-baik saja. Bahkan orang-orang kepercayaannya terus memberi kabar, jika Farah tak hentinya menangis di sepanjang perjalanan menuju rumah.
“Dimana putriku?” Tanya Adam saat menemukan salah satu orang kepercayaannya, yang baru saja tiba setelah pergi untuk menjemput Farah.
“Dad!”
Teriakan itu langsung terdengar, tak lama setelah pintu mobil terbuka. Dan munculah Farah, dengan wajah sembab dan hidung yang sangat merah. Dia berlari kencang ke arah Adam dengan tangisan yang kembali terdengar.
Brugh!!
Benturan tubuh keduanya terdengar nyaring.
“I'm sorry, Dad!” Tangisannya semakin pecah.
Adam membalas pelukan putrinya. Dia membungkuk, dan menghujani puncak kepada Farah dengan banyak kecupan penuh cinta dan kasih.
“Maaf, Farah nggak bisa banggain Daddy sama Mama.”
“Tidak apa-apa, kamu hebat sayang. Kamu lolos sampai lima belas besar, … bukankan perjalanan sejauh itu sudah membuktikan bagaimana kemampuan kamu? Daddy bangga sayang, Mama juga!” Katanya sambil mengusap-usap punggung Farah.
“I'm so tired!”
“Ya, Daddy tahu.” Adam mengangguk.
Mata Dan terpejam, menekan sebuah rasa yang cukup tidak nyaman di dalam dada sana. Apalagi saat melihat Farah yang tampak menangis.
“Baiklah ayo kita masuk, mungkin sebentar lagi Mama akan kembali.” Dia menggiring putrinya masuk ke dalam rumah.
Diikuti satu seorang ajudan yang membawa koper milik Farah.
***
Anne turun dari mobil, kemudian berjalan dengan langkah cepat, setelah mendapatkan kabar jika Farah kini berada di rumah mereka. Pakaian yang sangat rapi, makeup tebal dan rambut sanggulan khas ibu-ibu sosialita, dengan tangan kanan yang menenteng tas bermerek bernilai puluhan juta.
__ADS_1
“Sayang, dimana putriku?” Tanya Anne ketika melihat suaminya keluar dari ruang kerja.
Adam menoleh, lalu melepaskan kacamata baca yang bertengger di tulang hidungnya.
“Ada di kamarnya, dia sedang butuh waktu sendiri. Dari tadi aku minta Bibi bawakan makanan selalu kembali dengan nampan yang masih terisi penuh.” Adam menjelaskan.
Dan itu membuat kepanikan Anne semakin menjadi-jadi.
Tanpa banyak menunggu, Anne langsung berlari kencang, menuju kamar Farah yang terletak di area taman belakang.
Klek!
Tanpa mengetuk pintu Anne langsung masuk ke dalam ruangan sana, sehingga kini ia ada di dalam kamar yang terlihat sedikit temaram. Dan disanalah Farah, berbaring miring, dengan pandangan yang tertuju pada jendela yang tertutup tirai.
“Sayang? Are you okay?” Anne mendekat, lalu meletakan tasnya di atas nakas dengan hati-hati.
Wanita itu duduk di tepi ranjang, lalu menyentuh pundak Farah, yang seketika membuat gadis itu menoleh.
“Mom!” Panggilnya dengan wajah sebab, dan hidung yang sangat merah.
“Kenapa? Kamu hampir tidak pernah manangis. Lalu apa yang membuat kamu seperti ini?” Anne mengusap-usap kepalanya.
Farah menggelengkan kepala.
“Aku mengundurkan diri di Chef master. Maaf aku belum bisa banggain Mama sama Daddy! Maaf karena aku mulai membuktikan apa kata orang-orang di luar sana. Kalau aku ini anak yang nggak berprestasi, aku bisa melalui semuanya hanya karena uang kalian, maafkan aku, … karena setelah ini mungkin Mama dan Daddy akan mendapat gunjingan juga.” Farah dengan segala pikiran dan ketakutannya.
Anne tidak berbicara lagi, dia hanya terus mengusap rambut putrinya, dan membiarkan Farah untuk mengisi. Setidaknya itu lebih baik, daripada Farah memendam semuanya dan seolah semuanya baik-baik saja.
“Mama kecewa nggak sama aku? Aku gagal di lima belas besar?”
“Kenapa harus kecewa? Putri Mama ini mengalahkan banyak kontestan untuk sampai disana? Jika yang kamu maksud adalah tentang pengunduran diri ini. Setiap manusia boleh lelah, dan boleh memilih jalannya sendiri. Jika kamu memilih untuk berhenti, tidak apa-apa, itu pilihan Farah. Dan Mama menghargai apapun keputusan kamu, sayang!” Dengan penuh kelembutan Anne berbicara.
“Jadi tidak apa-apa kalau aku pengangguran lagi? Dan hanya memiliki kegiatan menghambur-hamburkan uang Mama dan Daddy?” Dia mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, seraya mengusap kedua pipi yang basa.
__ADS_1
Anne mengangguk, lalu tersenyum samar.
“Bukannya itu kegiatan yang tidak pernah bisa kamu tinggalkan?”
Farah sedikit tersenyum, lalu memeluk tubuh ibunya kembali.
Sementara Adam memperhatikan dari jarak yang cukup jauh. Dia berdiri di ambang pintu masuk, menatap istri dan putri semata wayangnya dengan perasaan yang sangat luar biasa.
“Kenapa kamu terus berdiri disana? Kemarilah, tenangkan putrimu ini!” Tukas Anne.
Adam mengulum senyum, kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk.
“Tadi Farah tantrum, dan aku sangat sulit untuk membuatnya tenang.” Ujar Adam seraya memeluk tubuh Anne dan Farah.
Tak lupa pria itu mendaratkan ciuman di puncak kepada dua wanita berbeda usia itu bergantian.
“Kamu payah, sayang! Padahal berikan saja black card milikmu. Maka dengan cepat tantrumnya akan berhenti.”
“Mama!” Farah merengek.
“Oh iya iya. Maaf!” Anne semakin mengeratkan pelukannya.
“Sudah aku tawarkan, … tapi katanya dia sedang lelah, dan tidak ingin pergi kemanapun.” Jelas Adam.
Lalu Anne mendorong pundak Farah, sampai keadaan mereka sedikit berjarak, dan mampu menatap satu sama lain.
“Benarkah? Kamu tidak ingin berbelanja?”
“Hu'um.” Farah mengangguk.
“Oh astaga, berarti keadaan kamu amat sangat tidak baik yah? Sampai di tawarin belanja saja tidak mau.” Dia kembali menarik tubuh Farah, dan memeluknya seperti semula.
......................
__ADS_1
Ayo di share di share, biar pada tahu di sini ada Chef yang paling nyebelin, tapi ganteng🤪
Like, komen, sama sawerannya seperti biasaaa💃